Ponakan

Hai, perkenalkan, saya tante dengan ponakan berjumlah satu tim sepakbola + 1 cadangan. Kalau lagi ngumpul semua, bisa ada yang nangis, teriak, ketawa, asik main sendiri, makan, main Instagram, seru dengan Squishy, pesawat, truk, dan macem-macem.

Punya banyak ponakan juga jadi refreshing, apalagi kalau pas ngobrol. Ada aja celetukan yang bikin senyum-senyum. Macam ini… Diskusi aneh bin ajaib.

Naldo gurunya siapa? // Miss Elly. // Miss Elly cewek apa cowok? // Cewek dong. Namanya aja ‘miss’. Kalau cowok kan ‘mister’… // (Oh iya.)

  • Naldo, 3 hari lagi ulang tahun ke-4

Kamu sering jadi tempat curhat? // Iya. Biasa dicurhatin. Ada yang nangis, ada yang mau bunuh diri.. // Hah? Curhatnya emang gimana? // Pakai Line aja. // Oh, ya udah nanti gantian Tante yang curhat. // 

  • Hesly, 6 SD

Tante kok belum punya pacar? // Iya nih. Kamu mau bantu cariin? // Aku cariin di Instagram ya. Nanti aku kirimin fotonya ke Tante. // Boleh. // Yang umurnya berapa? Lebih muda mau? // Muda dikit, nggak papa. // Kalau 35? // Nggak papa. // Nanti kalau tiba-tiba ada yang SMS tante, kenalan dari Instagram gimana? // Ya udah dibalas aja… // Kan aku nggak kasih tau dia nomor Tante. Aku kan cuma ngirimin foto dia ke Tante. //  (??)

  • Laura, 3 SD

 

 

Krisis Teman

Punya banyak teman itu, ENAK! Nggak punya teman, SEDIH! 

Salah satu kendala besar yang gue hadapi setelah menjalani hidup baru di Pontianak adalah mencari teman baru. Waktu SMA, gue bukan anak gaul yang berteman dengan banyak orang. Jalan-jalan keliling kota, nongkrong, atau apapun kegiatan seru anak muda kala itu, sangat jauh dari memori gue tentang kehidupan SMA. Pulang sekolah, gue langsung pulang. Kadang les. Malam, jarang kemana-mana. Apalagi, jaman itu nggak ada mol. Uang pun pas-pasan. Sebagian besar waktu gue dihabiskan dengan kegiatan di vihara. Karena itu, sebagian besar teman ya teman vihara. Teman SMA yang jumlahnya minim itu pun sudah terpencar kesana kemari. Hanya tinggal satu dua teman yang ada di kota ini.

Begitu pindah ke sini, gue kelimpungan menghabiskan waktu. Untung ada Lina dan Lauren yang cukup setia menemani. Lina, karena satu kursus dan satu vihara dengan gue, bisa menemani dalam waktu waktu yang cukup banyak. Lauren, karena punya kegiatan di toko, jarang bisa menemani. Tapi tetap saja, gue masih merasa kesepian dan kekurangan teman. 😦

Untuk poin yang ini, gue sering merasa sedih. Mengingat betapa banyaknya teman-teman di Jakarta, gue sering merasa sepi. Kami bisa berbincang berjam-jam untuk topik bodoh sampai serius, menempuh berjam-jam kemacetan demi menempuh suatu tempat, bersiap-siapa sekian jam untuk bisa mejeng di mol kece, dan sebagainya.

Gue pun mulai berpikir, betapa besar peranan seorang teman. Prinsip lebih penting teman daripada pacar’ pun mulai gue yakini kebenarannya. Waktu yang gue habiskan bersama teman, menjadi pelarian terampuh, saat gue merasa jenuh, kesal, atau pusing dengan urusan pribadi.

Jadi, untuk kalian yang punya satu, dua, lima, sepuluh, atau banyak sekali teman, hargailah mereka, berterimakasihlah atas kehadiran mereka. Tanpa mereka, sungguh hidupmu akan sangat hambar.

Dengan ini, gue juga harus berterima kasih untuk Lina dan Lauren yang masih setia menemani gue. Dengan masih panjangnya perjalanan gue di kota ini, semoga gue, menemukan jalan lagi untuk mendapatkan teman-teman baru, melengkapi cerita gue bersama kalian. :).

Oh yah, terima kasih juga untuk vinnydubidu.wordpress yang sudah menjadi teman paling setia gue. Yang tak pernah protes mendengar curhatan gue. 🙂

This is a note dedicated to all of my friends, wherever you are. You know who you are. I miss you! 🙂 

Do you count the efforts?

I still find thing is so difficult in a new job I had this recent month.
Beside all the ‘don’t understand’ and ‘confuse’ things that happened almost everytime I did the job,
I still got some others troubles to deal with.

I don’t know if it is okay for me to do a complain or not.
But, to have your several works are not used as they’re supposed to, it’s just a hurt.
I spent few hours in front of PC, searched for information here and there, asked everyone I can,
This still had nothing to do with all the emotional and pressure I had everytime I did it.
And finally, it’s paid with a ZERO result.
Can you feel what I feel, people?
Nothing can hit you more than what you did was not appreciated in every kind of ways.

Oh, yes. I am sad.
But, I still try to believe that everything’s happened for a reason (superb cliche).
And by the un-accepted work of mine, it’s going to mean something.
Maybe my work is not good enough.
Maybe my work is not proper enough to be sent to public.
Maybe I had not do my best to accomplish the task.
Maybe I am not suitable for this kind of….
Hmmm, let’s skip the last one.

One day, I used to put myself as a student who are doing assignments.
Once it’s accomplished, I get ten.
If I failed, be ready for nothing.
I try to bear in mind, if that is how I should figure what I am doing right now.

I almost broke down (again) today,
Seeing all my efforts was just flown away as it was nothing.
But, seeing that all the good things must come from one or two fucked up things, 
I’ll try to take it all lightly. 

I hope I could. 
Or, at least, I hope all the positive though I’d mentioned before, could be last, 
or the one, or two, or four months later. 
Forever is better. 
Because that’s how lifes will rule you, isn’t it? 
Amen.

And this is us

When I look into your eyes
It’s like watching the night sky

Or a beautiful sunrise
There’s so much they hold

And just like them old stars
I see that you’ve come so far
To be right where you are
How old is your soul?

I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking us

And when you’re needing your space
To do some navigating

I’ll be here patiently waiting

To see what you find

‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth

We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give up

I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use

The tools and gifts we got yeah, we got a lot at stake
And in the end, you’re still my friend at least we did intend
For us to work we didn’t break, we didn’t burn

We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I’ve got, and what I’m not

And who I am

I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up

Still looking up

I won’t give up on us (no I’m not giving up)
God knows I’m tough enough (I am tough, I am loved)
We’ve got a lot to learn (we’re alive, we are loved)
God knows we’re worth it (and we’re worth it)

I won’t give up on us
Even if the skies get rough

I’m giving you all my love

I’m still looking up

Jason Mraz – I won’t give up

Gejala (galau)

you know you’re sort of lost, when…

  • merasa kerja cuma rutinitas. bukan untuk gaji, bukan juga untuk karya. hanya isi waktu saja. 
  • menyelesaikan pekerjaan agar bisa cepat pulang ke rumah. bukan karena yang dikerjakan sangat menyenangkan. 
  • sangat senang saat jam pulang kerja sudah tiba. 
  • giliran libur, juga sedih. karena enggak ada kegiatan yang bisa dikerjakan. 
  • mulai labil
  • bias hobi
  • merasa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri.
  • ketika datang tawaran kakak untuk bekerja dengannya, kamu mulai berpikir ‘apa gue ambil aja ya?’

somebody, please send me somewhere.