Netflix | The Good Place

Setelah menyelesaikan episode terakhir Suits dan Master of None, kemarin saya nonton series baru berjudul: The Good Place. Ada yang nonton?

Image result for the good place

The Good Place mengisahkan afterlife, kehidupan setelah orang meninggalkan dunia. The Good Place adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki rekor banyak berbuat baik selama hidupnya. Tempatnya cakep, indah, penuh taman, dan lain-lain, sempurna menyerupai deskripsi surga – heaven – paradise – yang deskripsinya bisa kita dengar dimana-mana.

Di hari orientasi pertama di The Good Place , Michael (Ted Denson) – pimpinan The Good Place – menceritakan kepada para penghungi baru tempat ini bahwa sudah ada algoritma yang bisa mengakumulasikan semua tindakan manusia selama hidup, sebelum menentukan mereka akan menuju ke mana: The Good Place atau The Bad Place.

Salah satu penghuni hari itu adalah Elenaor Shellstrop, yang dibintangi Kristen Bell. Setelah orientasi selesai, Michael mengajak Elenaor mengunjungi rumahnya. Karena hanya orang pilihan yang bisa diterima di The Good Place, rumah yang ditinggali setiap penghuni juga dirancang sedemikian rupa sesuai dengan karakter penghuninya semasa hidup, termasuk rumah Elenaor. Karena memori setiap orang setelah meninggal dihapus setelah mereka tiba di tempat ini, Michael pun memutar ulang dokumentasi perbuatan baik selama Elanaor hidup: ia adalah seorang pengacara, volunteer untuk banyak kegiatan kemanusiaan, dan pecinta badut.

Screen Shot 2018-06-17 at 12.18.57 PM.png

Sayangnya oh sayangnya… Setelah Michael pergi, Elenaor sadar bahwa ia “nyasar”. Apa yang ditunjukkan Michael bukan seputar kehidupannya dia. Nyatanya, ia adalah seorang sales yang menjual obat-obatan (palsu), dan bersikap sangat egosi semasa hidupnya. Tapi kalau Elenaor memberitahu hal ini kepada Michael, ia akan terancam dipindahkan ke The Bad Place yang pastinya sangat tidak menyenangkan. Akhirnya, Elenaor pun memilih menyimpan rahasia itu, dan mengambil tindakan agar ia ‘layak’ diterima di The Good Place.

Bersama “soulmate”-nya, seorang genius Chidi Anagonye (William Jackson Harper), Elenaor belajar untuk menjadi orang yang lebih baik. Tiap hari ia mengambil kelas dengan bimbingan Chidi. Ketika semakin banyak bertemu dengan penghuni lain, Elenaor pun menemukan bahwa kehidupan di tempat paling sempurna ternyata tidak sesempurna itu.

Selain alur cerita yang unik dan seru (scene dengan latar yang warna-warni, es krim, makanan),  cerita ini jadi pengingat bahwa nggak ada yang sempurna. Orang sesempurna apapun – entah itu di dekat kamu, di sosial media kamu, di berita yang kamu baca, punya ketidaksempurnaan yang tidak pernah kamu liat.

Jadi, tidak usah sedih kalau hidup kamu tidak sempurna dan tidak berjalan seindah orang lain. Memang begitulah hidup. Karena kalau mau jujur dan menerima, ada hal baik juga ‘kan yang terjadi ketika kita merasa terpuruk? :).

Selamat Minggu!

The Good Place.png

Advertisements

Everyone is Good at One Thing

Tiap manusia dilahirkan dengan keterampilan berbeda satu sama lain.

Dalam aspek komunikasi, ada yang terlahir dengan keterampilan bertanya, menjawab, mendengar, bertanya dan menjawab, bertanya dan mendengar, menjawab saja, mendengar saja, bertanya saja, atau… tidak satupun dari ketiga keterampilan di atas? Ah, sepertinya tidak. Pasti punya salah satu.

Bertemu dengan orang yang punya ketiga keterampilan di atas adalah berkah. Jaga baik-baik. Bertemu dengan orang yang punya dua di antara tiga, adalah lumayan. Pertahankan. Bertemu dengan orang yang hanya punya satu, hmm, ini yang cukup sulit. Coba sampaikan agar dia bisa menambah satu lagu keterampilannya. Mudah-mudahan berhasil. 

Seringkali kita ingin mendapatkan jawaban setelah seseorang banyak bertanya. Tapi sayangnya, ada yang berhenti setelah bertanya. Tidak ada jawaban, sehingga kita yang sudah menjawab panjang lebar pun seolah tidak didengar. Kejadian satu kali nggak papa. Tapi kalau berkali-kali, capek pun.

Lagi-lagi, komunikasi adalah tentang dua arah. Tidak ada artinya berbicara kepada lawan bicara tanpa ada jawaban. Paling tidak, respon yang baik lebih baik daripada tidak sama sekali. Baik tidak berarti benar. Baik sifatnya subjektif. Untuk saya, baik melibatkan hati dan empati. Sejauh mana seseorang bertanya, sejauh itu juga dia bisa berempati dalam memberikan jawaban karena mendengar jawaban yang kita berikan. Toh kadang kita sudah tau jawaban atas pertanyaan kita sendiri. Cuma butuh validasi orang lain saja.

Jadi, kembali lagi ke topik ini.

Semua orang pasti punya satu keterampilan dari tiga yang saya sebutkan di atas. Tapi, ada baiknya coba tingkatkan keterampilan itu menjadi dua. Entah kenapa, saya rasa penting punya dua dari tiga opsi di atas. Sebab kalau tidak, rasanya ada yang blong dari interaksi yang dilakukan dengan orang yang bersangkutan.

Kalau udah punya dua dari tiga keterampilan di atas, ada pertanyaan lain lagi sih. Kapan harus mengeluarkan keterampilan itu, dan di mana?

Isn’t it hard to be a right man at the right time in a right place? 

Memang ndak ada habisnya kalau menjawab pertanyaan sendiri.

Mari balik ke makan siang. Selamat bekerja. Selamat berlibur!

Minggu 10 Bangkok

Wow lama juga udah nggak nulis. Hampir 2 minggu. Gegaranya sih nonton series Netflix. Tiga yang lagi diputer-puter: Suits, 13 Reasons Why, dan Master of None. So far, yang ketiga yang paling disuka karena ceritanya simple dan bermakna aja gitu. Yang kedua nonton karena penasaran. Cukup bikin depresi sih filmnya, makanya jangan ditonton di malam hari. Yang pertama ditonton ulang lagi (dulu banget udah nonton tapi kepotong karena harus download), tentunya pengen aja gitu liat Meghan jadi artis. :D.

Kegandrungan dengan Neftlix ini lumayan mengalihkan perhatian di malam hari dan di weekend. Tapi selain series, ada juga kok keseruan lain yang belakangan lagi dikerjain yaitu…

Masak

Abis beli electrical pot aka kompor listrik mini, jadi kerajinan bikin ini itu. Tapi karena keterbatasan kamar (tanpa wastafel, tanpa dapur), jadi masaknya ya kudu yang gampang-gampang aja. So far yang udah sempet jadi: omelet jamur, pancake (pake bumbu jadi), nasi goreng, kacang hijau, dan spaghetti. Untuk yang tinggal dikosan, pasti tau kan betapa susahnya masak 4 menu ini. Terlihat mudah, tapi butuh perjuangan dan niat yang besar mulai dari wacana sampai makanannya betul-betul jadi. Seneng juga sih begitu jadi. Meskipun makannya ya buat sendiri2 aja. Niatnya minggu depan bikin kari ayam (pake bumbu instan juga. Palingan tambahin ayam + bihun aja). 😀

Ukulele

Beberapa bulan ke Bangkok, beli ukulele. Pertamanya sih gara2 liat temen beli. Jadi pengen juga. Akhirnya, dibawa ke sini ukulelenya. Melihat kepiawaian Monita Tahalea, gue saya pun pengen ikut-ikutan. Tentunya, beda ladang beda bakat. Monita sekali gonjreng udah jadi lagunya, suaranya bagus pun. Saya kudu gonjreng 50 kali baru bisa jadi 1 lagu bagus. Dari ukulele, ketemu juga satu Youtube channel seru yang ngajarin Ukulele basic dengan penjelasan dan lagu yang asik. Namanya Cynthia Lin. Kalau lagi mau belajar ukulele juga, coba mampir aja ini ke Youtube Cynthia Lin. Selain tutoria, dia juga ngebagiin chord lagu yang bisa didownload gratis di pagenya.

Jalan kaki 

Jarak kantor dan tempat tinggal saat ini sekitar 1,3 km. Kalau bangun pagi dan nggak hujan, sebisa mungkin jalan kaki ke kantor. Selain menebus kesalahan makan daging babi tiap hari dan ngemil, jalan kaki ini jadi semacam terapi aja gitu. Dengan apa yang terjadi belakang ini, jadi makin pengen dan suka jalan kaki. Mungkin teori bahwa manfaat olahraga yang mengeluarkan endorfin lewat keringat itu benar adanya. Jika keringat dari jalan kaki 1,3 km juga mengandung endorfin, mungkin in menjelaskan kenapa saya jadi senang jalan kaki. Tepatnya jalan kaki bikin senang sih. Bukan sebaliknya.

Yang sebener-benernya, waktu minggu kedua di sini, pengen cari tempat olahraga massal. Maksudnya yoga, aerobik, senam, zumba, atau apalah itu dance2 seru yang sering diposting selebriti di Instagram. Tapi belum pernah ketemu. Selain bacanya susah karena website dalam bahasa Thailand, di sini mungkin belum tren olahraga seru begituan ya. Adanya senam, fitnes, yoga, yang standard aja. DAN harganya ya alah. Satu sesi yoga bisa 300-400 ribu. =(. Ya sudah deh. Sering-sering aja jalan kaki.

Night market

Hampir tiap Sabtu / Minggu, saya dan teman berkunjung ke night market di Bangkok. Yang udah dikunjungi pastinya juga udah dikunjungi kalian yang ke Bangkok sih. Sebut saja: Chatucak, Rathchada, Khaosan Road, Rodfai. Sudah kan? :D. Yang terakhir itu yang seru sih. Rodfai Night Market. Tempatnya otentik dan nyeni banget. Ada beberapa toko besar yang jual barang antik, kerajinan kulit, ada museum juga. Tentunya jajanan dan baju-baju murah yang nggak usah dibilang lagi. Sejauh ini, rasanya udah ke banyak tempat sih (walaupun belum). Karena udah ada yang seru, jadi belum hunting ke yang baru lagi. Mungkin harus genap semua night market di Bangkok ya sebelum pulang. Biar SAH.

NAH, itu kira-kira cerita tentang ngapain aja di sini. Beberapa keinginan lain yang ingin dilakukan di sini antara lain:

  • Bikin cerita mini seputar kota ini (mumpun di sini)
  • Mampir ke pantai
  • Mampir ke tempat gaul anak Bangkok, biar jadi kayak lost in translation gitu
  • Terakhir, GUNTING rambut. Mumpung di sini kan ya. Nggak ketemu siapa-siapa. Kalau nggak cocok, ada waktu untuk menunggunya panjang. Doakan yang terakhir ini nggak membawa petaka!

Eh, selamat Senin ya besok! (Oh yah, kita nggak libur Lebaran di sini, karena memang Lebaran nggak jadi libur nasional di sini.) 

IMG_6137

When you’re suddenly into Julia Robert after watching Pretty Woman.

 

Hari Ini… Harus Baik

(Ganti judul. Kebanyakan judul dengan kata “Hari Ini” di blog saya :D)

Hari ini dimulai dengan ndak terlalu baik.

Mood hampir porak poranda. Untung ada mainan baru di rumah. Kompor elektrik alias electrical pot, bahasa kotaknya. Alhasil, sok-sok bikin pancake yang lebih berakhir macam martabak telur daripada pancake kayak di kotak. Kemudian dilanjutkan dengan bikin sup sederhana andalan (campurin bihun, kembang tahu, bakso, telur, plus bumbu kaldu). Lalu, test sekali lagi pot untuk goreng-goreng dengan menggoreng martabek mie telur. Yang ketiga ini semakin berhasil.

Image result for pancake

Lumayan, mood tercerahkan sedikit. (Sambil nonton Suits juga di sela-selanya, abis kelar jemur baju).

Lalu, jalan-jalan ke Rodfai night market. Perjalanan ke sana, hujan deras. Lumayan. Selain bikin udara nggak terlalu panas, hati juga ikutan mengadem.

Dipikir-pikir, masih perlu bersyukur menghadapi masa-masa ini di tengah orang-orang baik.

Tadi pas menuju Rodfai naik taxi, Bapaknya balikin aja gitu kembalian 13 bhat dengan duit receh. Padahal udah sempat suujon kalau mungkin Bapak akan diem-diem aja untuk ambil kembaliannya, atau bilang nggak ada kembalian (kadang ketemu yang gitu). EH ternyata salah ya.

Lalu, pas perjalanan ke stasiun naik taksi lagi, sempat ada adegan Bapak driver belok kanan kemudian ada mobil motong dari arah berlawanan, sehingga taxi agak direm mendadak-. (Cuman agak, nggak sampai kita yang di barisan penumpang badannya ikut geser ke depan). Bapak kasih lewat mobil yang mau nyalip itu. Lalu cepat-cepat minta maaf ke kita sambil mengatupkan tangan bilang “sorry”. Lalu diulang lagi sekali.

Kemarin juga pas ke night market, sempat suujon lagi karena bayar minum dengan kelebihan uang 20 bhat. Abangnya pas dibayar melihat sambil ngomong sesuatu yang tentunya tidak dimengerti. Lalu 5 menit berlalu, kembaliannya belum tiba. Udah sempet kesel. EH, 10 menit kemudian, abangnya datang bawa kembalian. Seketika merasa kecil karena terlalu berprasangka.

Balik lagi ke inti cerita. Di tengah badainya kehidupan, dipertemukan dengan orang baik dan kejadian baik itu adalah sebuah karunia. Paling enggak, kita ndak menghadapi masalah di tengah orang-orang atau tempat yang bermasalah.

Artinya, bersyukur aja.

(Sambil cari cara mengembalikan mood lagi, cari resep mudah lagi yang bisa dimasak, dan tentunya get the as* off and clean the sh*t out). 

Selamat berakhir pekan kawan-kawan tercinta!

Simpan Baik-Baik

Kalau bisa, rasa-rasa ini ingin saya simpan dalam botol kecil, saya tempatkan di lemari pengawet dengan direktori a ke z, supaya bisa saya ambil dengan mudah untuk diulang lagi kapan saja saya mau.

Rasa nasi goreng buatan mamak dengan kecap, bawang, garam, cabe potong, lada, telur orak arik.

Rasa dingin genggaman tangan Bapak yang menapak dengan hati-hati sekeluarnya dari mobil menuju pintu rumah.

Rasa senang melihat mamak setelah berhasil menyanyikan lagu baru yang telah diulang-ulang dan dipelajari hampir 20 kali.

Rasa haru melihat anak-anak itu puas dan senang berhasil tampil di depan ribuan penonton.

Rasa lega berhasil menapakkan kaki untuk pertama kalinya di Tokyo 9 tahun silam.

Rasa senang bukan kepalang bisa menginjak tanah Amerika 4 tahun lalu.

Rasa deg-degan menempuh wawancara beasiswa berbahasa Inggris pertama kali di tengah liburan keluarga di Bali.

Rasa takut tenggelam menyusuri parit kecil di kampung bapak karena jalan setapak terlalu jelek dan kecil untuk dilewati.

Rasa takut terbawa arus karena ban yang terbalik waktu main river tubing di Lombok, bercampur aduk dengan rasa kesal dan takut mati mendengar suara pengawas yang terus berucap, “jangan panik, tetap injak batu, jangan panik”.

Rasa dingin menusuk kulit pertama kali berada di tengah cuaca di bawah 5 derajat, menyongsong pesta tahun baru 2015.

Rasa tenang sembari menutup mata dan mendengar deburan ombak dengan semilir suara penyanyi melantukan lagu Ed Sheeran di belakang sana.

Rasa senang melihat orang-orang tersayang tertawa karena guyonan receh yang terlontar di tengah sesi makan.

Rasa senang dan adem melihat tawa bayi-bayi lucu yang senyum dan tertawa karena pose ala badut yang otomatis aja terlaksana begitu ada di dekat mereka.

Semua rasa bahagia, senang, haru, tawa, bangga, ingin saya botolkan detik ini juga.

Kecuali satu yang tak masuk hitungan.

Rasa kehilangan. Apapun bentuknya. Apapun rasanya. Dari siapapun. Karena apapun.

Tapi sayangnya dia yang paling membekas dan tinggal dengan setia begitu saja tanpa perlu usaha, tak peduli betapa kerasnya usaha si empu untuk menepis.

Ah.