Gallery

Those Who Travel…

… are the richest! 

Few friends of mine are having their trips now. Some for work, some for vacation. Some abroad, some local.

Seeing their pictures on Instagram and Facebook makes me think of “how lucky they are to be able to travel”, especially when everyone (and me alone) have to sit quiet and nicely on their desks working on the daily work stuffs. :).

However, being able to travel is such a precious moment. Those who travel a lot are the richest. 

Travelling is not about going abroad or taking a cool picture with a Windows Explorer look-a-like wallpaper or fancy places.
Travelling is not about having a party or wasting tons of money shopping.
Travelling is not about bringing packs of merchandise to give away to your friends once you’re back to the home town.

Travelling is about a journey you spend your create while driving down the road, seeing the sky when you’re in the plan, enjoying the greenfields when you’re in train, or reminiscing all days you have back before you finally make the journey.

That’s how you’re enriched from the travelling.

I wish I’ll be that rich someday, for being able to travel that much.

Happy travelling, fellas! 

Advertisements
Gallery

Awal Agustus

HAI!

Sibuk banget ni ceritanya?

Enggak juga sih. Kalau sibuk banget, pasti nggak sempet nulis ini. Alasan sebenernya mah, nggak nyisihin waktu buat ngetik di sini aja, plus kekurangan bahan cerita.

Apakah artinya lagi nggak ada yang seru? 

Nggak juga sih. Haha. Makanya, dalam rangka mengenang apa yang seru di bulan ke-tujuh tahun ini, tulisan ini pun dibuat.

Kerja 

Mau dibilang nggak sibuk, sebenernya bagian ini yang paling banyak menyita waktu sejak awal tahun sampai detik ini. Jam kerja di kantor memang agak kelebihan, dibanding kamu yang kalau kerja di kantor biasa. Sebagai bagian dari perusahaan yang ceritanya baru, semuanya pun perlu bekerja lebih. Lebih lama, lebih panjang, lebih berat, lebih sering diminta kerjain ini itu, lebih banyak dikasih deadline, dan…. lain-lain.

Untungnya sejauh ini semuanya masih terasa seru. Banyak kejutan dan pelajaran yang kalau dipikir-pikir, “nggak nyangka juga gue bisa ngerjain beginian”. Contohnya, bikin coding html di WordPress. Buat saya, cukup menjadi pencapaian meskipun codingnya cuman untuk bikin satu garis memanjang doang, atau buat gedein huruf yang nggak ada di pilihan menu visual. 😀

Makan

Ada apa dengan makan? Menyadari hidup yang kurang seimbang karena waktu aktivitas yang panjang dan waktu tidur yang pas-pasan, dan usia yang semakin bertambah, makan pun semakin harus dijaga. Belakangan, udah agak jarang makan kemaleman. Jarang ya, bukannya enggak. Bukannya nggak mau juga. Mau sih mau banget. Tiap mau pulang, kebayang juga pengen makan Kuetiau Mangga Besar, Bakso Solo, Sate Ayam, Nasi Goreng, dan kawan-kawannya. Tapi berhubung jam pulangnya malam, tubuh pun sudah tak kuasa mampir tempat makan atau order makanan.

Alhasil, makan cemilan ada di stok aja, seperti coklat, nastar, biskuit, dan lain-lain.

Kesehatan

Syukurnya masih aman terkendali. Belum ada gangguan berarti (syukurlah sehat-sehat saja). Sesekali pusing, sesekali mata merah karena softlense yang dipake kelamaan, sesekali pegel.

Romansa

Alias asmara, tentunya masih jadi misteri. Titik terang bisa jadi titik abu-abu, dan sebaliknya. Ku berharap titik asmara ini menjadi lebih bercahaya sebelum tahun 2017 berakhir. Amin.

Maunya… 

Maunya abis ini kalau sempet liburan ke tempat-tempat adem yang bisa leyeh-leyeh kayak gini. Kayak trip terakhir ke Bandung sama Christine yang berakhir dengan kebahagiaan gegara dapat airbnb hampir serupa dengan gambar Pinterest di bawah ini. Ah atau ke Ubud lagi juga seru!

Livingroom.jpg

Kitchen 02.jpg

Salam dari tempat kerja,

Sore-sore 

Ponakan

Hai, perkenalkan, saya tante dengan ponakan berjumlah satu tim sepakbola + 1 cadangan. Kalau lagi ngumpul semua, bisa ada yang nangis, teriak, ketawa, asik main sendiri, makan, main Instagram, seru dengan Squishy, pesawat, truk, dan macem-macem.

Punya banyak ponakan juga jadi refreshing, apalagi kalau pas ngobrol. Ada aja celetukan yang bikin senyum-senyum. Macam ini… Diskusi aneh bin ajaib.

Naldo gurunya siapa? // Miss Elly. // Miss Elly cewek apa cowok? // Cewek dong. Namanya aja ‘miss’. Kalau cowok kan ‘mister’… // (Oh iya.)

  • Naldo, 3 hari lagi ulang tahun ke-4

Kamu sering jadi tempat curhat? // Iya. Biasa dicurhatin. Ada yang nangis, ada yang mau bunuh diri.. // Hah? Curhatnya emang gimana? // Pakai Line aja. // Oh, ya udah nanti gantian Tante yang curhat. // 

  • Hesly, 6 SD

Tante kok belum punya pacar? // Iya nih. Kamu mau bantu cariin? // Aku cariin di Instagram ya. Nanti aku kirimin fotonya ke Tante. // Boleh. // Yang umurnya berapa? Lebih muda mau? // Muda dikit, nggak papa. // Kalau 35? // Nggak papa. // Nanti kalau tiba-tiba ada yang SMS tante, kenalan dari Instagram gimana? // Ya udah dibalas aja… // Kan aku nggak kasih tau dia nomor Tante. Aku kan cuma ngirimin foto dia ke Tante. //  (??)

  • Laura, 3 SD

 

 

Krisis Teman

Punya banyak teman itu, ENAK! Nggak punya teman, SEDIH! 

Salah satu kendala besar yang gue hadapi setelah menjalani hidup baru di Pontianak adalah mencari teman baru. Waktu SMA, gue bukan anak gaul yang berteman dengan banyak orang. Jalan-jalan keliling kota, nongkrong, atau apapun kegiatan seru anak muda kala itu, sangat jauh dari memori gue tentang kehidupan SMA. Pulang sekolah, gue langsung pulang. Kadang les. Malam, jarang kemana-mana. Apalagi, jaman itu nggak ada mol. Uang pun pas-pasan. Sebagian besar waktu gue dihabiskan dengan kegiatan di vihara. Karena itu, sebagian besar teman ya teman vihara. Teman SMA yang jumlahnya minim itu pun sudah terpencar kesana kemari. Hanya tinggal satu dua teman yang ada di kota ini.

Begitu pindah ke sini, gue kelimpungan menghabiskan waktu. Untung ada Lina dan Lauren yang cukup setia menemani. Lina, karena satu kursus dan satu vihara dengan gue, bisa menemani dalam waktu waktu yang cukup banyak. Lauren, karena punya kegiatan di toko, jarang bisa menemani. Tapi tetap saja, gue masih merasa kesepian dan kekurangan teman. 😦

Untuk poin yang ini, gue sering merasa sedih. Mengingat betapa banyaknya teman-teman di Jakarta, gue sering merasa sepi. Kami bisa berbincang berjam-jam untuk topik bodoh sampai serius, menempuh berjam-jam kemacetan demi menempuh suatu tempat, bersiap-siapa sekian jam untuk bisa mejeng di mol kece, dan sebagainya.

Gue pun mulai berpikir, betapa besar peranan seorang teman. Prinsip lebih penting teman daripada pacar’ pun mulai gue yakini kebenarannya. Waktu yang gue habiskan bersama teman, menjadi pelarian terampuh, saat gue merasa jenuh, kesal, atau pusing dengan urusan pribadi.

Jadi, untuk kalian yang punya satu, dua, lima, sepuluh, atau banyak sekali teman, hargailah mereka, berterimakasihlah atas kehadiran mereka. Tanpa mereka, sungguh hidupmu akan sangat hambar.

Dengan ini, gue juga harus berterima kasih untuk Lina dan Lauren yang masih setia menemani gue. Dengan masih panjangnya perjalanan gue di kota ini, semoga gue, menemukan jalan lagi untuk mendapatkan teman-teman baru, melengkapi cerita gue bersama kalian. :).

Oh yah, terima kasih juga untuk vinnydubidu.wordpress yang sudah menjadi teman paling setia gue. Yang tak pernah protes mendengar curhatan gue. 🙂

This is a note dedicated to all of my friends, wherever you are. You know who you are. I miss you! 🙂 

Do you count the efforts?

I still find thing is so difficult in a new job I had this recent month.
Beside all the ‘don’t understand’ and ‘confuse’ things that happened almost everytime I did the job,
I still got some others troubles to deal with.

I don’t know if it is okay for me to do a complain or not.
But, to have your several works are not used as they’re supposed to, it’s just a hurt.
I spent few hours in front of PC, searched for information here and there, asked everyone I can,
This still had nothing to do with all the emotional and pressure I had everytime I did it.
And finally, it’s paid with a ZERO result.
Can you feel what I feel, people?
Nothing can hit you more than what you did was not appreciated in every kind of ways.

Oh, yes. I am sad.
But, I still try to believe that everything’s happened for a reason (superb cliche).
And by the un-accepted work of mine, it’s going to mean something.
Maybe my work is not good enough.
Maybe my work is not proper enough to be sent to public.
Maybe I had not do my best to accomplish the task.
Maybe I am not suitable for this kind of….
Hmmm, let’s skip the last one.

One day, I used to put myself as a student who are doing assignments.
Once it’s accomplished, I get ten.
If I failed, be ready for nothing.
I try to bear in mind, if that is how I should figure what I am doing right now.

I almost broke down (again) today,
Seeing all my efforts was just flown away as it was nothing.
But, seeing that all the good things must come from one or two fucked up things, 
I’ll try to take it all lightly. 

I hope I could. 
Or, at least, I hope all the positive though I’d mentioned before, could be last, 
or the one, or two, or four months later. 
Forever is better. 
Because that’s how lifes will rule you, isn’t it? 
Amen.