Minggu Tenang

Gallery

This gallery contains 1 photo.

Hasil akhir kepada Bapak Ahok tiba-tiba membawa kesedihan kepada banyak orang. Bahkan, Ibu saya yang tidak pernah mengikuti berita tiba-tiba bilang bahwa dia menangis setelah mengetahui apa yang terjadi pada Ahok. Padahal, kalau dipikir-pikir, sedekat apa kita dengan Bapak? Kerabat? Teman sekolah? Teman … Continue reading

Mendukung Indonesia, Tidak di Indonesia

Guangzhou, 18 Mei 2015

Tadinya udah hampir batal mewujudkan niat nonton Piala Sudirman di Dongguan. Cuman, setelah ‘dihasut’ sana-sini, akhirnya berangkat juga, bersama dua teman lainnya. Yang satu memang pecinta bulutangkis, yang satu lagi, kayaknya, baru mencintai bulutangkis. =)

P1080362

Dongfeng Nissan Sports Center, Dongguan, China

Ternyata, jadi pendukung Indonesia di kandang orang itu nggak gampang. Apalagi, di ‘kandang’ dengan populasi terbanyak di dunia. Cina. Begitulah yang kami rasakan saat menyaksikan pertandingan semifinal antara Indonesia-Cina, 16 Mei lalu.

Sebenarnya kami udah kepikiran kalau keberadaan kami sebagai pendukung Indonesia yang super minoritas mungkin agak-agak berbahaya. Karena itu, waktu beli tiket, kami minta ditempatkan bersama dengan deretan pendukung Indonesia. Dikasih sih. Cuma, celakanya, setelah tiket diterima di tangan, kami baru sadar “manalah mungkin penjual tiket tau dimana tempat duduk pendukung Indonesia. Yang beli kan buanyak”. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

Berbekal tiket kelas 2 seharga 300 yuan, kami mendapat tempat duduk di bagian tengah. Bukan tempat strategis untuk melihat ekspresi atlet dari jarak dekat, tapi ya cukup strategis untuk melihat dari samping. Selain itu, strategis juga untuk menguping selentingan komentar-komentar dari pendukung lawan.

Begitu pertandingan dimulai, saya dan dua teman langsung antusias memberikan dukungan untuk Indonesia. Balon tepuk tangan yang dibagikan gratis oleh SPG di depan stadion sudah stand by di tangan. Siap ditepukkan ketika atlet Indonesia masuk ke lapangan.

Bekal Telepati

Pasangan pertama yang masuk adalah Hendra Setiawan – Muhammad Ahsan. Kemunculan pasangan ganda putra andalan Indonesia ini langsung disambut meriah oleh 20an atlet Indonesia yang duduk nun jauh di sana, plus kami bertiga yang duduk nan jauh di sini. Iya, hanya kami aja yang tepuk tangan, dan mungkin setumpuk2 orang yang tersebar di belahan-belahan lain. Tapi kami cuek saja. Toh, kami memang pendukung Indonesia. Beberapa pasang mata mulai keheranan melihat kami yang ‘membelot’ dari mereka.

Saat pertandingan berlangsung, hal yang sama juga terjadi. Setiap kali Indonesia mencetak poin, kami langsung bersorak kegirangan. Sementara, tetangga di kiri kanan menatap sinis (saya duduk di tengah, jadi tidak merasakan langsung tatapan nanar itu). Jika lawan yang mencetak poin, kami pun tak berekspresi kendati ribuan orang itu sedang bersorak sorai. Sesekali, kami sok bertelepati dengan atlet Indonesia di belahan kanan itu. Kalau mereka berteriak “In… Do…Ne…Sia…”, kami langsung menepukkan balon dengan kencang “prok prok… prok prok prok…”. Aslinya sih mungkin tepukan kami juga nggak kedengeran oleh si atlet. Tapi tak apalah. Rasanya ‘menyatu’ kok walaupun dari jauh.

Di kandang orang

Waktu pasangan Hendra-Aksan menaklukkan tim lawan, kami langsung berdiri sembari bertepuk tangan. Ceritanya, standing applause. Alhasil, tetangga pun semakin sebal. Tapi, kami masih cuek saja. Maju terus untuk Indonesia.

Belatrix Keseleo

Tanding

Pertandingan kedua berlangsung. Kali ini tidak berjalan lama sebab pemain tunggal putri kita, Belatrix Manuputy, mengalami cedera di menit-menit awal. Padahal, Belatrix sudah mengungguli Cina dengan skor 5-3. Bela sempat mencoba main lagi setelah mendapat pertolongan oleh tim medis. Tapi, dari raut wajahnya, sakitnya memang sakit banget. Alhasil, ia tidak bisa melanjutkan pertandingan. Tim lawan pun mendapat ‘hadiah’ 1 poin dari Indonesia. Tidak perlu terlalu dibanggakan sih, walaupun terus terang kami sedikit sedih.

Pertandingan ketiga dibawakan oleh tim tunggal putra, yang diwakili oleh Jonatan Christy. Jonatan ini pemain baru. Lawannya, Chen Long, pemain nomor 1 dunia. Di salah satu portal berita, Chen Long ini salah satu idola Jonatan. Kalau saya jadi Jonatan, saya pasti senang sekali bisa berhadapan dengan idola saya. Tapi, tentu saja, kesenangan ini harus segera dibungkam karena Jonatan punya tanggung jawab menyumbangkan poin untuk Indonesia. Seperti yang sudah diperkirakan dengan hitungan hitam di atas putih, Jonatan harus mengakui keunggulan idolanya. Di sini, pendukung tetangga semakin menjadi-jadi dan berkoar-koar meneriakkan nama pahlawannya. Saya dan teman-teman, mulai diam. Kedudukan 2-1 untuk Cina.

Babak penentu

Ini

Pertandingan keempat ini yang menegangkan. Greysia Polii dan Nindya akan menjadi penentu kelangsungan tim merah putih. Kalau mereka menang, maka Indonesia akan menyamakan kedudukan. Masih ada peluang di putaran kelima. Sebaliknya, kalau gagal, maka tetangga langsung menang.

Di sini, pertarungan antar pendukung pun semakin terasa. Apalagi, pasangan ganda putri kita bermain dengan penuh perlawanan. Setiap poin didapat dengan begitu susah dan harus melalui reli-reli panjang. Pendukung tetangga yang kaum pria mulai gemas melihat pertahanan tim kita. Kami tentu saja semakin bersemangat bertepuk tangan. Apalagi, Polii dan Nindya berhasil unggul di babak pertama. Dengan bangga, kami menepukkan balon gratisan itu, sembari disambut tatapan kesal dari tetangga.

Pemain

Di babak kedua, permainan semakin tegang. Pasalnya, tim lawan mulai terbakar untuk menaklukkan tim kita. Pendukung pun ikut gregetan. Di deretan belakang kami, dua pria dan satu wanita mulai memberikan komentar-komentar atas permainan di lapangan. “Jago juga ya mereka,” ujar perempuan dalam bahasa Mandarin. Kawannya yang pria, dengan penuh semangat meneriakkan “Bunuh… Bunuh…”, mengiringi setiap pukulan smash yang ditembakkan bagi pemain Indonesia. Sayangnya, tim Indonesia tak semudah itu dibunuh. Beberapa kali, Polii dan Nindya menutup percobaan pembunuhan oleh tim lawan dengan perolehan poin. Kalau sudah begitu, si pria akan kecewa. Sempat iya bercelutuk, “Kenapa dibunuh nggak mati-mati sih!”. Kami di bawah cengengesan saja. Sayang, Indonesia kalah di babak kedua.

Babak ketiga sekaligus babak penentu, makin panas. Tim lawan semakin menekan. Tim kita pun sedikit mengendor di babak ketiga. Kami mulai tidak banyak bersuara. Atlet juga begitu. Agaknya kami terbawa hawa siap-siap menerima kekalahan. Di tengah gemuruh pendukung lawan, Indonesia pun harus mengakui keunggulan Cina. Pertarungan ganda putri dimenangkan Cina. Indonesia pun harus puas di semifinal. Pendukung lawan di depan kami yang tadinya duduk adem ayem, akhirnya berdiri sambil joget-joget memunggungi kami. Huh!

Akhirnya, Indonesia harus puas tiba di babak semifinal saja. Apakah kami, trio supporter ini, kecewa? Tentu tidak. Paling tidak, saya sama sekali tidak kecewa.

Berkesan. Banget.

Pendukung

Menjadi pendukung Indonesia di kandang orang memberikan kesan mendalam tentang menjadi Indonesia. Mendengar ketakutan tim lawan atas tim Indonesia, atau melihat kekesalan wajah pendukung karena Indonesia meraih poin, membuat saya semakin bangga pada Indonesia. Siapa bilang tim merah putih jelek? Sehari sebelum semifinal, komentator di televisi lokal bahkan mengaku bahwa tim negaranya harus waspada dengan tim ganda Indonesia. Saya bangga bukan kepalang. (Sekaligus bangga sedikit karena bisa memahami omongan komentator dalam bahasa lokal. =D)

Menjadi pendukung Indonesia di Indonesia pasti lebih berasa. Apalagi bisa bergabung dengan ribuan orang meneriakkan yel-yel untuk atlet atau untuk Indonesia. Namun, ada sensasi yang berbeda saat mendukung Indonesia ketika kita tidak bersama dengan pendukung Indonesia. Minimal, yang terpikirkan di kepala adalah “Bodo lo liat-liat! Udah jauh-jauh gue ke sini buat dukung Indonesia, ya harus dukung dengan semangat!”. Meskipun terkesan cemen, motivasi itu sedikit banyak membuat kami bangga meneriakkan nama Indonesia, meskipun menerima tatapan tidak menyenangkan dari orang-orang. Dan ketika Indonesia meraih poin, di situ perasaan bangga menjadi Indonesia mengalir begitu deras di wajah kami. Kalaupun tak meraih poin, kami pun tidak malu, sebab kami melihat bagaimana atlet itu berjuang untuk mempertahankan poin mereka. Kami tetap bangga.

Rico dan Shelly

Jalan

Itu Rico, dan Shelly

Yang paling membuat saya senang adalah perjalanan bersama dengan dua teman saya ini, Rico dan Shelly.

Sebelum tiba di stadion, saya tidak punya bayangan, pendukung seperti apakah mereka berdua. Pengetahuan saya tentang mereka hanya dari referensi di kehidupan asrama dan sekolah, tidak di lapangan. Tapi, setelah merasakan kebersamaan mulai dari sesat di stasiun, sesat di kereta, sesat di bus, sesat di jalan, hingga sesat di stadion untuk membeli tiket, saya bisa merasakan bahwa mereka juga cinta Indonesia.

Tampak depan

Tampak depan stadion

P1080335

Replika Piala

Pintu Masuk

Pintu masuk stadion

Kami semua senang bukan kepalang saat berhasil menemukan penampakan stadion yang megah itu, setelah hampir 2 jam naik turun bus dan wara wiri di jalan. Keduanya juga tampak semangat saat meneriakkan nama Indonesia dari barisan penonton. Keduanya cuek saja walau orang di kiri kanan mereka memberikan gerak gerik atau mimik wajah mencemooh karena tau mereka mendukung Indonesia. Saya senang karena meskipun Indonesia belum berhasil memenangkan pertarungan kali ini, tidak ada penyesalan yang terucap dari mulut mereka karena telah meluangkan waktu dan uang untuk pergi mendukung Indonesia.

Tadinya saya pikir kebanyakan anak muda akan dengan mudahnya menyalahkan atlet atas kekalahan yang terjadi di pertandingan. Tapi, mereka berdua membuat saya tenang karena banyak juga anak muda yang mendukung atlet Indonesia setelah kekalahan mereka, bukan malah menyudutkan. Shelly masih mengidolakan Jonatan. Rico mengakui Indonesia bermain bagus.

Saya bukan atlet, bukan juga pengurus persatuan bulutangkis di wilayah manapun. Saya tidak jago bermain bulutangkis, tidak juga hafal semua nama atlet dunia ataupun Indonesia.

Saya mencintai bulutangkis untuk alasan yang tidak relevan sama sekali dengan olahraga. Bulutangkis membawa saya mengenang keluarga saya, abang-abang saya, teman-teman baik semasa menjadi jurnalis dulu, teman-teman pecinta bulutangkis, dan ayah saya yang menjadi kawan nonton terbaik saya saat musim pertandingan bulutangkis disiarkan di televisi. Karena itu, saat melihat dan bertemu dengan orang lain yang juga mencintai bulutangkis, saya seperti mendapatkan kawan baru. Kawan yang sama-sama dengan polosnya menyukai bulutangkis dan mendukung para atlet, tanpa perlu banyak berkomentar, mengkritik, atau memberikan usul. Kawan yang mencintai bulutangkis, tanpa perlu banyak berkata-kata. Cukup terus mendukung, tanpa mempedulikan apa kata mereka.

P1080349

Hidup Indonesia!

Hidup Atlet Indonesia!

 

***

Baca salah satu ulasan pertandingan finalnya tahun lalu : Link

Take Care, Guys

Jakarta and Sarinah.

I don’t know how or why but reading today news really drives my mood away. I feel sad, sorry for the victims, the policeman, and sorry for the family. Feel like crying, though I know it’s way too much.

People, don’t make a joke out of this, pick the right source for updates, and please stop spreading news blindly.

“I have received reports some time ago about the explosion in Thamrin street Jakarta. We express condolence to those who became victims, but we all also condemn the attack that caused restless among the community.” – Jokowi.

3200

Taken from The Guardian

2015 Best (Something)

Kalau Instagram punya #2015bestnine yang lagi rame di socmed hari ini, saya juga baru menerima email yang mirip-mirip alirannya dengan 9 foto kece kamu tahun ini. Sebut saja, #2015bestchange

Email itu saya terima dari change.org. Itu loh, portal petisi online yang marak berseliweran juga di Facebook, Path, dan media sosial lain, ketika ada isu-isu seru terjadi di Indonesia. Petisinya macem-macem, mulai dari soal asap, (mantan) ketua DPR, Pilkada, perlindungan hewan langka, dan lain-lain. Pernah ikutan?

Kalau saya sih, pas ada yang isunya menarik atau kebetulan sedang saya ikuti beritanya, dan bikin saya gemes banget, saya bakalan ikut memberikan tanda tangan. Berharap supaya petisi itu menang. Yang terakhir saya ikuti, tentu saja waktu layanan ojek online akan dihentikan oleh pemerintah (yang beberapa jam kemudian dibatalkan karena ada instruksi langsung dari Pak Presiden). Ada pengaruh dari petisi itu juga nggak ya kira-kira? 

Kalau kamu pernah ikut tanda tangan, mungkin kamu akan terima email ini. Isinya, infografis soal petisi yang mendapatkan paling banyak respon alias tanda tangan, sepanjang tahun 2015.

Saya nggak menganalisa infografis ini sih. Belum sampai otaknya, karena petisi tahun 2015 ini lumayan banyak, beragam, dan berat.

Cuma kalau diliat sekilas, seru juga bisa melihat sesuatu yang agak ‘berguna’ di lalu lintas internet sehari-hari.  Orang mulai tertarik membaca info-info politik, lingkungan, pendidikan, kesehatan, atau hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan orang lain (selain tentang diri sendiri atau update gosip Mulan dan sekelilingnya). Lebih jauh dari itu, masyarakat juga mulai mau beraksi (paling tidak, bikin akun di sini atau ngeklik ini itu untuk memberikan dukungan, walau agak makan waktu). Dua poin ini udah jadi perubahan baik, menurut saya.

Lalu, saya nggak terlalu mengikuti bagaimana kelanjutan petisi-petisi yang menang, atau seberapa besar pengaruh keputusan yang disuarakan di sini mempengaruhi pihak yang dipetisikan. Tapi buat saya sih, beberapa perkara / petisi yang menang di sini kayaknya bisa jadi #2015bestchange buat Indonesia. Setuju ‘kan?

Change.org infographic

Kalau mau baca lengkap, ke sini aja. Mudah-mudahan lagi lebih banyak perubahan baik yang terjadi tahun depan untuk bangsa kita, tanpa atau dengan petisi!