Hello from Dubidu

img_6771

Life is a box of chocolate. You never know what you’re gonna get.

Life has been a sweet treat for me with all its surprising taste.
To describe the chocolate taste in words might be hard. But to tell them in sentences is another story. And I choose the latter.

Cheers,
V!

Advertisements

Recent Posts

Cerita Terbaru

Life is like a car. It keeps moving forward while leaving others behind.

Berubah dari jobless ke pegawai 9 to 6, berubah dari jomblo ke punya pacar (atau sebaliknya), berubah dari rambut pixie ke rambut sepinggang, berubah dari penyuka warna hitam ke warna pink, dan lain-lain.

Macam hidup saya ini. Perubahan juga terjadi sebulan belakangan.

Yang terdasar tentunya setelah saya berhenti dari perusahaan sebelumnya dan pindah ke kota baru. Yang tadinya Senin-Jumat diisi dengan jam kerja yang sangat panjang dengan deretan jadwal miting yang berjibaku dengan rikues a i u e o dari atasan setiap hari, tiba-tiba lenyap.

Waktu istirahat 1 jam yang sangat berharga yang biasanya diisi dengan duduk santai, ngobrol ngarul ngidul menertawakan kesialan hari itu di ruang miting, atau rencana pengen kesana kemari untuk liburan, tiba-tiba nggak ada lagi.

Kesenengan mesen gofood buat beli ayam keprabon atau kopi segaleh tiap jam 3 sore, udah nggak ada juga.

Kangen nggak? Tentu saja. Cuman, sebagai manusia yang harus terus berevolusi dan bergerak, kekangenan di atas diupayakan nggak menjadi rantai di mata kaki yang bikin nggak move on, mengutip istilah masa kini.

Berhasil belum? Belum. Masih banyak keanehan dengan ritme sekarang dan cara memandang hal-hal di depan mata yang perlu diubah. Atau sih, selama ini saya anggap ini menambah sudut pandang baru di otak saya aja. Supaya rasanya lebih enteng.

Kalau dulu melihat A dari sisi bujur kanan, kali ini akan saya coba dari bujur kiri belakang. Sama aja kok pemandangan akhirnya, cuma beda posisi aja.

Termasuk juga soal interaksi. Pertemuan dengan teman beraneka jenis pun sudah harus digantikan dengan perjumpaan dengan orang yang kurang lebih sama. Mungkin faktor demografis dan lingkungan terang membuat penduduk di dua kota berbeda, punya pembawaan yang jelas beda. Terang aja yang di Jakarta jauh lebih “gila” karena model kota yang demikian kerasnya. Yang di daerah, cenderung lebih kalem.

Di luar itu, masih banyak perubahan lain yang masih mengganggu isi kepala. Munculnya bisa di mana aja. Pas di jalan, pas ngadem di wc, pas makan, paling sering sebelum tidur seperti sekarang.

Tapi pelan-pelan saja kita benahi. Semua ada waktunya. Nanti juga ketemu jalannya.

  1. Perjalanan ke Nusa Penida 6 Replies
  2. Ubud, Nusa Penida, Seminyak dan Sekitarnya 1 Reply
  3. Tak Disangka 2 Replies
  4. Sampai Jumpa Lagi 3 Replies