The Eyes, Not The Phone

Let’s say thank you to smartphone, any messenger application, good internet connection, which have taken down all the barriers in communication.

People no longer need to feel they are apart because of the Whatsapp, Line video call, Skype, and you name it. Those who live at a small town don’t need to worry of missing any new information for the secondly-updated news on the website. We no longer got left behind of any new innovation in make up, hair do, fashion, gadget, and whatever comes from the America, Europe, India, or anywhere else.

However, what has connected us also has turned to something that makes us apart. People at a dinner no longer talked to each other for phone screen is way more interested than person with eyes, ears, nose, and voice. Young couple at the cute cafe feel way more comfortable to stare at the phone rather than stare at each other foods (or each other’s eyes?).

Well, this is just simply post about how I miss the old days when I could talk to the person closely without them being so busy and distracted with the phone. Also how I appreciate person who can keep away their phones, when somebody’s around.

Put your phone away, please…

SmartPhone19.jpg
Taken from here

 

Sejak Saat Itu Langit Senja…

Setahun lalu, sahabat saya mengenalkan saya dengan Monita Tahalea. Persis setelah album Dandelion diluncurkan, saya mulai mengikuti karyanya. Dari Youtube, Spotify, lalu berlanjut ke Instagramnya. Ada masanya di kala musik Monita menjadi pengencer otak saya kala mumet di kantor sedang menjadi-jadi. Atau, menjadi musik pengantar tidur yang cukup ampuh.

Beberapa bulan lalu, Monita menggelar konser di Salihara. Karena sesuatu dan lain hal, saya tidak bisa hadir untuk menyaksikan pertunjukannya, yang sudah saya duga (dan memang betul adanya) bakal keren banget.

Tapi…

Akhirnya, hari ini saya berhasil menyaksikan langsung penampilan dari Monita di Galeri Indonesia Kaya. Tak banyak yang bisa dikatakan, selain, keren banget. Musiknya, harmonisasi lagu, kebersamaan dengan rekan satu tim, gayanya, sepatunya, ah semuanya, saya suka. Sebagai penggemar baru, saya senang sekali.

Thanks for the great music this weekend, Monita & friends! Abaikan wajah saya & kawan yang terlalu bahagia. 🙂 

Picture by : Randita

Check out the video here, still taken by Randita.

Life When Weekend is Coming 

Thursday to Friday or Friday to Saturday night are the best moment to think. The time when you are off to bed, sleepy, but yet not wanting to turn your phone to sleep mode.

What to think? A lot. Think of the past, present, and future. Or, you may said, most of the time it’s the past. Especially for the singles or those who are still hard to work on the status *cheers*.

In those nights between, your mind could bit uncontrollable and unreliable. You go grumpy, witty, moody, etc. 

You do what you don’t wanna do,

You said that you don’t wanna say, 

You act as someone that you never wanna be, or…

You think you know but you have no idea. 

A night before weekend is one of the most challenging nights in 7 days.

However, embrace the mistakes, see the fault, live the flow, and be better next times. 

You’ll be good because there will come another Monday. 

PS: 

And… 
Anyhow, I thank universe I had fun night yesterday with colleagues. And here comes the short video before all the ping pong games start. 

Hope you also have fun​ guys! 

Terbang Pagi

Menyambung hawa-hawa liburan, saya ikut tergoda menulis tentang liburan. Terkait liburan, saya punya pilihan terbang yang kadang bikin temen dan keluarga saya geleng kepala. Misalnya :

Flight (paling) pagi
Saya suka banget terbang pagi. Sepagi mungkin. Untuk domestik, paling pagi itu sekitar jam  5 atau 6. Saya pernah cari yang lebih pagi lagi, tapi nggak ada. Airportnya belum buka. Hehe.

Kenapa suka jalan pagi? Mungkin karena jalanan sepi dan muka masih segar. Saya juga suka rutinitas. Jadi berangkat pagi bikin saya ngerasa nggak meninggalkan rutinitas harian saya, yang kalau sebelumnya kerja, kali ini liburan, dengan jadwal yang hampir sama.

Alasan lain yang nggak penting, saya suka lihat lampu-lampu jalanan yang masih nyala di pagi hari, tanpa bising klakson, knalpot, sirene pasukan pengawal menteri, dan sebagainya. Bisa juga sih liat lampu malem-malem. Tapi kalau jalannya jam 3 atau 4 pagi, jalanannya lebih sepi daripada jam 11 atau 12 malam (which is seringkali masih macet pun, apalagi di Jakarta). Cantik dan romantis, loh.

Pertimbangan lainnya, rasanya nggak rugi aja kalau berangkat pagi. Pertama, nggak perlu ijin / bolos kerja sehari sebelumnya. Kedua, nyampe lokasi tujuan masih pagi, jadi masih punya setengah hari berikutnya untuk ngapa-ngapain.

Nggak bisa bangun kalau kepagian….”

Nah kalimat di atas membawa saya pada kebiasaan berikutnya:

Nggak tidur nungguin terbang 
Kayaknya ada beberapa orang yang punya kebiasaan ini : nggak bisa tidur sehari sebelum keberangkatan. Kalau saya sih, seringkali karena kudu packing, atau over excited dengan trip yang akan ditempuh. Lagipula, daripada telat bangun, mendingan nggak usah tidur sekalian.

Hasilnya, 9 dari 10 perjalanan di pesawat (ataupun transportasi jauh lainnya), saya selalu tidur. Sebelum terbang pun, udah tidur. Pas pramugari lagi ngajarin cara pakai vest, saya pun biasa ketiduran di tengah-tengah mereka bercerita.

Enak loh tidur dengan pola begini. Meskipun hanya 1 sampai 2 jam tidur, rasanya itu tidur yang cukup berkualitas. Jadi begitu nyampe di tempat tujuan, udah kembali bugar.

Nunggu
Saya nggak keberatan nunggu berjam-jam untuk transit. Tentu saja, ini untuk cerita perjalanan yang nggak perlu buru-buru. Saya inget pernah transit hampir 8-10 jam di Singapura ke Jakarta, sepulangnya jalan-jalan dari Vietnam. Tidur, jalan, makan, tidur lagi, sampe disuruh masuk pesawat.

Nunggu karena delay juga bukan masalah besar untuk saya. Sejauh ada tempat duduk, saya bisa anteng-anteng aja. Karena itu, selalu sedia : buku, headset, handphone full battery, baca majalah gratisan, dll. Kalau ada laptop, bisa sambil surfing, nonton, atau ngeblog macam sekarang. Kalaupun males menggunakan perangkat-perangkat itu dan kebetulan ada yang menarik di dekat kita (anak kecil lucu, ibu tua ramah, atau Bapak-bapak baik hati), ajak ngobrol aja. Openingnya gampang : Ke mana, Ibu? Oh Ibu dari sana? Obrolan pun berlanjut

Kalau sedang malas berinteraksi, ya udah. Diam-diam aja. Nonton iklan di TV Airport yang dilooping berulang-ulang (sampai hafal).

Selain itu, untuk saya, nunggu juga jadi waktu istirahat terbaik. Bisa duduk, nafas, mikir, ngayal, melonggarkan kaki, punggung, kepala, dengan jatah waktu yang sudah pasti, tanpa takut diburu-buru. Apalagi, untuk urusan ini, kita mendapat kesempatan untuk menunggu sesuatu yang sudah pasti. Menunggu dengan kepastian. (Bukan menunggu tanpa kepastian, kan ya kayak urusan cinta misalnya). Semacam me time di airport.

Karena itulah, saya oke-oke aja jika perlu menunggu.

Seperti kali ini, menunggu untuk transit di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka, selama tiga jam sebelum terbang ke Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Belitong. Sebenarnya di luar urusan tiket yang hanya sedikit lebih murah daripada flight langsung, saya juga ingin melengkapi referensi saya mengenai kota di Indonesia yang sudah saya kunjungi. Biar kata cuma airport, karena nunggu, minimal saya pernah menginjakkan kaki di Pangkal Pinang.

Hipotesis super dangkal dari pengamatan bandara Depati Amir : Pangkal Pinang ini masih kota kecil, penduduknya tidak banyak, infrastruktur rasanya juga masih belum seberapa, dan kota ini bersebelahan dengan gunung (keliatan pas turun airport, cakep). Kalau dibandingkan dengan kota asal saya Pontianak, sepertinya kota ini sedikit jauh lebih kecil baik dari segi ekonomi, atau jumlah penduduk.

Hipotesis cetek loh ya.

Pancingan aja moga-moga ini, ada kesempatan lain untuk ke luar airport. Atau nunggu di airport kota / negara lainnya.

Ibarat peribahasa : Dari airport turun ke kota.

Depati Amir, 4 Mei

Kompilasi 30 Hari

Teman, si William, lagi rajin banget ngepost. Seminggu sekali, mau bosen, mau bete, mau seneng, pasti ngepost. Nah, saya mau ikutan. 

Sebut saja, ini tulisan kompilasi. Gabungan cerita hidup dari.. 1 bulan terakhir.

Si William yang namanya disebut di atas itu, adalah teman yang didekatkan selama sebulan terakhir ini, karena sedikit kesamaan suasana hati. Doi lagi suram karena situasi di lingkungannya, saya pun begitu, sedikit.

Namun, berhubung yang namanya suram ini nggak boleh dipelihara lama-lama, mari coba kita pikirkan yang senang-senang saja.

**

Bulan ini, sebenarnya banyak cerita seru. Mulai dari ngelakuin hal baru, ngerjain hal baru, ngadepin masalah baru, nemuin solusi baru, dihadapkan dengan kegagalan baru, ketemu temen baru, dan macem-macem. Yang baru ini selain seru sebenarnya juga menyenangkan. Yah tetap aja sih ada bumbu-bumbu nggak enaknya. Cuman, masih bisa dinikmati dan disyukuri.

Bulan ini juga, terjadi pencapaian baru. Pencapaian kecil-kecil aja, nggak yang heboh-heboh banget. Misalnya : mencapai titik dimana kelinglungan di tempat kerja sudah bisa dihadapi dengan lebih bijak dan mapan (alias tenang). Ada juga pencapaian karena bisa mengendalikan emosi agar berimbang dengan logika, tidak berat sebelah.

Ada teman dekat yang mengambil pilihan baru yang mengakibatkan kami tak lagi bisa berjumpa di kantor setiap hari. Mengikuti emosi, suasana hati saya pasti akan terombang-ambing. Tapi, pencapaian saya untuk menahan emosi meluap-luap, mengijinkan logika saya untuk berkata “It’s her best, Vinny!”. 

Bulan ini juga, dilimpahi rejeki baru. Namanya saja rejeki. Apapun bentuknya, terang saja wajib disyukuri. Nggak perlu “tapi“, nggak perlu “cuman“. Cukup “terima kasih“.

Terakhir, hari ini, pindahan. Kediaman lama yang sempat ditinggali sekian lama akhirnya menemukan empunya yang baru. Meninggalkan yang lama memang tak pernah mudah. Tapi hendaknya percayalah, yang lama kadang perlu di-upgrade, ditingkatkan. Peningkatan tidak harus diukur dari volume saja, melainkan nilai. Seberapa yang baru lebih bernilai, seberapa yang baru lebih pantas dimulai, seberapa pantas yang baru untuk dijalani. Kalau semua sudah terjawab dengan serangkaian alasan positif, mantapkanlah diri untuk meninggalkan yang lama.