Cerita Terbaru

Life is like a car. It keeps moving forward while leaving others behind.

Berubah dari jobless ke pegawai 9 to 6, berubah dari jomblo ke punya pacar (atau sebaliknya), berubah dari rambut pixie ke rambut sepinggang, berubah dari penyuka warna hitam ke warna pink, dan lain-lain.

Macam hidup saya ini. Perubahan juga terjadi sebulan belakangan.

Yang terdasar tentunya setelah saya berhenti dari perusahaan sebelumnya dan pindah ke kota baru. Yang tadinya Senin-Jumat diisi dengan jam kerja yang sangat panjang dengan deretan jadwal miting yang berjibaku dengan rikues a i u e o dari atasan setiap hari, tiba-tiba lenyap.

Waktu istirahat 1 jam yang sangat berharga yang biasanya diisi dengan duduk santai, ngobrol ngarul ngidul menertawakan kesialan hari itu di ruang miting, atau rencana pengen kesana kemari untuk liburan, tiba-tiba nggak ada lagi.

Kesenengan mesen gofood buat beli ayam keprabon atau kopi segaleh tiap jam 3 sore, udah nggak ada juga.

Kangen nggak? Tentu saja. Cuman, sebagai manusia yang harus terus berevolusi dan bergerak, kekangenan di atas diupayakan nggak menjadi rantai di mata kaki yang bikin nggak move on, mengutip istilah masa kini.

Berhasil belum? Belum. Masih banyak keanehan dengan ritme sekarang dan cara memandang hal-hal di depan mata yang perlu diubah. Atau sih, selama ini saya anggap ini menambah sudut pandang baru di otak saya aja. Supaya rasanya lebih enteng.

Kalau dulu melihat A dari sisi bujur kanan, kali ini akan saya coba dari bujur kiri belakang. Sama aja kok pemandangan akhirnya, cuma beda posisi aja.

Termasuk juga soal interaksi. Pertemuan dengan teman beraneka jenis pun sudah harus digantikan dengan perjumpaan dengan orang yang kurang lebih sama. Mungkin faktor demografis dan lingkungan terang membuat penduduk di dua kota berbeda, punya pembawaan yang jelas beda. Terang aja yang di Jakarta jauh lebih “gila” karena model kota yang demikian kerasnya. Yang di daerah, cenderung lebih kalem.

Di luar itu, masih banyak perubahan lain yang masih mengganggu isi kepala. Munculnya bisa di mana aja. Pas di jalan, pas ngadem di wc, pas makan, paling sering sebelum tidur seperti sekarang.

Tapi pelan-pelan saja kita benahi. Semua ada waktunya. Nanti juga ketemu jalannya.

Advertisements

Ubud, Nusa Penida, Seminyak dan Sekitarnya

Selamat datang di trip pertama pasca berakhirnya pekerjaan terakhir.

Begitu duduk di pesawat untuk penerbangan ke Bali tanggal 29 Oktober pagi, yang terpikirkan hanya: “Wohoo! This is my first time traveling with no laptop for the past 3 years!” 

Menyambung kenikmatan ini, saya juga bisa menghabiskan liburan tanpa kebingungan mengecek email tiap pagi, apalagi kerja di hari Sabtu dan Minggu pagi.

S U R G A! 

Untuk mendokumentasikan perjalanan kami, kayaknya media paling bagus di blog aja. Sebab, postingan di Instagram kudu milah milih dan crop sana sini. Maksimal foto per pos pun cuma 10 foto, dengan ukuran yang kudu serupa dalam satu postingan. Dengan jumlah total foto di HP saya sejumlah 500++, sungguh ini kegiatan yang cukup… peer.

Belum lagi ngedit warna. Mengingat saya kurang telaten memilih dan mengedit, foto-foto di sini pun disajikan tanpa atau dengan editan sekenanya. (Ada nggak sih platform untuk bulky edit foto dengan satu settingan warna / auto color gitu? Mau rekomendasinya dong kalau ada. Haha)

Ok. Biar seru (plus nggak perlu nulis terlalu banyak – haha), saya rangkum tiap tempat dalam tiga kata yang menggambarkan perjalanan kami. Kayaknya ada lokasi yang ingin saya tulis terpisah sih, yakni Nusa Penida. Tapi untuk sementara, demikian dulu gambar-gambarnya!

Semua perjalanan ini dilakukan selama 7 hari 6 malam. Cukup banget untuk liburan lega dan tenang…

Ubud

Firefly Eco Lodge

  • Menantang
  • Nyamuk
  • Sawah

Hubud Coworking Space

  • Tenang
  • Kerja
  • Zen

Nusa Penida

  • BAGUS banget!
  • Mabok
  • Manjat

Seminyak dan sekitarnya 

  • Mantai
  • Ngumpul
  • Pesta

Tak Disangka

Alkisah kadang hidup ini nggak ketebak. Seringkali nggak tertebak, tepatnya.

Kadang hal yang kamu pikir baik ternyata tidak berakhir baik. Begitu pula sebaliknya. Hal yang kamu pikir musibah, mungkin suatu hari menjadi berkah.

Apa yang terjadi satu bulan terakhir ini adalah salah satu momen “alkisah” itu terjadi.

Siapa sangka semua yang berawal baik kemudian berakhir sangat tidak baik.

Tapi, mengenang kembali kata-kata salah seorang teman:

Nggak usah dipikirin yang jeleknya. Ambil aja baik-baiknya untuk bekal langkah berikutnya.

Betul juga.

Seburuk-buruknya kejadian, pasti ada baik yang bisa dipetik. Tak gampang, tapi bisa.

Besarkan porsi yang baik itu supaya ia mengikis yang tak baik.

Sama kayak obat. Pahit tapi menyembuhkan.

Jadi, saya mau berenang dan nonton saja!

Fine morning

Octonote

You don’t tell people to fall in love.

You don’t tell people to fall out of love.

Yes, you. Human, you.

Salah Potong Rambut (Selesai)

Aside

Melanjutkan cerita pertama…

Karena menerima respon positip pada salah potong rambut jilid satu, saya pun happy. Saking happynya, motivasi untuk mempertahankan model rambut ini semakin besar.

Rambut saya ini cepat panjang. Jadi, sekitar 3 minggu setelah potong pertama, bentuk rambut saya sudah terlihat beda, cenderung kurang jelas. Bawahnya udah nongol-nongol ke luar (karena dekat bahu). Bahkan, sudah bisa diiket. Intinya, panjang.

Jadi, saya mau potong rambut lagi!

Kali ini, saya berniat mencoba salon lain yang harganya di bawah 250rb. Pagi-pagi di hari Minggu, sambil pake payung karena hujan, saya mampir ke salon inceran saya, yang KAYAKNYA lebih murah, karena tokonya lebih kecil. Sayangnya, salonnya tutup.

Jadi, karena hasrat potong rambut ini juga menggebu-gebu, saya balik lagi ke salon si ibu, yang letaknya nggak jauh juga dari salon yang tutup.

Hari itu, salon agak rame. Pas juga, ada si ibu yang kebetulan lagi nggak pegang kepala siapa-siapa. Begitu masuk, ibunya senyum-senyum. Saya langsung dipegang si ibu. “Yes, masih inget,” pikir saya. Abis itu, saya digiring untuk cuci rambut. Dan, dimulailah sesi pemotongan rambut.

Seperti biasa, modal saya tetep hape dan gerakan tangan. Foto siapa yang saya kasih? Tentu saja Marissa Anita lagi. Eh, kali ini plus hasil potongan rambut saya yang saya pasang di blog pertama saya itu. Si ibu manggut-manggut. Saya menyerahkan kepala saya pada si ibu.

Krecek krecek…

Ibu mulai motong. Eh, tampak pendek potongannya.

Kecrek kecrek…

Eh bener lebih pendek dari seharusnya. Tapi si ibu masih lanjut motong. Karena anaknya pasrah, saya diem aja sambil ngeliatin. Walopun, hati mulai merasa terjadi kesalahan lagi pada pemotongan kali ini.

Setelah selesai potong, rambut dikeringkan. Selesai dikeringin, dirapiin alias digunting, lagi.

DAN…

Tentu saya kali ini hasilnya udah beda arah dari contoh. Kali ini, hasil saya lebih mirip @meiranastasia. Pendek kiri kanan belakang.

Saya mabok betulan setelah potongan kali ini. Pendek banget! Terasa seperti bro daripada sis. Ingin rasanya pakai hoodie setiap hari.

Lagi-lagi, untung ya kan teman-teman saya baik. Respon setelah liat rambut saya masih nggak menyakitkan hati:

  1. Ini salon kemarin? Kependekan? Kalau kependekan sekali, berarti kurang teliti. Kalau dua kali, berarti emang selalu kependekan dari request (bener juga ini haha).
  2. Bagus kok bagus. Cocok. Potong di mana?
  3. Eh kan nggak pernah model rambut begini. Lucu juga!
  4. Itu aja, cari kupluk. Atau cari gaya pin up hair….

Tu kan temen-temen saya pun sebenernya tak bisa berkata apa-apa. Tapi respon terakhir itu saya amanahkan, sehari setelahnya dan hari-hari seterusnya. Karena, rambut boleh salah potong. Tapi, hidup harus terus berjalan benar.

Jadi, demi hari yang tetap baik…

Satu, saya langsung beli scarf rambut.

Dua, mantengin Youtube dan Pinterest tentang cara masang scarf di rambut, atau “how to hide your wrong haircut”, atau “scarf for short hair”, dan keywords sejenisnya. 

Tiga, saya pasang headband scarf ke kantor. Rencananya, sebulan ini saya akan pakai scarf sampai terlihat seperti sis lagi… 😄.

1535649283414.JPEG

Foto ketiga, salah satu inspirasi Pinterest.

Cerita salah potong rambut, SELESAI.

PS: Apakah saya harus mulai mencari salon langganan?