Puas

Kamu gimana? Anak yang gampang puas, atau terima saja dengan yang udah ada? Mengutip kata Steve Jobs soal “stay hungry, stay foolish”, kayaknya kita kudu selalu jangan gampang puas, supaya bisa maju macam beliau. Tapi…. Nggak puas-puas juga kayaknya nggak bener-bener banget, ya nggak sih? Kapan dong kita mesti ngerasa puas?

Belakangan, kerjaan saya cukup berkembang. Dibilang maju, ya cukup maju. Tapi, apakah ada yang lebih maju dari saya? Tentu saja ADA! Pada momen ini, si sirik dateng. Bisikan-bisikan semacam : dia bisa, masa’ lo nggak bisa? pun hinggap seenak jidat pas lagi bengong, makan, mandi, atau ngelihat Instagram. Bikin kesel lumayan, bikin capek, iya banget.

Cuman ya namanya hidup, ada jalan kiri dan kanan. Kalau noleh ke kiri, dengan mudahnya kita bisa sirik dan nggak cepet puas. Tapi begitu noleh ke kanan, kok rasanya yang kita dapat udah jauh lebih dari cukup. Pasca kepala selesai menoleh, diri pun kemudian bingung dan muncullah pertengkaran lain antara penjaga sektor kiri dan kanan.

“Kenapa sih nggak puas dengan yang udah ada sekarang? Kan udah baik, udah lengkap, udah cukup, ya udah puas aja. Terima dengan baik, resapi, berterima kasih. Cukup.”

Belum cukup dong! Dia aja dapetnya segitu, masa’ kamu cuma segini,” nah si hantu sirik kembali dateng lagi.

Sebagai seorang yang kadang otaknya agak susah disuruh mingkem, pertengkaran macam gini cukup menguras emosi dan tenaga. Emosi cenderung tidak labil ketika periode ini terjadi. Alhasil, mutung nggak karu-karuan, kadang dengan alasan nggak jelas. Apalagi pas ada triggernya, semisal ketemu dengan si objek penyebab sirik dan tak puas itu. Wuduh, rasanya…

Solusinya? Belum ada yang jitu. Sejauh ini yang biasa dilakukan: makan, jalan kaki ke mol depan rumah, denger lagu, nonton film, atau nulis begini. Walaupun abis ngapa-ngapain itu tadi bakal masih tetap iri dengki sirik dan nggak puas, paling enggak sedikit lebih lega karena sudah tersalurkan dengan media tertentu, nggak hanya terkurung di kepala.

In case you crave for a choco cake (because I do)… 🙂


Pinterest

 

Advertisements

Weekend Goals [Updated]

Image result for weekend image

Nonton This is Us yang entah sudah sampai episode yang mana…
checked! Selesai di episode “Number Two”. Jangan lupa lagi, Pin!

Habisin Black Mirror episode terakhir yang udah nonton berkali-kali dan belum kelar-kelar…
checked! Wow wow wow. Episode terakhir bikin parno ke dokter. Ngilu juga kalau ada dokter yang mendapatkan kenikmatan dari merasakan sakit si pasien. Emang ajaib yang bikin ni series. 

Ke dokter…
checked! Beberapa diagnosa bisa jadi pelajaran berharga. Nanti dibagikan di blog terpisah yah. 

Jenguk teman…
– checked! Ceritanya si teman habis operasi tumor di kepala. Tapi, yuhu, jangan bayangkan situasi yang sangat sulit pasca operasi. Yang ada, teman yang dasarnya memang lucu dan ceria ini malah tetap lucu dan ceria juga pasca operasi nggak sampai 24 jam. Dan canggihnya, tumor itu diangkat dari lubang hidung, bukan dari kepala. What a technology. Lekas pulih lagi ya, Meliiii. 

Bersih-bersih lantai, baju, lemari, laundry…
– checked, kecuali lemari 😀 

Tidur 10-12 jam… – half check deh kalau yang ini. 9 jam aja. Haha 

(Lalu Senin lagi…._) 

Rencana weekendmu apa, kawan? Ingat, akhir pekan cuma 2 x 24 jam. Manfaatkan dengan baik, dengan senang, dengan ceria!

**

Well yeah! Senin is coming soon. SEMANGAT SELALU! 

Masih di Angan-angan

angan-angan1 pikiran; ingatan: ~ nya ke mana-mana2 cita-cita: ~ nya menjadi dokter3 maksud; niat: sedikit pun tidak ada ~ ku menghinakan beliau4 gambaran dalam ingatan; harapan sendiri dalam ingatan; khayal: kesusastraan itu berisikan kehidupan nyata, bukan ~ belaka5 proses berpikir yang dipengaruhi oleh harapan-harapan terhadap kenyataan yang logis;~ menerawang langit, pb mencita-citakan segala sesuatu yang tinggi-tinggi; ~mengikat tubuh, pb bersusah hati karena memikirkan yang bukan-bukan;

berangan-angan/ber·a·ngan-a·ngan/v1 mempunyai angan-angan (cita-cita, ingatan): boleh ~ asal jangan terlampau tinggi2 mengangan; mengangan-angan; 3 berniat; bermaksud: tiada ia ~ hendak membalas dendam;

“Masih untung elu lah, Vin. Punya gue, semua masih di angan-angan” ~ terima kasih untuk teman yang pesannya sekarang dikutip tanpa ijin oleh saya. 

Untuk saya dan teman-teman seumuran atau yang malah di bawah saya, topik hangat yang sedang (dan sepertinya selalu) dibincangkan adalah karir dan jodoh. Tak peduli cowok atau cewek, dua bahasan ini yang paling seru dan bisa menyita waktu berjam-jam. Yang kurang beruntung di kedua urusan ini akan menempatkan kebahagiaan berkat karir dan jodoh masih sekedar angan-angan ~ pikiran, harapan, cita-cita, kata KBBI.

Jibaku dengan angan bermacam-macam kisahnya. Ada yang berdebat tanpa henti dengan orang lain dan diri sendiri tentang “apa ini pantas diperjuangkan? Kalau akan terus menjadi angan-angan, apa gunanya terus dipikirkan?”. Kedua, mereka yang mencari akal untuk meyakinkan dan membuktikan bahwa angan bukan sekedar uap yang lenyap seketika karena terbawa angin. Ia bertahan dan akan berwujud nyata jika terus dibentuk dan diperjuangkan. Ketiga, tipe yang meratapi angan dalam diam. Berharap ia akan berubah bentuk secara otomatis menjadi kenyataan tanpa perlu usaha. Yang ketiga mungkin penganut “jodoh dan rejeki akan datang tanpa perlu dikejar”.

Sosok keempat adalah mereka yang diberikan kebebasan untuk berangan-angan. Kepada mereka, hak untuk menghayati, memikirkan, serta mengejar angannya didapat dengan penuh. Sejauh percaya pada angannya, sejauh itu pula ia bisa melakukan apa saja. Sejauh angannya tidak dibunuh dengan kejam, setinggi itu pula keberaniannya untuk menapaki perjalanan mewujudkan angan-angan. Kalapun bukan didapat, sosok keempat ini berani memperjuangkannya.

Perjalanan bersama angan tidak pernah mudah. Kadang percaya, kadang tidak, tak jarang malah hendak putus asa. Di fase ini, kita mulai mempertanyakan kapan fase ini  berakhir atau harus diakhiri. Apalagi, ketika perlahan dirinya sadar bahwa usaha selama ini tidak berbuah atau bahkan tampak semakin buram.

Ada yang dari luar terlihat sangat bahagia karena memiliki apa yang semua orang idamkan, namun nyatanya tidak diinginkan oleh dirinya sendiri. Angannya yang lain jauh terpendam di dalam sana, tak terlihat namun terasa, tidak pernah terucap namun terus memberontak di kepala.

Satunya lagi adalah pahlawan pembela angan-angan yang telah sukses membuktikan pada semua orang bahwa angannya yang ‘remeh’ itu bisa terwujud menjadi sesuatu yang besar. Ia adalah representasi dari sosok yang menjadi pahlawan karena keberaniannya. Kalau boleh berangan saat ini, saya ingin menjadi dia.

Tapi, dengan semua perdebatan tentang angan, saya kok semakin percaya bahwa semua orang wajib berangan-angan? Angan yang membuat kita tahu ke mana harus melangkah. Angan yang membuat kita bangkit lagi ketika terjatuh. Angan yang membuat kita bertahan dari besarnya hempasan.

Ibarat angin yang menggerakkan daun, angan juga menghidupkan kita. Jika sesekali kita bergerak ke arah yang salah, atau malah kehilangan jejak harus berjalan ke mana karena setengah mati mengejar si angan, yakinkan saja bahwa selagi kita masih bisa bernyawa dan bernafas, masih ada waktu untuk mewujudkan angan menjadi nyata.

Selamat berakhir pekan.


Detektor Usia Xiaomi

Image

Halo, ada pengguna Xiaomi di sini?

Saya lagi udik gara-gara baru pakai Xiaomi seminggu ini. Selain beberapa fitur yang cukup bikin saya huwawaw seperti Mi Remote (fitur untuk mengakses alat elektronik di rumah mulai dari televisi, AC, kulkas, mesin cuci dan lain-lain – niat bener tukang ngumpulin ratusan merek alat elektroniknya sampai setipe-tipenya), baterai tahan lama (tentu sahaja, apalagi dibandingkan iPhone, dan… (maaf baru itu aja, sungguh kurang kompeten sebagai pe-review henpon, haha), saya juga dibuat katrok sama fitur pengenal umur dari kamera depan aka selfie, yang dimiliki smartphone keluaran Cina ini. Ternyata sih, ini fitur basic banget yang dimiliki Xiaomi. Saya aja yang norak. :D.

Ini fitur yang dimaksud. Gender and age detector. Macam ini tampilannya. 

Baca : Xiaomi Mi Note’s goofy age detector is the most selfie fun you’ll ever have

Alhasil, layaknya bocah baru dikasih mainan baru, saya pun sempat menghabiskan 30 menit mengutak atik rumus supaya umur yang ditampilkan si hape bisa sesuai dan syukur-syukur lebih mudah dari umur asli.

Dari artikel Mashable di atas tadi, ternyata angle foto punya peran besar untuk menentukan usia yang dituliskan. Saya juga baru tau.

Tapi dari observasi cetek saya dan ngobrol sana-sini, beberapa tips untuk membuat si mesin Xiaomi ini menyebutkan umur yang minim untuk penggunanya adalah:

  • Hindari kacamata. Penggunaan kacamata (dari pengalaman saya) membuat umur bertambah hampir 10 tahun dari usia sesungguhnya. Kan kesel haha.
  • Bersihkan wajah dari minyak. Entah bener atau tidak, kayaknya ini ngaruh dikit. Makin berminyak, makin tua. 😀
  • Pastikan pencahayaan pas. Kalau foto di tempat terang, usia cenderung kecil. Kalau gelap, cenderung besar. Sebagai contoh, waktu iseng-iseng foto di perempatan lalu lintas, sambil nunggu lampu merah berubah hijau, umur saya dideteksi 44. Kebanyakan. HAHA!
  • Terakhir, SENYUM. Ini kata banyak orang. Senyum bikin henpon pintar ini menyebutkan usia lebih muda!

Inti dari tulisan yang tidak terlalu berarti banyak ini sih terletak pada poin terakhir. SENYUM.

Nyatanya, di kehidupan sehari-hari kita sering diajak untuk tersenyum. Entahlah untuk alasan agar terlihat awet muda, betul-betul bikin tambah muda, meningkatkan hormon endorfin yang menurut dunia kedokteran menjadi sumber kebahagiaan, SENYUM ini ada baiknya dijadikan template wajib untuk wajah kita untuk banyak kesempatan. Senang kan rasanya kalau ketemu orang ramah senyum, dibandingkan galak dan manyun?

Senyumlah pas bangun pagi. Senyumlah pas sambil dandan. Senyumlah kalau ketemu tetangga. Senyumlah saat mengucapkan terima kasih. Senyumlah saat menerima kembalian uang dari penjual sarapan. Senyumlah pada security di kantor. Balasan yang kita terima setelahnya seringkali bahkan bisa memberikan energi sekaligus mengalirkan mood baik yang tidak diduga.

YAH tentu saja di banyak kesempatan, boro-boro senyum, ngomong aja udah malas dan susah, apalagi ketika dirundung masalah. Namanya juga hidup. Tapi ingat, di sela-sela kesulitan itu, sempatkan waktu untuk tersenyum. Siapa tahu, dengan begitu kita didekatkan dengan hal baik dan jodoh yang baik.

Jadi, sudah siap selfie iagi? Jangan lupa… SENYUM! 🙂

“Sometimes your joy is the source of your smile, but sometimes your smile can be the source of your joy.” ~ Thich Nhat Hanh (Vietnamese monk)