Gallery

Minggu Tenang

Hasil akhir kepada Bapak Ahok tiba-tiba membawa kesedihan kepada banyak orang. Bahkan, Ibu saya yang tidak pernah mengikuti berita tiba-tiba bilang bahwa dia menangis setelah mengetahui apa yang terjadi pada Ahok. Padahal, kalau dipikir-pikir, sedekat apa kita dengan Bapak? Kerabat? Teman sekolah? Teman main?

Tapi, ialah Ahok. Sosok yang berhasil membuat banyak masyarakat menyukai, mencintai, mengagumi, hingga membenci, untuk alasan yang tidak cukup kuat untuk membuat kita ‘baper’. sedemikian jauh.

Emosi saya campur aduk semenjak Pilkada. Mulai dari semangat berapi-api untuk menonton debat 1, 2, hingga setengah berhasrat menonton debat terakhir. Dari rasa takut karena melihat tank dan puluhan pasukan berseragam hijau tiba-tiba siaga di dekat tempat tinggal saya saat terjadi demo 121, 212, 313, sampai ilfeel dengan isu demo 414 dan seterusnya yang semakin tidak jelas tujuannya. Dari deg-degan melihat 1, 2, 3, hingga kaget kerena tiba-tiba sudah sidang ke-19, lalu terdiam di sidang terakhir.

Namun, dari semua kejadian itu, ada satu yang selalu terjadi.

Bapak Ahok selalu ada. Dengan konsisten, Bapak tetap berkampanye selama masa pemilihan. Di luar waktu kampanye, Bapak tetap melakukan tugasnya sebagai Gubernur; menemui warga yang mengantri di Balai Kota, memantau proyek yang sedang dilakukan Pemda, rapat, dan seterusnya. Di tengah ketakutan warga karena demo yang berkali-kali dengan isu dan hoax yang membanjiri, Bapak tetap bekerja. (Kalau saya jadi Bapak atau keluarganya, saya akan takut setengah mati dan memilih untuk diam di rumah).  Di tengah kesibukannya untuk melayani warga, Bapak tetap mengikuti sidang berjam-jam, tanpa absen satu kali pun.

Apakah Pak Ahok tidak pernah bete, pusing, capek, demam, atau darah tinggi saat menghadapi hari-hari di atas? Tentu saja iya. Tapi, lagi-lagi. Ialah Ahok. Sosok yang menunjukkan betapa dedikasi itu selalu harus konsisten dan maksimal, apalagi untuk apa yang kamu kerjakan atau diamanatkan kepadamu, dan untuk apa yang kamu rasa benar dan membawa manfaat untuk banyak orang.

Tidak perlu lagi saya rincikan apa perubahan baik yang telah Ia bawa untuk ibukota. Bahkan, super Uber yang tidak saya kenal pun dengan bangga menceritakan kebahagiannya atas perubahan di Jakarta, yang baru ia lihat setelah dari Medan berpuluh-puluh tahun lalu.

Alasan ini yang mungkin membuat kita baper berlebihan kepada Pak Ahok, dan mencapai puncaknya pada tanggal 9 Mei.

Emosi yang dirasakan hari itu sungguh berlebihan, apalagi setelah melihat satu demi satu berita mengalir di grup chat, berita online, atau televisi. Respon yang kemudian melahirkan aksi damai di Jakarta, hingga kota-kota lainnya. Seperti beberapa teman, saya juga sempat tidak ingin mengikuti berita seharian pada Selasa kemarin. Belum lagi, kalau foto yang ditampilkan adalah foto Bapak, atau Ibu Vero dengan baju putihnya dan anak sulung Pak Ahok, saat tiba di LP Cipinang.

Perut saya bahkan tidak enak saat kata “LP” nongol di sini.

Indonesia Bukan Ahok

Muncul salah satu tulisan ini kemarin di Facebook saya. Judul yang membuat saya muak seketika.

Masih ingat kalian dengan berbagai pesan moral yang diajarkan oleh orang tua, guru, atau paman kita baik di rumah atau di sekolah? Tentang bagaimana harus menghargai orang yang lebih tua, selalu bersikap jujur, saling hormat menghormati, lapang dada, tolong menolong, dan segala macam sifat baik yang harus diamalkan kita sebagai seorang manusia?

Oleh Bapak Ahok, sikap ini diamalkan. Untuk orang yang mengaguminya, moral itu ditularkan atau diniatkan untuk ditiru. Konsistensi Ahok terhadap tugas, tanggung jawab, hingga jadwal sidang, mengajarkan bahwa kita harus selalu bersikap demikian dimanapun juga, dalam kondisi seberat apapun juga. Meskipun tiba tepat waktu tidaklah mudah, tapi ingat, Ahok melakukan itu. Kita yang mengaguminya, wajib melakukan hal yang sama.

Keberanian Bapak Ahok untuk memperjuangkan apa yang ia rasa benar, jauh mengajarkan lebih banyak hal. Tak terhitung lagi betapa seringnya saya atau mungkin kamu ingin mundur, putus asa,  untuk alasan yang mungkin tidak sepantasnya membuat saya sedemikian jatuhnya. Masalah itu selalu ada selama kita hidup. Tapi, bagaimana kita melihat dan menghadapinya, itu yang paling penting. Pak Ahok menginspirasi saya untuk lebih berani.

Pengorbanan. Bagi saya, ini hal terbesar yang beliau lakukan. Pengorbanan untuk menahan diri, menjaga setiap perkataan, hingga menjadi sosok yang baru (bisa bayangkan gimana jadinya kalau kamu yang biasanya tidak bisa diam, tiba-tiba dipaksa untuk menjadi pendiam?). Untuk alasan yang lebih besar, beliau melakukan ini.

Belum lagi, pengorbanannya untuk keluarga agar dapat terus bekerja untuk kita semua. Kampanye pagi malam, membetulkan kebobrokan yang ada selama berbulan-bulan, dan masih banyak lagi. Untuk siapa hal itu dilakukan? Untuk saya, kamu, warga Jakarta, agar bisa tinggal dengan lebih happy, mudah, dan nyaman. Apakah Bapak Ahok tidak mengorbankan banyak waktunya dengan keluarga agar segala rencananya untuk ibu kota bisa terus berjalan? Belajar dari beliau, mungkin sudah waktunya kita memikirkan hal yang sama untuk sesuatu yang lebih besar.

Oh yah. Suatu hari saya diajak melintasi rumah Pak Ahok. Apa yang saya temukan? Bendera merah putih yang berdiri tegak di halaman rumah. Ingat kapan terakhir bendera berdiri di rumah kamu? Rumah saya pun baru sibuk memasang bendera, 2-3 hari sebelum 17 Agustus, setelah diingatkan oleh Pak RT. Itu pun berdiri kurang dari seminggu sebelum diturunkan kembali. Saya ingat betul, hari saya melintasi rumah Pak Ahok bahkan jauh dari bulan Agustus. Apa ada peraturan bahwa pejabat / PNS wajib memasang bendera di rumah mereka? 

Indonesia memang bukan Ahok. Atau sebaliknya. Namun, jika suatu hari kita semua bisa memiliki hati sebaik dan setulus Bapak Ahok, Indonesia bisa jadi tempat terbaik di dunia untuk siapapun. Sayangnya, melatih diri untuk memiliki hati baik dan tulus tidak semudah itu. Tapi, tak ada salahnya berusaha.

Minggu Tenang

Kebaperan saya dan teman-teman masih terus berlanjut hingga hari ini. Tapi, hari ini juga saya menemukan sudut berbeda yang bisa saya jadikan acuan supaya porsi kesedihan ini berkurang.

Atas semua yang dialami, mungkin peristiwa ini terjadi untuk memberikan Pak Ahok sedikit ruang untuk bernafas dari apa yang ia hadapi berbulan-bulan. Kita bisa boleh capek, sedih, marah, bingung, atas apa yang terjadi. Tapi, saya yakin apa yang kita rasakan tidak lebih dari 1/12 dari apa yang Pak Ahok rasakan. Jadi, cukupkan itu di sana. Pikirkan bahwa dengan segala kesulitannya, momentum ini bisa jadi waktu untuk Bapak agar bisa beristirahat sejenak.

Pak, semoga doa saya dan kami semua didengar oleh kekuatan alam semesta dan Tuhan yang kami yakini. Doa agar Bapak dan keluarga tetap sehat. Kami mungkin berduka karena tiba-tiba harus hidup ‘sendiri’ tanpa sosok Ayah yang selama ini telah menjadikan rumah kami lebih nyaman untuk ditinggali. Tapi, seperti yang Bapak sering katakan, kesedihan kami tidak boleh menjadi alasan untuk mencaci maki siapapun, atau lembaga apapun, apalagi membenci bangsa ini. Seperti kata Bapak, kami harus tetap percaya bahwa perubahan baik akan terjadi. 

Pak, semoga ini minggu tenang bagi Bapak setelah serangkaian peristiwa yang terjadi. Semoga ini tidak berlangsung lama sehingga Bapak bisa kembali berkumpul dengan keluarga yang Bapak cintai. Semoga kekuatan manusia yang berusaha melakukan sesuatu untuk Bapak, juga bisa melengkapi kekuatan Tuhan yang dipanjatkan oleh sebegitu banyaknya orang untuk Bapak. Sehat selalu, Pak Ahok. 

**

Di satu sisi, saya bersyukur bisa menjadi bagian dari sejarah pergerakan bangsa ini. Hanya saja, semoga sejarah ini bisa ditutup dengan indah sehingga saya bisa meninggalkan cerita seoptimis perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah yang berakhir bahagia, kepada anak cucu saya. Semoga 10 atau 20 tahun ke depan, peristiwa ini sungguh menjadi sejarah. Bukan lagi bertahan menjadi sebuah peristiwa yang masih terjadi.

Satu lagi. Jika ini bagian dari konspirasi politik, semoga penguasa yang tak puas dengan kekuasaannya atau ingin melipatgandakannya menjadi 100 kali lipat bisa melakukan cara yang lebih pintar untuk mewujudkan keinginannya. Cara yang tak lagi mengorbankan orang, tapi cara yang lebih elegan, bermartabat, dan berkeTuhanan.

hope

 

Advertisements

Mendukung Indonesia, Tidak di Indonesia

Guangzhou, 18 Mei 2015

Tadinya udah hampir batal mewujudkan niat nonton Piala Sudirman di Dongguan. Cuman, setelah ‘dihasut’ sana-sini, akhirnya berangkat juga, bersama dua teman lainnya. Yang satu memang pecinta bulutangkis, yang satu lagi, kayaknya, baru mencintai bulutangkis. =)

P1080362
Dongfeng Nissan Sports Center, Dongguan, China

Ternyata, jadi pendukung Indonesia di kandang orang itu nggak gampang. Apalagi, di ‘kandang’ dengan populasi terbanyak di dunia. Cina. Begitulah yang kami rasakan saat menyaksikan pertandingan semifinal antara Indonesia-Cina, 16 Mei lalu.

Sebenarnya kami udah kepikiran kalau keberadaan kami sebagai pendukung Indonesia yang super minoritas mungkin agak-agak berbahaya. Karena itu, waktu beli tiket, kami minta ditempatkan bersama dengan deretan pendukung Indonesia. Dikasih sih. Cuma, celakanya, setelah tiket diterima di tangan, kami baru sadar “manalah mungkin penjual tiket tau dimana tempat duduk pendukung Indonesia. Yang beli kan buanyak”. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

Berbekal tiket kelas 2 seharga 300 yuan, kami mendapat tempat duduk di bagian tengah. Bukan tempat strategis untuk melihat ekspresi atlet dari jarak dekat, tapi ya cukup strategis untuk melihat dari samping. Selain itu, strategis juga untuk menguping selentingan komentar-komentar dari pendukung lawan.

Begitu pertandingan dimulai, saya dan dua teman langsung antusias memberikan dukungan untuk Indonesia. Balon tepuk tangan yang dibagikan gratis oleh SPG di depan stadion sudah stand by di tangan. Siap ditepukkan ketika atlet Indonesia masuk ke lapangan.

Bekal Telepati

Pasangan pertama yang masuk adalah Hendra Setiawan – Muhammad Ahsan. Kemunculan pasangan ganda putra andalan Indonesia ini langsung disambut meriah oleh 20an atlet Indonesia yang duduk nun jauh di sana, plus kami bertiga yang duduk nan jauh di sini. Iya, hanya kami aja yang tepuk tangan, dan mungkin setumpuk2 orang yang tersebar di belahan-belahan lain. Tapi kami cuek saja. Toh, kami memang pendukung Indonesia. Beberapa pasang mata mulai keheranan melihat kami yang ‘membelot’ dari mereka.

Saat pertandingan berlangsung, hal yang sama juga terjadi. Setiap kali Indonesia mencetak poin, kami langsung bersorak kegirangan. Sementara, tetangga di kiri kanan menatap sinis (saya duduk di tengah, jadi tidak merasakan langsung tatapan nanar itu). Jika lawan yang mencetak poin, kami pun tak berekspresi kendati ribuan orang itu sedang bersorak sorai. Sesekali, kami sok bertelepati dengan atlet Indonesia di belahan kanan itu. Kalau mereka berteriak “In… Do…Ne…Sia…”, kami langsung menepukkan balon dengan kencang “prok prok… prok prok prok…”. Aslinya sih mungkin tepukan kami juga nggak kedengeran oleh si atlet. Tapi tak apalah. Rasanya ‘menyatu’ kok walaupun dari jauh.

Di kandang orang

Waktu pasangan Hendra-Aksan menaklukkan tim lawan, kami langsung berdiri sembari bertepuk tangan. Ceritanya, standing applause. Alhasil, tetangga pun semakin sebal. Tapi, kami masih cuek saja. Maju terus untuk Indonesia.

Belatrix Keseleo

Tanding

Pertandingan kedua berlangsung. Kali ini tidak berjalan lama sebab pemain tunggal putri kita, Belatrix Manuputy, mengalami cedera di menit-menit awal. Padahal, Belatrix sudah mengungguli Cina dengan skor 5-3. Bela sempat mencoba main lagi setelah mendapat pertolongan oleh tim medis. Tapi, dari raut wajahnya, sakitnya memang sakit banget. Alhasil, ia tidak bisa melanjutkan pertandingan. Tim lawan pun mendapat ‘hadiah’ 1 poin dari Indonesia. Tidak perlu terlalu dibanggakan sih, walaupun terus terang kami sedikit sedih.

Pertandingan ketiga dibawakan oleh tim tunggal putra, yang diwakili oleh Jonatan Christy. Jonatan ini pemain baru. Lawannya, Chen Long, pemain nomor 1 dunia. Di salah satu portal berita, Chen Long ini salah satu idola Jonatan. Kalau saya jadi Jonatan, saya pasti senang sekali bisa berhadapan dengan idola saya. Tapi, tentu saja, kesenangan ini harus segera dibungkam karena Jonatan punya tanggung jawab menyumbangkan poin untuk Indonesia. Seperti yang sudah diperkirakan dengan hitungan hitam di atas putih, Jonatan harus mengakui keunggulan idolanya. Di sini, pendukung tetangga semakin menjadi-jadi dan berkoar-koar meneriakkan nama pahlawannya. Saya dan teman-teman, mulai diam. Kedudukan 2-1 untuk Cina.

Babak penentu

Ini

Pertandingan keempat ini yang menegangkan. Greysia Polii dan Nindya akan menjadi penentu kelangsungan tim merah putih. Kalau mereka menang, maka Indonesia akan menyamakan kedudukan. Masih ada peluang di putaran kelima. Sebaliknya, kalau gagal, maka tetangga langsung menang.

Di sini, pertarungan antar pendukung pun semakin terasa. Apalagi, pasangan ganda putri kita bermain dengan penuh perlawanan. Setiap poin didapat dengan begitu susah dan harus melalui reli-reli panjang. Pendukung tetangga yang kaum pria mulai gemas melihat pertahanan tim kita. Kami tentu saja semakin bersemangat bertepuk tangan. Apalagi, Polii dan Nindya berhasil unggul di babak pertama. Dengan bangga, kami menepukkan balon gratisan itu, sembari disambut tatapan kesal dari tetangga.

Pemain

Di babak kedua, permainan semakin tegang. Pasalnya, tim lawan mulai terbakar untuk menaklukkan tim kita. Pendukung pun ikut gregetan. Di deretan belakang kami, dua pria dan satu wanita mulai memberikan komentar-komentar atas permainan di lapangan. “Jago juga ya mereka,” ujar perempuan dalam bahasa Mandarin. Kawannya yang pria, dengan penuh semangat meneriakkan “Bunuh… Bunuh…”, mengiringi setiap pukulan smash yang ditembakkan bagi pemain Indonesia. Sayangnya, tim Indonesia tak semudah itu dibunuh. Beberapa kali, Polii dan Nindya menutup percobaan pembunuhan oleh tim lawan dengan perolehan poin. Kalau sudah begitu, si pria akan kecewa. Sempat iya bercelutuk, “Kenapa dibunuh nggak mati-mati sih!”. Kami di bawah cengengesan saja. Sayang, Indonesia kalah di babak kedua.

Babak ketiga sekaligus babak penentu, makin panas. Tim lawan semakin menekan. Tim kita pun sedikit mengendor di babak ketiga. Kami mulai tidak banyak bersuara. Atlet juga begitu. Agaknya kami terbawa hawa siap-siap menerima kekalahan. Di tengah gemuruh pendukung lawan, Indonesia pun harus mengakui keunggulan Cina. Pertarungan ganda putri dimenangkan Cina. Indonesia pun harus puas di semifinal. Pendukung lawan di depan kami yang tadinya duduk adem ayem, akhirnya berdiri sambil joget-joget memunggungi kami. Huh!

Akhirnya, Indonesia harus puas tiba di babak semifinal saja. Apakah kami, trio supporter ini, kecewa? Tentu tidak. Paling tidak, saya sama sekali tidak kecewa.

Berkesan. Banget.

Pendukung

Menjadi pendukung Indonesia di kandang orang memberikan kesan mendalam tentang menjadi Indonesia. Mendengar ketakutan tim lawan atas tim Indonesia, atau melihat kekesalan wajah pendukung karena Indonesia meraih poin, membuat saya semakin bangga pada Indonesia. Siapa bilang tim merah putih jelek? Sehari sebelum semifinal, komentator di televisi lokal bahkan mengaku bahwa tim negaranya harus waspada dengan tim ganda Indonesia. Saya bangga bukan kepalang. (Sekaligus bangga sedikit karena bisa memahami omongan komentator dalam bahasa lokal. =D)

Menjadi pendukung Indonesia di Indonesia pasti lebih berasa. Apalagi bisa bergabung dengan ribuan orang meneriakkan yel-yel untuk atlet atau untuk Indonesia. Namun, ada sensasi yang berbeda saat mendukung Indonesia ketika kita tidak bersama dengan pendukung Indonesia. Minimal, yang terpikirkan di kepala adalah “Bodo lo liat-liat! Udah jauh-jauh gue ke sini buat dukung Indonesia, ya harus dukung dengan semangat!”. Meskipun terkesan cemen, motivasi itu sedikit banyak membuat kami bangga meneriakkan nama Indonesia, meskipun menerima tatapan tidak menyenangkan dari orang-orang. Dan ketika Indonesia meraih poin, di situ perasaan bangga menjadi Indonesia mengalir begitu deras di wajah kami. Kalaupun tak meraih poin, kami pun tidak malu, sebab kami melihat bagaimana atlet itu berjuang untuk mempertahankan poin mereka. Kami tetap bangga.

Rico dan Shelly

Jalan
Itu Rico, dan Shelly

Yang paling membuat saya senang adalah perjalanan bersama dengan dua teman saya ini, Rico dan Shelly.

Sebelum tiba di stadion, saya tidak punya bayangan, pendukung seperti apakah mereka berdua. Pengetahuan saya tentang mereka hanya dari referensi di kehidupan asrama dan sekolah, tidak di lapangan. Tapi, setelah merasakan kebersamaan mulai dari sesat di stasiun, sesat di kereta, sesat di bus, sesat di jalan, hingga sesat di stadion untuk membeli tiket, saya bisa merasakan bahwa mereka juga cinta Indonesia.

Tampak depan
Tampak depan stadion
P1080335
Replika Piala
Pintu Masuk
Pintu masuk stadion

Kami semua senang bukan kepalang saat berhasil menemukan penampakan stadion yang megah itu, setelah hampir 2 jam naik turun bus dan wara wiri di jalan. Keduanya juga tampak semangat saat meneriakkan nama Indonesia dari barisan penonton. Keduanya cuek saja walau orang di kiri kanan mereka memberikan gerak gerik atau mimik wajah mencemooh karena tau mereka mendukung Indonesia. Saya senang karena meskipun Indonesia belum berhasil memenangkan pertarungan kali ini, tidak ada penyesalan yang terucap dari mulut mereka karena telah meluangkan waktu dan uang untuk pergi mendukung Indonesia.

Tadinya saya pikir kebanyakan anak muda akan dengan mudahnya menyalahkan atlet atas kekalahan yang terjadi di pertandingan. Tapi, mereka berdua membuat saya tenang karena banyak juga anak muda yang mendukung atlet Indonesia setelah kekalahan mereka, bukan malah menyudutkan. Shelly masih mengidolakan Jonatan. Rico mengakui Indonesia bermain bagus.

Saya bukan atlet, bukan juga pengurus persatuan bulutangkis di wilayah manapun. Saya tidak jago bermain bulutangkis, tidak juga hafal semua nama atlet dunia ataupun Indonesia.

Saya mencintai bulutangkis untuk alasan yang tidak relevan sama sekali dengan olahraga. Bulutangkis membawa saya mengenang keluarga saya, abang-abang saya, teman-teman baik semasa menjadi jurnalis dulu, teman-teman pecinta bulutangkis, dan ayah saya yang menjadi kawan nonton terbaik saya saat musim pertandingan bulutangkis disiarkan di televisi. Karena itu, saat melihat dan bertemu dengan orang lain yang juga mencintai bulutangkis, saya seperti mendapatkan kawan baru. Kawan yang sama-sama dengan polosnya menyukai bulutangkis dan mendukung para atlet, tanpa perlu banyak berkomentar, mengkritik, atau memberikan usul. Kawan yang mencintai bulutangkis, tanpa perlu banyak berkata-kata. Cukup terus mendukung, tanpa mempedulikan apa kata mereka.

P1080349

Hidup Indonesia!

Hidup Atlet Indonesia!

 

***

Baca salah satu ulasan pertandingan finalnya tahun lalu : Link

Take Care, Guys

Jakarta and Sarinah.

I don’t know how or why but reading today news really drives my mood away. I feel sad, sorry for the victims, the policeman, and sorry for the family. Feel like crying, though I know it’s way too much.

People, don’t make a joke out of this, pick the right source for updates, and please stop spreading news blindly.

“I have received reports some time ago about the explosion in Thamrin street Jakarta. We express condolence to those who became victims, but we all also condemn the attack that caused restless among the community.” – Jokowi.

3200
Taken from The Guardian

2015 Best (Something)

Kalau Instagram punya #2015bestnine yang lagi rame di socmed hari ini, saya juga baru menerima email yang mirip-mirip alirannya dengan 9 foto kece kamu tahun ini. Sebut saja, #2015bestchange

Email itu saya terima dari change.org. Itu loh, portal petisi online yang marak berseliweran juga di Facebook, Path, dan media sosial lain, ketika ada isu-isu seru terjadi di Indonesia. Petisinya macem-macem, mulai dari soal asap, (mantan) ketua DPR, Pilkada, perlindungan hewan langka, dan lain-lain. Pernah ikutan?

Kalau saya sih, pas ada yang isunya menarik atau kebetulan sedang saya ikuti beritanya, dan bikin saya gemes banget, saya bakalan ikut memberikan tanda tangan. Berharap supaya petisi itu menang. Yang terakhir saya ikuti, tentu saja waktu layanan ojek online akan dihentikan oleh pemerintah (yang beberapa jam kemudian dibatalkan karena ada instruksi langsung dari Pak Presiden). Ada pengaruh dari petisi itu juga nggak ya kira-kira? 

Kalau kamu pernah ikut tanda tangan, mungkin kamu akan terima email ini. Isinya, infografis soal petisi yang mendapatkan paling banyak respon alias tanda tangan, sepanjang tahun 2015.

Saya nggak menganalisa infografis ini sih. Belum sampai otaknya, karena petisi tahun 2015 ini lumayan banyak, beragam, dan berat.

Cuma kalau diliat sekilas, seru juga bisa melihat sesuatu yang agak ‘berguna’ di lalu lintas internet sehari-hari.  Orang mulai tertarik membaca info-info politik, lingkungan, pendidikan, kesehatan, atau hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan orang lain (selain tentang diri sendiri atau update gosip Mulan dan sekelilingnya). Lebih jauh dari itu, masyarakat juga mulai mau beraksi (paling tidak, bikin akun di sini atau ngeklik ini itu untuk memberikan dukungan, walau agak makan waktu). Dua poin ini udah jadi perubahan baik, menurut saya.

Lalu, saya nggak terlalu mengikuti bagaimana kelanjutan petisi-petisi yang menang, atau seberapa besar pengaruh keputusan yang disuarakan di sini mempengaruhi pihak yang dipetisikan. Tapi buat saya sih, beberapa perkara / petisi yang menang di sini kayaknya bisa jadi #2015bestchange buat Indonesia. Setuju ‘kan?

Change.org infographic

Kalau mau baca lengkap, ke sini aja. Mudah-mudahan lagi lebih banyak perubahan baik yang terjadi tahun depan untuk bangsa kita, tanpa atau dengan petisi!

[Talkshow] Langkah Kecil untuk Indonesia

Sebab semua perubahan besar, dimulai dari satu gerakan kecil.

PRO M PROGRESIF (2)

Change.org – Kegelisahan untuk mengatasi permasalahan sosial yang terjadi di sekitar bisa dimulai dari sini. Daftarkan diri menjadi anggota, sebutkan masalah yang ingin kamu petisikan, siapa pihak yang ingin kamu tuju untuk menerima petisi ini (umumnya adalah pengambil keputusan), lalu apa alasanmu ingin mengangkat petisi tersebut. Jika petisi dirasa “pas”, maka lebih dari satu juta pemilik akun akan menerima petisi ini, dan bisa memberikan suara jika memiliki kegelisahan yang sama. “Dalam satu hari, kita menerima hampir 25 petisi”, cerita Arief Aziz, campaign director change.org Indonesia. Tidak semua petisi berisi tututan serius. “Pernah ada petisi yang memprotes aliran listrik di rumahnya tidak stabil, ditujukan ke bapak Presiden. Tentu petisi semacam ini agak salah sasaran. Cukup Lurah pun sudah bisa membantu kalau listrik di rumah bermasalah,” contohnya.

Namun, sejumlah perubahan besar pun telah terjadi berkat petisi yang diajukan dari sini. Tahun 2013 lalu, petisi “Stop Bombing the Mentawai Reefs” berhasil menyelamatkan kehidupan nelayan serta sekaligus kondisi perairan Mentawai yang sempat terancam akibat pemboman ikan yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Setelah beberapa bulan bergerak, “Akhirnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, beserta aparat penegak hukum turun tangan dan berhasi menangkap kapal pelaku bom tersebut,” cerita Arief.

Wujudkan.com – “Indonesia adalah satu-satunya negara yang belum mengalokasikan dana untuk bidang industri kreatif,” terang Mandy Marahimin, salah satu pencetus situs wujudkan.com. Situasi inilah yang membuat mereka yang bergerak di bidang industri kreatif; pembuat film, seniman, artis, musisi, kerap terpaksa harus mengikis keinginan untuk merealisasikan kreatifitasnya karena terganjal dana. “Kita lihat metode crowdfunding semacam ini sudah banyak digunakan di luar negeri. Lalu kenapa tidak kita laksanakan juga di Indonesia?” tambahnya.

Untuk bisa mendapatkan donasi, seniman yang ingin menggalang dana harus serius menggarap idenya. Apa yang ingin dibuat, bagaimana penggambaran visual dari ide kreatif yang ingin diwujudkan, berapa biayanya, untuk apa biaya akan digunakan, harus disampaikan dengan jelas. Setelah itu, seniman akan diberikan masa untuk mengkampanyekan karyanya agar menarik minat donatur. “Jika dana yang diajukan terkumpul, maka akan diberikan sepenuhnya untuk seniman. Jika tidak, dana akan dikembalikan sepenuhnya ke donatur”. Mandy mengaku, apa yang ia dan kawan-kawan kerjakan belum membuatnya kaya secara finansial. “Tapi yang jelas saya merasa sangat kaya secara batin,” ujar Mandy, sambil tersenyum. Film Atambua 39o Celcius karya Mira Lesmana adalah salah satu karya yang berhasil dilahirkan lewat penggalangan dana oleh situs ini, yakni sebesar 300 juta rupiah.

Ruangguru.com – Komunikasi guru privat dan calon murid coba dijembatani lewat platform yang satu ini. “Guru bisa menuliskan profil mereka secara lengkap, beserta tarif yang ditetapkan,” cerita Iman Usman, co-founder dan CEO ruangguru.com. Sedikit menyerupai situs perjodohan, lewat media ini, calon murid atau orang tua murid bisa mencari siapa guru yang dirasa cocok untuk memberikan bimbingan belajar. “Pengguna terbesar kita justru orang tua murid yang sedang mencari guru. Karena itu, kita bekerja ekstra untuk bisa mengkomunikasikan hal ini kepada para orang tua yang masih banyak terkendala dalam hal penggunaan social media,” cerita Iman. Hingga saat ini, portal ini telah dimanfaatkan oleh lebih dari 19.000 guru privat dari seluruh Indonesia.

***

PRO M PROGRESIF (1)

Ketiga portal di atas merupakan gerakan yang dilakukan oleh tiga orang dengan latar belakang berbeda. Arief tergelitik setelah melihat wara-wiri di Twitter tentang nasib nelayan Mentawai yang terkatung-katung akibat praktek pemboman ikan. Mandy ‘kesal’ melihat banyak karya-karya brilian rekan sesama film maker dan seniman yang harus berakhir di kepala, karena terkendala masalah dana. Iman yang sudah lama berkecimpung di bidang sosial, merasa harus melakukan sesuatu untuk mengangkat kehidupan para guru, yang oleh kebanyakan orang dilihat sebagai profesi tanpa penghasilan yang layak. Berawal dari kegelisahan masing-masing terhadap itulah, portal tersebut lahir. “Kegelisahan ini yang membuat kita bergerak,” ucap Mandy.

Fakta jumlah pengguna media sosial di Indonesia yang begitu tinggi juga menjadi keyakinan bahwa kegelisahan mereka bisa diatasi dengan memanfaatkan social media. Apalagi dengan situasi dimana pesan bisa disebarkan dengan begitu mudah lewat teknologi ini. Mereka yang satu pikiran bisa bergerak dengan cepat begitu pesan telah diterima. Di sinilah, langkah kecil kemudian bisa membawa dampak besar.

Oleh sebab itulah, ketiganya percaya bahwa banyak pihak yang bisa (dan harus) tergerak untuk segera melakukan perubahan bagi sekelilingnya.

“Kalau sekarang porsi pembicaraan tentang merek tas atau sepatu berada di atas pembahasan tentang kehidupan sosial, kita harap suatu saat posisi ini akan terganti. Lebih banyak yang membahas isu sosial daripada ngomongin tas di Twitter, Path, Facebook, atau media sosial manapun,” harap Arief.

Muara dari kegelisahan ketiganya tentu berada di tangan pengambil keputusan tertinggi. Siapa lagi kalau bukan pemerintah. Untuk itu, selain keinginan agar masyarakat mulai mengalihkan pemanfaatan social media untuk social goods, mereka juga berharap agar pemerintah semakin aktif untuk berkomunikasi dengan mereka yang bersuara, sehingga masalah yang ditemui bisa mendapatkan jalan keluar.

Kalaupun belum bisa keluar, paling tidak pemerintah bisa bertukar pikiran dengan mereka yang betul-betul peduli. Bukan hanya mereka yang bersuara tanpa tahu arah  atau hanya ingin memperkeruh suasana.

***

PRO M PROGRESIF (4)

Senin, 24 Agustus 2015 – Rangkuman kecil dari talkshow “Langkah Kecil Untuk Indonesia” yang diadakan oleh Pro M Progresif, di Jalan Padang, Manggarai Jakarta.

Foto oleh : Leo Muliadi