Gallery

TEDxJakarta #Niyata

Karang laut yang sudah dibor dibawa ke darat untuk di-MRI. Dari sana, peneliti bisa mengetahui iklim bumi dari berpuluh-puluh tahun lalu dan memperkirakan perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. 

Ucap pembicara sambil menayangkan foto belasan batu karang sepanjang pipa plafon yang telah diikat menjadi satu, dan dibaringkan di mesin MRI. Iya, mesin MRI yang itu, yang biasa dipakai manusia untuk mengecek seluruh tubuh kalau habis jatuh atau kecelakaan parah. Baru tahu kalau karang juga bisa di-MRI? Saya juga. ūüôā

Adalah Intan Suci Nurhati yang menceritakan hal ini pada TEDxJakarta hari Minggu lalu. Meneliti di lab dan menyelam di dasar laut sudah jadi makanan Intan sehari-hari. Bayangkan, sambil menyelam meneliti. Keren ya? Iya sih, kalau untuk saya. Intan adalah satu dari delapan pembicara lainnya di TEDx kemarin yang cukup membuat saya takjub.

**

Di penyelenggaraan yang ke-12, TEDxJakarta tahun ini mengangkat tema Niyata, dari bahasa Sansekerta. NIyata juga menjadi asal muasal kata “Nyata”.

TEDxJakarta 12: Niyata evolves around the celebration of order, abides to the notion that even nature most often works in alluring patterns, precipitated by the sum of many tiny-yet-meaningful and methodical inflections.

Sesuai tema besar TED “Ideas Worth Spreading”, pembicara tahun ini menghadirkan mereka yang menginspirasi dengan karyanya dari laut, tanah, dan udara. Selain Intan yang tadi disebutkan di atas, ada juga¬†Faye Simanjuntak, yang walaupun baru berusia 15 tahun, telah menginisiasikan berdirinya Rumah Faye, sebuah lembaga non-profit untuk perlindungan perdagangan anak di Indonesia. Dari bidang seni, ada¬†Anindya Krisna¬†yang dengan kepiawaiannya menari balet selama 20 tahun, memilih untuk kembali ke tanah air dan membagikan ilmunya kepada anak-anak muda, walaupun dirinya telah mendapatkan peluang karir yang sangat menjanjikan di luar negeri.

Secara keseluruhan, apa yang disampaikan betulan menginspirasi. Apalagi ketika melihat banyaknya orang pintar di luar sana yang menempuh jalur yang ‘tidak biasa’ untuk bisa berbuat bagi masyarakat. Misalnya, penelitian terhadap nyamuk, atau peneliti yang mengamati serius perkembangan amfibi seperti kodok / katak sawah. Kelihatannya sepele. “Ngapain sih nyamuk diteliti?”.

Tapi, ternyata urusan tak jadi se-sepele itu setelah kita tahu bahwa penelitian nyamuk dilakukan untuk “menyebarkan” bakteri baik bernama Wolbachia yang berfungsi sebagai penangkal alami untuk virus demam berdarah. Atau penelitian terhadap amfibi perlu dilakukan karena konsumsi manusia Indonesia terhadap amfibi seperti kodok, ternyata berada di angka yang sangat besar (maaf saya lupa tepatnya berapa), yang kalau tidak dijaga akan merusak ekosistem alam.

Singkat kata, saya senang sih bisa hadir di TEDxJakarta kali ini, setelah perkenalan pertama dengan TED Talks hampir 8-9 tahun silam. Nyenyes juga rasanya setelah bisa melihat langsung tulisan warna merah putih itu di panggung beneran dengan background hitam pekat khasnya TEDx. Melihat bagaimana para pembicara bisa berbicara selama hampir 20 menit penuh, juga cukup berkesan. Salut untuk persiapan para pembicara dan orang di baliknya yang membuat penyampaian 20 menit itu bisa tetap menarik dan berisi, tanpa jeda. Meskipun diorganisir secara sosial, namun kualitas acaranya cukup bagus. Panitianya juga oke. Kemasan acaranya pun juga.

Mudah-mudahan suatu saat nanti ada kesempatan mengikuti TEDx di lain tempat. Kalaulah ada kesempatan untuk ikut TED Talks di luar negeri, mungkin juga akan jauh lebih seru, karena seringkali topik yang dibahas sangat beragam, mulai dari politik, seni, cinta, kuliah, kehidupan, dan macam-macam.

Sekali lagi, selamat untuk seluruh panitia TEDxJakarta! 

Semoga yang berikutnya semakin kece! 

TEDxJakarta 2017
TEDxJakarta 2017
TEDxJakarta 2017
TEDxJakarta 2017
TEDxJakarta 2017
TEDxJakarta 2017

Follow Instagram @TEDxJakarta untuk info detil pembicara kemarin, atau ke TEDTalks buat referensi topik-topik TEDx dari berbagai negara.