Hello from Dubidu

img_6771

Life is a box of chocolate. You never know what you’re gonna get.

Life has been a sweet treat for me with all its surprising taste.
To describe the chocolate taste in words might be hard. But to tell them in sentences is another story. And I choose the latter.

Cheers,
V!

Advertisements

Recent Posts

Salah Potong Rambut

Saya paling santai, atau cuek, untuk urusan mencari salon untuk potong rambut. Beda dengan teman-teman yang punya satu salon langganan yang dipercaya untuk memegang kepalanya, saya bisa pergi ke salon mana saja. Yang penting: ada jasa gunting rambut cewek, dan harganya efordebel, tidak berlebihan.

Jaman SMA, saya dan teman saya bisa menyambangi salon di pinggiran kota supaya dapat salon murah. Alhasil, kita dapet salon dengan biaya potong kurang dari 30rb. Pernah juga sesekali ke salon agak mahal, sekitar 75rb (iya jaman itu, di kampung, potong rambut 75rb itu mahal haha). Beberapa kali juga saya minta teman saya yang waktu itu baru mengenyam kursus potong rambut untuk memotong rambut atau sekedar poni saya. Saya sih berani-berani aja, soalnya gratis. Haha.

Hasilnya? Kadang bagus, kadang sesuai ekspektasi, seringkali meleset dari ekspektasi. Tapi, saya ndak menyalahkan salon. Setelah potong rambut, saya dan teman lebih sering menertawakan imajinasi saya yang berharap hasil potongan rambut baru bisa membuat saya terlihat seperti model majalah yang saya jadikan contoh. Padahal, ya kali model rambut di Agnes Monica bisa sama jatuhnya kalau saya yang potong (iya saya beneran pernah potong rambut sambil ngeliatin model rambut Agmon waktu jaman lagu Tak Ada Logika). Haha!

Kebiasaan potong rambut ‘ngasal’ ini terus berlanjut. Waktu kuliah dan kerja, saya pun ndak punya salon langganan. Pernah di Johnny Andrean yang bau samponya khas itu, pernah di Yoppie, pernah di dekat kosan, saon di apartemen, pernah juga ke salon mahal yang sekali potong hampir setengah juta. Tapi ya sekali aja tu saya datang ke yang mahal haha. Sama seperti alasan waktu SMA, saya ndak merasa perlu buang banyak uang untuk potong rambut. Toh kalau panjang, ya hasilnya itu-itu lagi. Cakep abis potong cuma sementara, jadi ndak perlu bayar mahal-mahal. :D.

Sampai di Bangkok pun, saya tetap berantakan dengan urusan salon.

Suatu hari, saya gemes banget dengan panjang rambut saya yang nanggung. Di saat yang sama, saya melihat postingan idola saya bernama Marissa Anita (iya yang presenter TV itu), dengan potongan rambut yang asik banget. Pendek, hitam, segar, sambil ketawa lagi fotonya. Sejak melihat foto itu, saya terus berpikir: saya mau gunting rambut kayak itu! Siapa tau abis itu pas ketawa bisa secakep Marissa Anita. Yah saya juga mikir juga sih: mumpung lagi jauh dari siapa-siapa, apes-apes kalau guntingan saya gagal, saya toh ndak ketemu siapa-siapa di Bangkok. Jadi ndak papa deh.

Sejak hari itu, saya sungguh termotivasi untuk potong rambut. Saya rajin ngeliatin kiri kanan setiap kali menuju dan pulang dari kantor untuk mencari salon. Sesekali browsing juga cari harga potong rambut di Bangkok. Ternyata, potong rambut di sini mahal juga. Paling murah sekitar 150rb+. Buat saya, itu mahal. Huh.

Tibalah satu Minggu ketika saya benar-benar ndak tahan pengen gunting rambut. Eh kebetulan, ada salon nyempil di sudut di kompleks supermarket dekat tempat tinggal saya. Harganya 500 Baht, atau sekitar 250rb. Mahal sih. Cuman namanya pengen ya, ya udah.

Berbekal foto Marissa di HP, dan gerakan tangan menunjuk hape, rambut, hape dan rambut, ibu tukang gunting yang berperawakan sekitar hampir 40 tahun pun menggunting rambut saya.

Setelah selesai, jeng jeng! Apakah rambut saya tampak seperti Marissa? Tentu tidak! Rambut Marissa kayaknya tipis, saya agak tebal (sotoy). Rambut Marissa lurus dan berwarna, saya gelombang dan berwarna cat luntur. Lalu, apakah kalau saya senyum dengan rambut baru, saya tampak seperti Marissa yang tersenyum? Tentu saja tidak! Hahaha.

Intinya, potongan rambut saya KEPENDEKAN. Lebih pendek dari contoh foto Marissa. Saya stress habis potong. Chat teman sana sini. Berharap diberikan secercah kepercayaan diri.

Untungnya, teman-teman kantor saya suportif. Beberapa kaget liat rambut saya yang tetiba pendek. Tetapi, dalam nama suportifitas, mereka pun bilang : ah tapi bagus kok, cocok, gunting di mana? Kamu tampak segar. Sebagai anak yang mudah terpengaruh lingkungan dan pendapat orang, saya pun mulai menerima rambut kependekan saya.

Setelah beberapa minggu, rambut kependekan saya menunjukkan kebaikan. Bentuknya mulai beraturan. Tampak manis. Belah kiri belah kanan, juga tampak asik. Saya ndak kesal lagi. Malah jadi senang dan berterima kasih sama ibu penggunting rambut.

Sampai… sebulan kemudian, tepatnya minggu lalu, saya pengen gunting rambut lagi.

Saya lanjutkan besok ya.


Pengennya begitu…

Jadinya begini…

  1. Perpisahan 3 Replies
  2. Bangkok – 160 3 Replies
  3. Tiba-Tiba Benar 3 Replies
  4. Jalan Besar VS Jalan Kecil Leave a reply