Gallery

Mr. Photograph

And so… 

According to Facebook newsfeed last night, he’s coming to Asia this year.
Please bear with me till D day. Let me be there.

Finger crossed.

Amen. 

Related post: Ed Sheeran ÷ (Divide)

Advertisements
Gallery

Nonton Konser

Setelah Coldplay, Sheila on 7 adalah band Indonesia yang konsernya pengeeeen banget ditonton dari jaman SMP. Dan akhirnya, semalam KESAMPEAN!

Saya udah seneng sama mereka dari jaman SMP. Waktu album ini.

so7.jpg

Jaman itu, masih pakai kaset pita. Waktu siaran radio, udah mulai ada komputer dan MP3. Sejak itu, lagu berpindah ke file-file yang dicopy dari radio, untuk diputer di rumah.

Dulu ‘tu inget banget selalu pengen nonton konser Sheila. Tapi jaman dulu, berhubung umur masih kecil, akses ke luar rumah terbatas, nggak pernah deh kayaknya ada kesempatan nonton konsernya. Selain (kayaknya) jaraaang banget mereka ke Kalimantan, konser di sana kebanyakan digelar di lapangan bola. Ya manalah mungkin diijinkan, anak SMP nonton konser di tengah lapangan bola. Apalagi, bayangannya waktu itu kalau nonton konser band, pasti penontonnya sangar : baju item, rambut tinggi, penuh aksesoris berantai. :D.

NAH! Minggu lalu, temen kantor ngepost soal konser Sheila on 7 di SCBD, seharga 150rb. Tanpa ba bi bu, langsung pengen ikutan. Nggak berharap banyak dari konser ini, selain memenuhi hasrat nonton Duta nyanyi, bersama Erros dan Adam, di panggung, dengan mata-kepala-sendiri.

Waktu opening, begitu masuk panggung, Duta langsung, nggak pake nyapa-nyapa. Sempat berasa, “ah dingin banget doi. Ngga asik“. Eh ternyata, mereka baru abis show di Semarang hari itu juga. Lalu transit di Jogja. Karena peristiwa roda tergelincir, jadwal penerbangan pun delay, dan jadwal tiba ke Jakarta jadi bergeser. Setibanya di Jakarta, langsung deh meluncur ke SCBD buat nyanyi lagi. Pantesan tampak agak lelah di awal. Maapkan, Duta, sempat suudzon

Lalu…

Ini si Duta mukanya nggak berubah. Suaranya pun. Eross dan Adam pun gitu-gitu aja mukanya, sama aja dari jaman SMP. Untungnya lagu yang dibawakan semalam itu 80% lagu lama jadi bisa ikutan nyanyi. Soalnya kalau udah lagu baru (bangsanya Radio atau Hari Bersamanya di album Lapang Dada dan sebelumnya), bisanya cuma mingkem karena nggak ngikutin. Tapi, pas malem itu, cuma 2-3 yang nggak bisa dinyanyiin (puas!).

Nah, layaknya efek pasca nonton konser, pagi ini pun perjalanan ke kantor ditemani playlist Sheila on 7 selama 70 menit penuh. (Terima kasih Spotify tercinta!). Semakin didengarkan, Sheila on 7 ini memang ajaib! Pada era 1999 dan setelahnya, lagu mereka sudah mencakup segala topik, segala mood, applicable buat waktu dan suasana apapun hingga hari ini. Lirik galau, musiknya kenceng. Lirik kenceng, musiknya bisa galau.

Coba kita lihat..

Mau nembak cewek, ada Jadikan Aku Pacarmu,
buat bikin cewek meleleh, ada Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki,
buat gebetan yang ditaksir diam-diam, ada Penuja Rahasia, Itu Aku,
buat yang akhirnya dapet pacar, ada Hingga Ujung Waktu
buat Bapaknya gebetan, ada BapakBapak,
buat Ibu sendiri, ada Just for My Mom, 
buat pacar karena ketemu cem-ceman baru tapi nggak pernah kasih tau karena takut disambet sendal, ada Jangan Beritahu Niah,
masih buat pacar sebagai ungkapan tersirat untuk meminta maaf, ada Kita, Dan, (dan masih banyak lagi)
buat penguasa negeri yang serakah, ada Lihat Dengar Rasakan,
buat perpisahan, ada Sebuah Kisah Klasik,
buat masa tua, ada Saat Aku Lanjut Usia,
buat perempuan biar nggak galau ada Untuk Perempuan,
buat laki-laki yang kesepian, ada Pria Kesepian,
buat mengoptimalkan hormon galau, ada Seandainya, Berhenti Berharap, Takkan Pernah Menyesal, Waktu yang Tepat tuk Berpisah (banyak bener pin),
buat selingkuhan, apalagi kalau bukan Sephia,
buat yang LDR, ada Tunggu Aku di Jakarta

Dan masih BANYAK lagi!

Bener kata Duta semalem, harusnya konser semalam bukan 1,5 jam. Tapi sampai jam 5 pagi…

I truly heart you, Sheila on 7!

Berirama

Untuk urusan mendengar lagu, saya lumayan telaten. Mulai mata melek, sampai mata merem, saya selalu mengusahakan ada lagu yang sedang diputar di sekeliling. Khususnya kalau lagi di tempat sendiri dan lagi sendirian ya. Kalau ada temen ya nggak usah setel lagu. Jalan-jalan atau ngobrol aja. 😀 

Karena kebiasaan ini, saya pun membeli hape murah meriah yang bisanya cuma buat SMS dan telepon plus radioan. Enaknya HP model ini, radi-oan nggak perlu ribut, nggak pakai internet karena langsung pakai antena handphone (kalau nggak salah). Selain itu, baterainya juga irit. Biasanya, 2-3 hari baru saya cas lagi.

Untuk menggunakan fitur radio, umumnya HP model begini harus dicolokkan dengan headset. Supaya suara lebih mumpuni, saya pun membeli speaker portable. Selama hampir 6 bulan terakhir, keberadaan si hp dan si portable sudah tak terpisahkan.

Begitu bangun pagi, benda pertama yang saya cari (selain HP) adalah dua barang ini. Begitu dibuka, biasa HP sudah dalam posisi standby di menu radio. Soalnya, malam sebelumnya radio mati karena sleep mode yang dipakai. Kurang dari 5 menit, lagu sudah berbunyi di kamar.

Radio akan terus dinyalakan sampai saya mau meninggalkan rumah.

Pemutaran radio selanjutnya tentu berlangsung dalam perjalanan menuju kantor. Hampir tidak pernah saya berada di perjalanan tanpa bunyi lagu. Mau lagu radio, atau lagu Spotify, pokoknya kudu ada lagu.

Sesampainya di kantor, hal sama juga terjadi. Di kantor saya, setiap orang dibekali dengan headset portable. Selain buat teleponan, mungkin juga supaya setiap pegawai bisa mendengarkan lagu sembari bekerja (daripada sambil ngobrol). Makan siang, tidak ada lagu. Setelah makan siang, kembali ke meja kerja, Spotify dinyalakan kembali. Dulu sebelum ada Spotify, saya suka mengakses Tune In atau Youtube dan Apple Music – sebelum iuran bulanannya jadi mahal. Kalau lagi kerja sendiri, hampir 80% ada musik yang dimainkan.

Kembali ke perjalanan setelah pulang dari kantor, lagu pun kembali dikumandangkan. Sesampainya di rumah, HP dan speaker portable kembali beraksi lagi. Sampai jam tidur, sampai ketiduran, sampai besok paginya lagi… Begitu setiap hari.

***

Dengan kemacetan dan keriwehan kota Jakarta, mendengarkan lagu memang sangat membantu. Apalagi belakangan ini, atau akhir-akhir ini, dimana hujan sering turun. Kehadiran lagu baik ketika kamu di dalam atau di luar rumah, lumayan jadi teman yang bikin adem. Dengerin playlist bagus di tengah hujan di luar sana udah paling cakep!

Pasalnya, apapun suasana hati kamu, selalu ada musik yang bisa mengikuti. Senang, semangat, pengen joget, pengen ngelamun, pengen galau, pengen kesel, pengen ngomel, segalanya ada. Tinggal dicari saja.

Untuk teman di perjalanan, radio favorit saya belakangan ini adalah radio dengan playlist lagu soft beat, yang kebanyakan adalah tembang-tembang 90-an. Nggak yang menye, tapi liriknya bermakna, dan bikin semangat. Cuman ya nggak jarang juga, kalau malam minggu, atau lagi semangat, atau lagi ngantuk (dan biar melek), saya putar juga lagu-lagu masa kini yang berirama joget-joget itu.

Menutup akhir pekan di minggu pertama bulan Desember ini, saya tambahkan nih lagu yang diputer di radio saat perjalanan pulang saya ke rumah. Tembang lawas untuk menutup hari ini. Semoga besok berlangsung seru. Semoga Desember berjalan indah.

Salam!

Ada yang begini juga? 

Sejak Saat Itu Langit Senja…

Setahun lalu, sahabat saya mengenalkan saya dengan Monita Tahalea. Persis setelah album Dandelion diluncurkan, saya mulai mengikuti karyanya. Dari Youtube, Spotify, lalu berlanjut ke Instagramnya. Ada masanya di kala musik Monita menjadi pengencer otak saya kala mumet di kantor sedang menjadi-jadi. Atau, menjadi musik pengantar tidur yang cukup ampuh.

Beberapa bulan lalu, Monita menggelar konser di Salihara. Karena sesuatu dan lain hal, saya tidak bisa hadir untuk menyaksikan pertunjukannya, yang sudah saya duga (dan memang betul adanya) bakal keren banget.

Tapi…

Akhirnya, hari ini saya berhasil menyaksikan langsung penampilan dari Monita di Galeri Indonesia Kaya. Tak banyak yang bisa dikatakan, selain, keren banget. Musiknya, harmonisasi lagu, kebersamaan dengan rekan satu tim, gayanya, sepatunya, ah semuanya, saya suka. Sebagai penggemar baru, saya senang sekali.

Thanks for the great music this weekend, Monita & friends! Abaikan wajah saya & kawan yang terlalu bahagia. 🙂 

Picture by : Randita

Check out the video here, still taken by Randita.

Deg-Degan Nggak Sih?

Bulan 12 tinggal 7 hari lagi. Iya. Cepet banget! 

Memasuki minggu terakhir jelang pergantian tahun, saya mulai mengingat-ngingat apa yang sudah dikerjakan selama 12 bulan, seperti yang biasa dilakukan orang-orang. Sebelumnya, topik yang sama juga sudah pernah dibahas dengan teman-teman. “Kayaknya gue nggak ngapa-ngapain aja setahun ini. Parah”. Ternyata, topik ini juga menyelinap ke pikiran, waktu saya sendirian. 

Kalau dirating dari tingkat kebahagiaan, tahun ini sebenarnya cukup membahagiakan. Kalau dari skala 1-10, di angka 8.5 lah kira-kira. 

Saya mengawali kebahagiaan tahun ini dengan menikmati detik pergantian waktu tahun 2014 ke 2015 dengan hiruk pikuk di jalanan Las Vegas. Saya saya sering sih mimpi ke Amerika, bertahun-tahun bahkan. Tapi waktu kejadian beneran, tetap aja pertanyaan “beneran nih nyampe ke sini?” muncul juga. Bahagia banget!

Kebahagiaan berikutnya terjadi di pertengahan tahun. Cina, negara yang tidak pernah menjadi target saya untuk belajar, akhirnya menjadi atap saya selama hampir 5 bulan. Dari sini saya percaya, hidup bersama sesuatu yang tidak kita suka atau impikan atau harapkan untuk kurun waktu tertentu bisa membawa perubahan besar. Salah satunya, saya jadi kangen Guangzhou, kangen Cina. Kangen teman-temannya, kangen kampusnya, kangen makanan porsi 2 harinya, kangen lari-larinya. Kangen panasnya. Kangen dinginnya. Diam-diam saya mulai mendengarkan lagu-lagu Mandarin sambil membayangkan saya sedang berbicara dengan teman sekelas saya dulu. Suwer, kangen banget. 

Guangzhou.jpg

Kebahagiaan lain, kerja di tempat baru. Kalau yang ini, pernah saya bahas sebelumnya. Kebahagiaan bisa merasakan sesuatu yang baru memang selalu meninggalkan kesan mendalam. Rasanya, bagi siapapun sama. Dua kebahagiaan sebelumnya toh terjadi karena ke-baru-annya : baru pertama ke Amerika, baru pertama ke Cina. Hal serupa juga terjadi waktu baru pertama kali kerja di bidang baru, dengan tanggung jawab baru. Dan yang terutama, bertemu teman-teman baru yang sering membuat saya cekikikan hingga tertawa terbahak-bahak, hingga malam ini.

FULL.jpg

Kebaruan dan kebahagian ini membuat saya berpikir ulang tentang poin 1.5 yang tersisa. 1.5 ini menjadi porsi dari kegalauan karena rencana yang belum terlaksana, serta kumpulan harapan yang sirna begitu saja. Tanpa sadar, bahkan seringkali, si satu koma lima ini porsi yang dimiliki kebahagiaan yang saya jabarkan di tiga paragraf sebelum ini. Mau baca 10 quotes di Instagram, curhat ke 10 teman, baca artikel 15 motivasi, tetap aja jatuh ke lubang sama, berulang-ulang. 

Tapi, di H-6 sebelum tahun baru datang, saya sadar harus tetap positif. Sebenarnya ada berkat juga ketika kita belum mendapatkan yang diinginkan. Pertama, kita punya kesempatan untuk mencoba lagi di tahun mendatang. Gratis loh nyobanya. Kedua, berkat harapan yang pupus, kita mendapat peluang ‘olahraga’ gratis, supaya tahun depan fisik dan hati bisa lebih kokoh dari sebelumnya. Kata orang, jiwa yang kuat bisa menarik jodoh yang kuat. Universe conspires, remember?

Gimanapun, saya penganut kepercayaan bahwa “You are what you think you want to be”. Kalau berpikir ingin jadi positif, bisa jadi positif. Kalau berpikir bisa jadi bahagia, pasti bisa bahagia. Kalau berpikir bisa lebih baik, pasti bisa lebih baik. 

Termasuk, kalau berpikir nggak perlu deg-degan, tetap tenang, semua akan baik dan selalu ada yang lebih baik, niscaya semua yang dipikirkan akan terjadi. 

Blog.jpg

Selamat menyambut Tahun Baru 2016!