Gallery

Before May

Good moments don’t come often and tonight I feel like framing it here. 

These are few good things happened this year. Such a short reminder about how these pass 5 months have been well-spent with many lovely people. Well-spent enough that the small cracks shouldn’t tear you down.

Life is good and better when you have a way to embrace it with gratitude.

Gallery

Day 4 : Childhood

Catatan : “Day 4” itu hari keempat menyelesaikan tantangan ini. Bukan hari keempat dalam arti harafiah, 4 hari, karena bisa saja memakan 12 hari untuk tiba di hari keempat. 😀

Topic : Favorite childhood memories

Lampion

Jaman kecil, rumah saya ada di gang-gang kecil, yang mayoritasnya adalah keturunan Tionghoa. Imlek menjadi sesuatu yang sangat ditunggu, apalagi untuk anak seumuran saya waktu itu. Kira-kira kelas 2-3 SD deh.

Seminggu atau satu malam sebelum Imlek (saya lupa), saya dan teman-teman akan melakukan pawai membawa lampion keliling gang. Macam siskamling gitu. Sekelompok, 5-7 orang, tapi jalan sambil pegang lampion. Ada yang lampion bener-bener lampion. Ada yang bawa lampion berbentuk pesawat, prisma, dan bentuk macem-macem kayak di foto ini.

Anyway, ternyata susah juga nyari foto lampion yang saya maksud. Keluarnya, lampion gede yang sekarang jadi tren. Atau lampion bergambar Doraemon, atau bentuk Angry Birds. Haha. Jaman dulu, lampionnya polos aja warna merah. Dari segi bentuk sih, ini yang mendekati.

lampion kecil

Piyama

Menjelang Imlek, anak-anak, termasuk saya, juga suka kesenengan karena kita akan dapet baju baru, termasuk piyama baru. Entah kenapa ya piyama baru itu sesuatu banget. Nah, karena Ibu suka jahit, pada masa itu Ibu bakal jahitin 1-2 set piyama baru. Piyama mirip foto di atas. Cuma kainnya ya kain biasa. Atasannya juga bukan cheong sam kayak di foto. Modelnya kayak piyama pada umumnya aja. Kelebihan kain untuk piyama, biasa dijadiin selimut. Keren banget rasanya kalau bisa tidur dengan piyama dan selimut yang satu set kainnya. Piyama barunya dipake juga sambil siskamling pake lampion. 😀

Matematika panjang

Saya inget banget, jaman SD dulu, sekitar kelas 5-6, saya ngambil les Matematika. Cuman saya ndak inget, kenapa saya bisa ngambil les Matematika (bukan les umum aja haha). Nah, ini les Matematika asli untuk ngitung-ngitung aja, as in ngitung pake kertas dan bolpen. ndak ada tu sempoa, kumon, apalagi kalkulator. :D. Karena ngitung aja, tiap les ya kerjaan kita ngitung penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian.

Paling seru itu kalau ngitung pembagian. Saya inget banget, gurunya suka ngasih hitungan yang panjanggg banget angkanya. Mirip di subjudul :

1208374020348 : 2

Begitu dikasih pertanyaan, kita cepet-cepetan ngitung hasilnya di kertas. Nanti dipilih, siapa yang jawab paling cepet. Karena sekelas cuma 3-5 orang, biasanya saya lolos jadi yang paling cepat sih. Dipikir-pikir, ada fungsi apa ya dibalik metode ngasih itungan panjang-panjang gitu? Haha.

Bulan

Kalau yang ini, kenangan masa kecil versi saya dalam ukuran yang lebih mini lagi. Waktu badan saya masih gendongable, dengan tinggi ndak sampai 1 meter. Kadang kalau malem dan langit lagi bagus, Bapak suka gendong saya ke pinggir jalan. Setibanya di pinggir jalan, dengan tangan satunya lagi, Bapak bakal nunjuk bulan, sambil nyanyi lagu dengan bahasa Tionghoa – yang cuma saya ingat kalimat depannya aja.

Kalau diterjemahin, liriknya : bulan di langit, terang sekali, ciptaan Tuhan, indah sekali…. 

The “Everglow” Trip

Travel blues masih sedikit menyelimuti. Dengan tambahan – Coldplay blues, yang sepertinya porsinya lebih besar daripada travel blues.

Coldplay 11.jpg

*

Melbourne

Perjalanan ke Melbourne kemarin adalah yang pertama bagi saya. Excited? Tentunya. Karena Coldplay? Pastinya! Apalagi, trip ini memang nggak akan kesampean kalau bukan karena ada Coldplay yang mampir ke sana. Tapi, kita bahas dulu sedikit soal Melbourne.

Overall, perjalanan ini sangat menyenangkan! Kebetulan, saya tinggal di Collins Street, salah satu bagian kota yang dikelilingi banyak cafe, bangunan lucu, tempat gaul, museum, taman dan tempat jalan lainnya. Seperti kebanyakan kota di luar negeri, akses pejalan kaki sangat menyenangkan. Alhasil, mau jalan kemana aja mudah. Tentunya, dengan pemandangan yang serba bagus.

Pas saya di sana, Melbourne memasuki musim panas yang ternyata nggak panas-panas banget. 3 hari pertama, angin cukup kencang. Suhu sekitar 15 derajat celcius. Saya yang mengira Melbourne akan sering hujan (karena laporan ramalan) alhasil lebih banyak menyiapkan stok pakaian untuk hujan (celana pendek, sendal jepit, kaos) ketimbang baju tebal. Baju penahan dingin hanya satu potong yang saya pakai dari datang hingga pulang.

Jalan ke mana aja?

Nah, ini dia. Dari perjalanan kemarin, dipikir-pikir saya ini orang yang cukup malas menyusun itinerary. Memang sebelum berangkat, saya sudah mencatat beberapa tempat yang ingin saya datangi hasil browsing. Tapi sesampainya di sana, saya nggak ngotot-ngotot amat harus ke sana. Soalnya saya pikir, di sekitar tempat saya, banyak sekali tempat yang bisa diliat. Jadi, list-list tadi bisa menunggu (hingga kunjungan berikutnya). Akhirnya ya memang sampai hari terakhir, nggak ada satu pun tempat dari list itu yang saya kunjungi.

Selain malas menyusun / mengikuti jadwal yang saya sudah bikin sendiri, saya tergolong orang yang cukup santai. Mungkin karena pengaruh malas tadi. Selama 4 hari di sana, tak ada satu hari pun saya punya jadwal pasti harus ke mana (terkecuali hari-nya Coldplay). Di luar hari konser Coldplay, saya jalan ke museum, Sunday market, taman, pantai, cafe, seketemunya saya di jalan (ada juga yang diajakin temen).

Tapi, efek dari jalan-jalan begini ternyata menyenangkan juga. Saya nggak merasa terbebani. Mungkin ini enaknya jalan sendiri. Cukup tanggung jawab dengan sendiri, nggak perlu berkompromi dengan teman seperjalanan. Mudah. Ringkas. Praktis. Kekurangannya ya, kalau mau ngomong, nggak bisa seenaknya. Kalau mau foto, nggak bisa seenaknya. But, still, it’s still a super fun trip!

**

Coldplay – A Head Full of Dreams Tour 2016

Tanpa perlu berbasa basi lagi, mari kita bahas soal konser Coldplay (yang masih bikin mabuk kepayang hingga tulisan ini ditulis).

Konser ini dimulai pukul 9 malam. Kemungkinan besar karena show memang dikemas dengan permainan lampu yang hampir 100% sepanjang konser, jadi langit gelap jadi syarat pasti untuk memulai pertunjukan. Durasi konser 2 jam penuh berlangsung tanpa banyak basa-basi. Ada sedikit selipan acara lamaran di atas panggung (yang katanya fans dari Indonesia), tapi itupun nggak menyita waktu banyak. Sisanya, nyanyi, ucapan terima kasih dari Chris, permainan lampu sebentar, dan nyanyi lagi. Menyenangkan!

Salah satu tontonan favorit saya di Youtube adalah live show Coldplay. Dan seperti dugaan, berada di tengah-tengah penonton, bisa melihat konser ini secara langsung, bener-bener jadi pengalaman tak terlupakan.

Tapi, di luar penampilan Coldplay, saya terkesan dengan kerapian penonton. Sebelum konser, saya yang menggunakan flat shoes sudah membayangkan, “Sepatu merah saya pasti akan berwarna hitam atau berubah bentuk setelah nonton karena diinjak penonton kiri kanan” (saya nonton di bagian Festival – sebutan kalau konser di Indonesia – yang berdiri). Ternyata, kekhawatiran saya tidak terjadi sama sekali. Tak ada satupun penonton di kiri kanan yang mendorong satu sama lain. Semua asik menonton konser sendiri.

Yang menyebalkan sedikit ya, segeromobolan anak muda di depan saya yang sibuk mengangkat HPnya. Nggak hanya merekam hampir 70% konser, mereka video call-an aja gitu sama temannya pas awal-awal konser. Selain itu, penonton bisa sambil minum. Minumnya pun dengan gelas plastik itu. Kebetulan gerombolan si HP ini juga sambil minum, jadi ya was-was juga minumannya tumpah.

Namun, setelah diperhatiin, nggak semua yang ke konser ini fans gila Coldplay. Ada juga orang di sekeliling saya yang sepertinya hanya jadi penikmat. Soalnya mereka hanya berdiri diam. Mungkin meresapi lagu kali ya, nggak kayak saya yang sibuk nyanyi. :D. Ada juga dua ABG yang berdandan kayak mau malam mingguan. Yang ini saya agak yakin nggak tahu Coldplay, soalnya dia nggak nyanyi tapi sibuk main HP pas Chris nyanyi.

Lalu, sedikit yang menyedihkan juga, saya merasa berdiri terlaluu jauh dari Chris. Maunya kan bisa liat jarak dekat. Tapi apa daya, jarak jauh sekali pandangan saya ke Chris.

Oleh sebab itu, saya berharap, suatu hari, dipertemukan lagi dengan Coldplay, dalam gig yang lebih kecil, atau minimal, saya yang berdirinya lebih dekat!

***

Kesimpulan

Never have I was back from traveling and have this kind of joy last for days after home.
Thanks Coldplay, thanks Melbourne, thanks anyone who make this story happens! 

I Thank 28!

I thank this year for giving me such precious experiences in work, friendship, and community.
I thank this year for giving me a humble life and thoughtful mind to go through whatever obstacles that come pass by.
I thank this year for allowing me to meet many new friends, new colleagues, new teams.
I thank this year for granting me another great year to spend with my family (though the feeling of missing Dad still strikes today).
I thank this year for making me awake and spend a night before my new year with a sincere night prayer.
I thank this year for making me complete for I can do things with all senses I have, which hopefully will bring value to others.
I thank this year for letting me stay among blissful environment and companion.
I thank this year for that among all not-so-good things that happen to come, good things still win the first place. Thank you.

For whatever things stop by,
For whatever have left,
For whoever that leave,
For whoever that come and accompany,
I sincerely thank you all.

Nothing special out of today. It is still another Tuesday, another 18, another October. It’s the same as another 364 days you spent before.

If you want to make it a bit more special, just take the moment to reflect any good thing that come to you for the last 12 months. Bad things sure happened and will keep on happening. But, do believe that those are lessons to learn, and experiences to witness. Take the moment of your birthday as a start of the more positive and encouraging year…

Before today next year, greets you again.

Cheers to all human being who are celebrating their DAY!