About vinnydubidu

"Life is a box of chocolate. You never know what you're gonna get." Life has been a sweet treat for me with all its surprising taste. To describe the chocolate taste in words might be hard. But to tell them in sentences is another story. And I choose the latter. Cheers, V!

Glad to be Home

Jakarta, July 2018

Advertisements

Diam

Setelah beberapa masa, kamu pengen diam saja, nggak ngapa-ngapain, dari malam, sampai subuh, sampai pagi, sampai matahari muncul lagi, atau diganti hujan yang menyapu pagi.

YDXJ0446.jpgBaru Senin padahal.

Bangkok – 109

Never had I thought that I will have one chapter in my life written in Bangkok starting last end of March 2018. 

At this very moment, I’m one of the 9,79 million population in Bangkok.  Glad to be here!

To start, people here are very nice and polite. Perhaps you ever witnessed unpleasant experience during your visit here. Me also. However, I have more nice than bad things here when it comes to meeting people, so here comes this post.

Once I went to a night market with my friend. It was a market where the tenant staff will stop by your desk to offer foods and drinks. I then ordered a bottle of beer. I didn’t have any penny left so I gave a money which was closed to the beer price. Let say it was 75 Baht and I gave the guy 100. When he got my money, he tried to say something in Thai, which of course I couldn’t understand. 5 minutes went by, he had not come back. Another 5 minutes, no clue. I forgot his face because it was quite dark. I told my friend, “I’m not sure he’s coming back with the return“.

10 minutes after, they guy came back with my return without taking not any penny.

Oh. I felt so guilty.

Wholehearted Workers

I have a strong sense that Thai people are very genuine when doing something, especially for the service-related. This thought comes a lot when I am in a public place and see how local people are interacting one to another. (This is also why I always love taking a public transportation in another country such as subway, train, bus, tuk tuk, boat, just any kind of vehicles. I love seeing and being around the local people because you could see many surprisingly nice things.)

Last week I took a bus for quite a distance. It was about 10 km from my place, Ekkamai, to Bangkok Chinatown area, Yaowarat Road. This must be weird, but I’m always awed with the bus helpers in Thai public transportation. They are the one who collects your money for the bus ticket. They have this special skills with the steel tube and cutter in the middle to cut the ticket or to fold the money. Some of them could do it very quick (I tried to find that steel tube in Google, but hasn’t found it yet). I feel like watching a show in a mini stage, called bus. 

Back to the the bus story.

It was around 6.30 pm. The bus helper was a mid 40s man wearing glasses and jacket. He was in a full uniform and still looked so tidy at that hour. And so did the driver.

This wasn’t the first time I saw the driver and his helper dressed up so formal in the public bus. Thai bus operates until 7.30 pm. The fact that perhaps driver and helper have worked for over 6-8 hours and keep the look clean impressed me in a way.

Despite from the governmental rule, for me, this show how people here appreciate their jobs and people they meet. High respect to the bus driver, bus helper, parking man, security, shop staffs, for doing his job very thoughtfully to everyone.

Also, if you happened to visit one of the biggest supermarket chain here named Big-C, you’ll find a middle age man or woman greet you on your way in or out while folding their hand in front of their chest, while saying Ka pun ka / khap. Don’t forget to reply them back in a smile.

Kindhearted People

One morning I saw a motorcycle taxi driver (or “ojek” in Bahasa) suddenly stepped down his motorbike during the red light to help a car that was about to turn to a forbidden roadway. Fortunately it was a huge morning traffic so I was able to see how this scene ends.Image result for bangkok motorbike driverSource: Bangkok Post

With still his helmed and vast on,  this driver guided the car slowly, while asking other cars and bikes from other sides to stop.  Once the car found his way, (I thought the motorbike driver would intend to stay closed by the driver side to ask for a money, but he didn’t at all), he stood in the opposite side of the driver so the car could just move right away. After that, he went back to his motorbike. Traffic light turned green, driver rode his bike away, street went back to normal. No crazy horn, no people shouted, no complains.

Again, I’m awed. And felt a second guilty for wrongly judging a personIMG_5347.jpg

This post is dedicated to mark my 109th days in Bangkok.

Putusin, Putuskan

Entah ini gegara nonton 13 Reasons Why atau beberapa hal yang terjadi belakangan, jadi bikin mikir deh perihal mengambil keputusan. 

Bersyukurlah kamu kalau kamu adalah orang yang punya kuasa penuh untuk mengambil keputusan, tak peduli apa kata orang sekitar. Bisa aja kamu orangnya cuek, jadi apapun yang kamu mau, ya kamu lakukan saja. ATAU malah orang sekitar kamu yang cuek, jadi apapun yang kamu kerjakan ya biar menjadi urusan kamu. Bukan urusan mereka.

Mau tapi ‘sedikit’ nggak bisa. 

Meskipun kamu tinggal di lingkungan yang orang sekitarnya cuek bebek, secuek apapun mereka, tetap aja kan ya ada orang-orang atau pihak tertentu yang pasti akan punya andil atas keputusan kamu. Contoh: ayah, ibu, abang, kakak. Saya tutup saja itu sampai lingkaran keluarga inti. Kalau paman, tante, istrinya paman, dan berikut-berikutnya yang ngomong, mungkin kamu bisa tutup kuping. Tapi kalau yang bicara adalah ayah dan ibu, sedikit banyak, anak pasti perlu akan paling enggak harus menimbang-nimbang. Untuk urusan ini, ada kalanya hak mengambil keputusan sendiri, menjadi sedikit terbatas.

Mau tapi nggak bisa ‘sama sekali’. 

Ini biasanya terjadi pada orang yang dari kecil sudah terbiasa ‘diatur’ oleh orang sekeliling, khususnya keluarga. Bukannya nggak boleh diatur yah. Ada yang memang dari kecil sudah terbiasa aja. Jadi, begitu gede, tanpa sadar kita jadi kurang punya keberanian untuk mengambil keputusan sendiri. Atau malah keluarga kamu yang nggak terlalu ‘percaya’ untuk memberikan kamu kebebasan karena terbiasa ngambil keputusan untuk kamu

Bisa tapi nggak mau. 

Ini nyambung dengan sebelumnya. Orang sekitar mah sudah kasih kamu kebebasan atau kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Tapi kamu memilih untuk membiarkan keputusan diambil orang lain. Pertama-tama keputusan kecil, lama-lama semua keputusan menjadi keputusan orang lain, bukan kamu sendiri. Karena kamu secara sadar memilih untuk menyerahkannya pada orang lain.

Bisa dan mau.

Di sini, kamu punya kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri, dan sadar bahwa itu adalah sesuatu yang bisa dan harus kamu manfaatkan dengan baik. Jadi, mayoritas dari apa yang kamu kerjakan sekarang, adalah menjadi keputusan kamu. Setelah sampai di episode 13 dari 13 Reasons Why, saya agak merasa Hannah masuk golongan ini. Terlepas dari drama di sekolah yang menimpa hidupnya, Hannah kelihatannya punya keluarga yang kayaknya tidak terlalu mengekang dan memberikannya ruang untuk menentukan pilihan. Lagi-lagi yah, meskipun kalau mengikuti cerita film, keputusannya ya nggak terlalu tepat juga, karena berdampak besar pada banyak orang.

Saya ndak bahas tentang keputusan Hannah yang salah, atau tentang mana jenis yang benar, atau tentang depresi. Ini refleksi kecil saja di hari Minggu ini setelah nonton tentang korelasi dari apa yang terjadi dengan kehidupan kita saat ini dengan keputusan ‘mengambil keputusan’.

Kalau bisa memutar waktu dan punya banyak waktu, saya ingin bisa mempengaruhi orang-orang sekitar saya untuk berani mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, dimulai dengan menyatakan kepada sekeliling bahwa : “Hey, ini hidup saya, sini saya coba atur dan saya yang ambil keputusannya”.

Tentu saja ada resiko besar untuk itu. Kalau mau mengambil keputusan sendiri, berarti kamu harus menyusun semuanya dengan baik, menimbang baik dan buruknya, merencanakannya secara matang, supaya ketika kamu mengambil keputusan, itu menjadi keputusan terbaik untuk dirimu dan tidak merugikan orang lain, siapapun itu, apalagi orang-orang yang peduli padamu. Dan jika terjadi sesuatu karenanya yang tidak baik, kamu pun sadar, “Hey itu keputusanku. Resikonya, saya yang tanggung“. (Ingat, resikonya bisa jelek banget, bisa bikin kamu sengsara banget, jadi, pikir baik-baik).

Kalau di kerjaan, tentu saja prinsip barusan tidak berlaku sebab hidupmu sebagai seorang profesional menjadi hak bos, client, dan aturan perusahaan kamu. Kalau nggak suka, yah…. 🙂

The Bad Place

Menyambung cerita tentang film The Good Place, ada juga yang namanya The Bad Place.

Secara harafiah (atau menurut konsep di filmnya The Good Place juga), The Bad Place digambarkan sebagai tempat yang sangat tidak menyenangkan, menakutkan, menyeramkan, penuh sengsara, menyedihkan, dan segala kejelekan-kejelekan lainnya (ngetik kata-kata ini aja bikin hati jadi nggak enak haha).

Berasa nggak sih kalau kita juga banyak berada di situasi seperti di atas waktu di kantor, di rumah, ketemu teman, ngomong dengan saudara, atau ketemu siapapun? Perasaan kesel, marah, sebel, bete, dan sebagainya, sebenernya membuat kita mampir ke The Bad Place versi manusia di muka bumi.

Tapi, kalau kita bisa merasakan hawa di bad place selama hidup, berarti kita juga bisa merasakan hawa The Good Place dong hari ini juga, nggak usah nunggu meninggal? Betul sekali! Harusnya begitu.

Waktu saya bahagia abis ketemu sup favorit, abis makan es krim coklat, abis makan kenyang, atau abis ketawa-ketawa dengan teman, itulah momen saya mendarat di The Good Place. Waktu resep makanan kamu berhasil, waktu kamu jalan-jalan, waktu kamu berhasil bangun pagi untuk bersih-bersih kamar atau rumah, kamu pun mendarat di The Good Place.

Berapa lama bisa mendarat di tempat yang baik dan menyenangkan itu? As long as you wish!

Jadi…

We’re in a full control of whatever we want to do and wherever we want to be we want to be. Ultimate happiness don’t come when life’s end yet the ultimate sorrow. It’s happening every day, every minute, every second right in your hand and in your mind. So, live right, and you’ll end up in a right place, in a good place.