When Life Falls Apart

I had written about this song when Mr. Mraz celebrated his birthday, last June. But, since what happened today is coincide with the mood of this song, please let me spin a yarn about it for a second time.

According to Jason Mraz, there are three things that you can do when your life falls apart, whatever the reasons are; the broke up after 8 years relationship, the lost of a few hundred dollars which you have saved for years, the death of someone you love, whatever the reasons are, I think few tips that Mr. Mraz has suggested through this song are worth trying.

  1. Cry your eyes out and dry up your heart.
    Been here? Yes, crying is the first thing that your normal eyes will react toward the situation you have. It’s normal to cry. But, remember, crying all day and night won’t change anything but the size of your swollen eyes. Thus, Mraz added, “Not until I do this will my new life start, So that’s the first thing that I do when my life falls apart”. Yes, it’s the first natural step that will happen to every human being once they feel that life falls apart. You are not alone.
  2. Close both of your eyes, and say your thank-yous to each and every moment of your life.
    In this chapter, after that crying scene, you will feel that your heart is a bit relieved. “Thank you” is really a charm for you to realize that you don’t need to feel that miserable about the bad things you have. Start thinking about this, “I go where I know the love is and let it fill me up inside”. If it works, then you’ll get through this, “Gathering new strength from sorrow, I’m glad to be alive”. Okay? Now, it’s the last thing you can do when your world caves in…
  3. You pause, take a breath, and bow and let that chapter end.
    Yes, after all sadness, your aching heart needs its time to take a breath. Hence, you need to pause and let the chapter end, at least for now. It’s not that you are running away from the thing which has tore you apart. No, you don’t. You take a space to see things differently. Unless you step out from that black hole for a while, you’ll never be able to see the light.

Have you gone through all these steps? Are you thinking of start doing so? If it’s a yes, the last thing that you should do and think after whole things have been done is, “I design my future bright not by where my life has been. And I try again.” 

Why?
 
Because…
  1. Things are looking up.
  2. Beyond the dark the sun is rising.
  3. Above the clouds the sun is shining.
  4. Love is still the answer I’m relying.
  5. Things are looking up.

Still feeling upset? Take a breath, plug in your headset, turn up your laptop volume, now let’s sing along.

I’ve played 3 Things more than three times in a row today. And it works pretty well.

Hope it works on you too! =)

Ayo ke Sini!

Keindahan negara Inggris telah banyak menyihir orang-orang di sekeliling saya. Saya ingat betul ketika salah satu teman dengan penuh semangat berkata, ‘Vinny! Gue pengen ke Inggris!’. Alasan mereka pun beraneka ragam. Mulai dari ingin melihat Big Ben, berfoto di depan Oxford University, atau mengunjungi stadion klub bola favoritnya. Karena mimpi yang belum juga terwujud, ada juga yang tergila-gila menitip sovenir bendera Inggris kepada siapapun yang berrkunjung ke sana.

Nah, di antara mereka yang masih bermimpi, salah satu teman saya yang berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menginjakkan kaki di kota London adalah Christine Franciska, yang akrab disapa Itin. Itin adalah teman saya semasa bekerja di media.

Bulan Juli 2013 lalu, Itin menghabiskan waktu selama 3 minggu di London untuk mengikuti pelatihan jurnalisme bersama salah satu media nasional Inggris.

Selama di sana, saya dan Itin sesekali saling berkirim pesan singkat. Saya yang suka berkhayal ini, punya kebiasaan meminta teman saya untuk memotret keadaan di sekelilingnya, khususnya ketika mereka sedang berada di tempat yang memiliki ‘arti’ untuk saya. Melihat foto mereka untuk sepersekian detik selalu berhasil membawa saya berpindah tempat ke apa yang sedang saya tatap.

Misalnya, saya pernah meminta teman saya memotret taksi kuning para New Yorkers yang sesungguhnya saat ia sedang mengunjungi Manhattan, Amerika Serikat, salah satu kota impian yang ingin saya kunjungi.

Manhattan-20120208-00398Pernah saya tuliskan di sini

Di kesempatan lain, saya juga meminta teman saya untuk memotret tempat nongkrong saya dan kawan-kawan semasa bekerja sebagai peliput berita olahraga, Gelora Bung Karno, Jakarta.

20140514_170315 (1)

 Terima kasih banyak, Gadi!

Nah, Itin juga mendapatkan titipan serupa.  “Tin, fotoin gue Big Ben!”, pesan saya sebelum ia bertolak ke Inggris. “Fotoin pemandangan sekitar tempat tinggal lo, taman-taman yang lo lewatin, juga boleh kok”, pesan berikutnya yang saya susulkan kepada Itin. Hari demi hari menanti, namun tak satupun foto yang kunjung datang.

Sampai pada satu hari, Itin menghubungi saya dan memberikan kabar bahwa jadwalnya di sana terbilang padat. Pelatihan dari pagi, siang, hingga malam. Setiap hari ia harus berjalan kaki dari apartemen ke kantor tempat pelatihan dilaksanakan. Belum lagi, proses adaptasi yang tidak mudah. Apalagi, ketika rasa sepi dan homesick mulai menyerang karena menyadari tidak ada kerabat dekat di sana, kecuali satu rekannya yang juga mengikuti pelatihan dari Indonesia.

Menerima pesan tersebut, saya pun maklum-maklum saja. Masa’ iya orang lagi sibuk dipaksa ngambil foto? Teman macam apa saya. Sejak itu, saya tidak lagi ‘menagih’ foto Big Ben kepada Itin.

***

Tidak terasa, masa pelatihan Itin hampir berakhir. Beberapa hari sebelum bertolak ke Indonesia, diawali dengan permintaan maaf karena baru bisa berkabar karena kesibukan yang luar biasa, sebuah pesan dari Itin masuk ke telepon genggam saya.

TOWER BRIDGEPernah ditulis di sini

Menerima gambar dan pesan yang Itin tulis, saya langsung tersenyum sumringah. Hati saya seketika berada di atas level rata-rata sebuah perasaan bahagia. Melihat nama ‘Vinny’ di sana, sesuatu, yang tidak bisa saya jelaskan bagaimana bentuknya, membawa tubuh ini menggantikan posisi kertas yang Itin pegang.

Sejak hari itu, saya menyelipkan mimpi berikutnya yang akan saya kejar. Suatu hari nanti, yang akan berdiri di atas Sungai Thames, di hadapan Tower Bridge, bukan lagi kertas dengan coretan nama saya, melainkan saya sendiri.

Dan tulisan ini menjadi cerita penutup mengapa saya ingin ke Inggris.  As this is my last post for #InggrisGratis, hopefully we’ll make it right, Tin! 🙂

***

So, see  you at the bridge? 

IG 3

Refreshing

Bukan…

Ini bukan tulisan tentang rencana liburan. Ini cuma sedikit cerita tentang akal-akalan saya mencari tempat menyegarkan pikiran, di tengah-tengah kesibukan. 🙂

Dua minggu terakhir, saya menghabiskan hari-hari dengan dengan berbagai macam kesibukan. Mulai dari ujian di tempat kursus, pekerjaan yang mulai bertambah, dan kegiatan vihara. Berhubung ada kegiatan nasional yang akan diselenggarakan 3 bulan lagi, maka, kami, yang berada di daerah pun ketimpaan ‘rejeki’ untuk ikut sibuk. Nah, di situlah malam demi malam saya habiskan selama beberapa minggu belakangan. Oh yah, belum lagi menunaikan kewajiban saya sebagai anak satu-satunya di rumah. Saya berkewajiban mengantar ayah dan ibu, menemani mereka ke tempat kerabatnya, dan lain-lain.

Bagi saya, kesibukan kali ini adalah berkah.
Pertama, saya tidak perlu bingung harus menghabiskan malam di mana (pahamilah, Pontianak tidak punya banyak tempat hiburan).
Kedua, saya tidak perlu mengalami kesulitan tidur karena setiap kali saya membaringkan diri di kasur, saya selalu tertidur dengan mudahnya.
Ketiga, saya bisa mengalihkan pikiran saya dari hal-hal yang tidak perlu dipikirkan, contoh… Anda tahu apa. Haha!

Berkat sibuk, saya semakin lihai melihat setiap cela waktu untuk refreshing sejenak.  Di antaranya…

Di kamar mandi

Pernahkah kalian mengalami betapa nikmatnya momen di kamar mandi? Yah, hanya perlu duduk, diam, melamun, kalau lagi rajin sambil baca buku, dengar lagu. Tidak ada yang berani mengganggu.

Di ruang tunggu

Kembali pada kewajiban saya sebagai seorang anak. Punya orang tua yang berusia lebih dari setengah abad membuat saya akrab dengan dokter dan apotek. Untuk satu dan lain hal, minimal 2 kali seminggu, saya pasti mengantar entah ayah atau ibu saya untuk bertemu dengan dokter. Nah, menit-menit di ruang tunggu sungguh menyenangkan. Saya bisa meregangkan kaki. Asyik bermain hape, sembari mengamati orang-orang di sekeliling.

Di jalan

Nyatanya, menggunakan kendaraan roda empat membuat saya bisa mencuri waktu untuk istirahat. Memang kadang tubuh agak letih karena harus konsentrasi mengemudi. TAPI, saya juga mendapatkan kenikmatan saat saya bisa bersandar dengan kursi empuk, disapu angin dingin dari AC, sembari mendengarkan radio atau lagu kesayangan. Nah, soal lagu ini juga jadi satu poin tersendiri.

Playlist kesayangan

Saya punya radio andalan di kota ini. Volare FM, radio yang sudah saya sebutkan berkali-kali di blog saya belakangan. Berkali-kali saya membuat kepingan CD yang berisi lagu-lagu yang saya dapatkan dari hasil mendengarikan Volare. Biasanya, begitu menangkap sinyal lagu asyik di radio, saya langsung mengambil telepon saya dan mengakses aplikasi Soundhound. Search lagunya, dan tada! Lagu pun tersimpan di history. Cara lain adalah, mengakses twitter saya dan melihat akun twitter radio tersebut yang menampilkan lagu-lagu yang sedang dimainkan. Tinggal tekan tombol Favorite, maka lagu yang saya suka pun akan terekam. Sesudahnya….

Di kantor

Nah, di tempat ini, saya pun mencuri waktu untuk mengunduh lagu-lagu yang sudah saya temukan tadi, maaf saya ikut melakukan pembajakan. Biasanya, saya menyisihkan setengah jam terakhir sebelum pulang untuk mengunduh lagu. Kalau sedang sibuk, bisa saya lakukan sembari nge-print, mengetik, atau bosan. Kadang, di sisa jam makan siang saya. Setelah semua terkumpul, tinggal di-burn. Dan lagu baru pun siap dimainkan!

Di kamar

Beruntung sudah ada koneksi internet di rumah. Jadi, saya kerap mengunduh maaf saya kembali membajak film yang saya suka saat saya tiba di rumah. Saya tinggalkan hingga keesokan harinya (maklum, koneksi menengah ke bawah), dan saya tonton………. beberapa hari atau beberapa minggu atau beberapa bulan sesudahnya. Yang penting, saya senang saat saya tahu sudah banyak stok film di laptop saya. :D.

Di layar laptop

Ah apa lagi yang bisa membuat saya senang setiap harinya? Apa lagi kalau bukan bisa berselancar di internet. Mampir ke blog sana sini, melihat cerita si itu dan si anu, membaca berita, melihat posting berisi lelucon dari orang-orang kece, belum lagi kalau menemukan rekomendasi musik ataupun film yang seru dari internet. Sungguh menyenangkan!

Di kalender

Nah, melihat tanggal di saat kita akan merayakan kebahagiaan juga jadi salah satu media refreshing yang ampuh! Kalau lagi suntuk, saya suka melihat kalender di layar laptop, dan menghitung berapa lama lagi saya akan bersenang-senang. Saat ini, saya tak sabar menunggu bulan Mei. Menunggu tanggal liburan saya yang sesungguhnya!

Sudah!

Jadi, begitulah cara saya mencari penyegaran. Tentu, membuat tulisan ini adalah salah satunya. Senang rasanya bisa menuliskan hal-hal yang membuat saya senang. Mudah-mudahan, kalau saya sumpek, saya bisa baca tulisan ini lagi, dan kembali mengulang hal-hal yang bisa lakukan untuk membuat saya bahagia.

Have a happy weekend! =*

NGEBLOG

Humorous Speech

“Kemampuan public speaking macam apa itu?”.

public-speaking

Semacam ini?

Itulah hal pertama di pikiran saya saat melihat salah satu mata lomba yang diselenggarakan di IDeFest itu. Secara harafiah, humorous speech berarti pidato lucu. Pidato berarti berbicara di depan orang banyak. Tapi, pidato lucu? Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Apakah si tukang pidato harus berbicara sembari melucu, seperti seorang komik yang beraksi melakukan stand up comedy? Ah, rumit.

Namun, rasa penasaran saya lebih besar ketimbang kebingungan saya. Akhirnya setelah pertimbangan ini itu bersama dengan teman-teman Pontianak, saya putuskan untuk mendaftarkan diri di lomba yang satu ini. “Daftar dulu aja pokoknya. Gimana caranya urusan nanti”. Saya pikir, dengan mengirimkan perwakilan untuk banyak lomba, peluang daerah saya untuk bisa menang akan lebih besar. Lagipula, lomba ini sungguh lomba yang akan membawa pengalaman seru. Jadi, kenapa tidak? Begitu pikir saya waktu itu.

Susahnya melucu

Sekitar satu bulan sebelum pelaksanaan, kami menerima penjelasan detil tentang lomba yang dimaksud. Termasuk pula, contoh naskah humorous speech yang diambil dari naskah stand up comedy. Wah, apakah itu berarti keduanya sama? Iya, pikir saya waktu itu. Saya langsung mencari video stand up komik-komik Indonesia, mulai dari Soleh Solihun, Ernest Prakarsa, dan yang saya rasa komik wanita paling asyik guyonannya, Miund. Dan setelah melihat video mereka, hal pertama di benak saya adalah, 

Ternyata bikin orang ketawa itu susah.”

Untung, teman saya yang pintar, Iwan, dengan cepat mengingatkan. “Kalau speech, harusnya ada pesan. Nggak cuma ngelucu aja,” begitu katanya sore itu, di warung kopi, tempat saya, Lina, Darma (peserta lain), dan Iwan bertemu untuk membahas naskah ini.

Setelah bertukar ide sekitar 2 jam, otak saya serasa dipenuhi ilham untuk membuat naskah. Sepulangnya ke rumah, saya langsung mengetik naskah. Naskah harus diambil dari hal yang dekat dengan kita. Langsung saja saya ceritakan kisah (yang menurut saya) lucu yang semasa menjadi wartawan. Dalam waktu kurang dari 2 jam, saya kirimkan itu ke Iwan.

Keesokan harinya, naskah ini mendapatkan tanggapan. Oleh Iwan dan salah satu guru bahasa Indonesia kenamaan, naskah saya dianggap terlalu serius. Tidak cocok untuk penonton IDeFest yang notabene adalah anak gaul, alias ABG. Saya langsung kebingungan. Setengah dari otak saya merasa saya bukan lagi ABG yang mengerti apa hal lucu yang akan membuat pidato saya bisa membuat mereka tertawa. Saya terus mencari ilham, dan gagal. Menit itu, saya sungguh merindukan kepenatan saya menulis artikel berita yang tidak ada apa-apanya dibanding menulis naskah pidato yang lucu.

Berkah galau

gambar-kata-kata-galau-bijakSegalau ini? 

Hari demi hari saya lewati dengan mengamati sekitar, dan sedikit berpikir. Lalu saya ingat. Saya punya teman (yang kalau membaca tulisan ini akan sadar bahwa ia yang saya maksud haha) yang senang sekali mengupdate hal-hal galau di Path-nya. Mulai dari lagu, gambar, potongan lirik, film, komen, semuanya bernuansa galau. Dan saya yang kebetulan berada di fase serupa, sering hampir kehilangan kendali untuk tersenyum setiap kali melihat post yang ia lemparkan Path. Sungguh, kegalauannya sangat menular.

Galau. Topik ini pun langsung saya tetapkan untuk menjadi topik bahasan utama untuk naskah saya. Saya langsung ketikkan kata ‘galau’ di memo blackberry saya. Ketimbang Path, blackberry, BBM, pikir saya, akan lebih familiar untuk anak muda. Jadilah saya menulis tentang kegalauan anak muda yang dituangkan dalam BBM.

Galau versi lain adalah yang lebih ‘tertutup’. Versi ini dilakukan oleh saya dan teman-teman sesama wartawan saya. Dengan cepat, salah satu teman saya bisa merangkaikan kata-kata yang tidak ada artinya menjadi sebuah frase yang sungguh sangat menggalaukan. Contoh : “sesederhana bisa bahagia dengan dirinya”, “lebih enak makan pare daripada makan hati”, kira-kira begitu contohnya. Bukan begitu kalimat tepat yang ia lontarkan, namun saya rasa anda bisa menangkap bagaimana penggunaan ‘pare’ seketika bisa menimbulkan efek hati yang tiba-tiba sedih ketika disandingkan dengan kata lain. Galau oh galau.

Bahan lain yang saya gunakan adalah seputar diet. Sekembalinya ke Pontianak 4 bulan lalu, saya mengikrarkan diri untuk menguruskan badan. Terlebih ketika saya melihat teman saya yang badannya menjadi sangat kurus kecil setelah putus cinta. Kalau dia bisa, saya juga harus bisa. Haha, akhirnya saya diet (walaupun gagal). Perihal diet ini saya yakini akan menjadi cerita setiap wanita ‘besar’. Saya langsung bungkus topik ini.

Saat melucu

Lomba humorous speech dibagi menjadi 2 tahap. Penyisihan dan final. Tahap penyisihan dilakukan dari daerah, dengan mengirimkan video 1,5 menit plus naskah. Saya berhasil lolos penyisihan, dan melaju ke tahap final. Berbekal naskah yang sudah diperbaiki berkat kesabaran dan arahan komik Mas Mosidik, Uli, dan teman-teman lain seperti Davy, Tarno, Rica, Shanty, Julius, Benny, Junaidy, saya akhirnya mendapatkan naskah yang lebih baik (lucu dan berisi) untuk dibawakan di babak final. Koordinasi otak dan mulut saya cukup baik malam itu, sehingga apa yang saya ingat bisa saya sampaikan, minimal tidak tebata-bata. Beberapa orang tertawa atas beberapa guyonan yang saya lontarkan. “Nyessss”, begitu rasanya ketika saya mendengar suara orang tertawa apalagi bertepuk tangan.

Jeng… Jeng…

Hari pengumuman pun tiba. Ketegangan terjadi di mana-mana. Khususnya bagi tim saya, karena kami gagal memenangkan lomba video yang menjadi salah satu andalan, sekaligus satu-satunya lomba tersisa yang melaju ke babak final selain humorous speech.

Ternyata, saya dinobatkan menjadi juara 1. Antara percaya atau tidak, saya dapat juara 1. Aneh rasanya menyebut saya juara 1, mengingat kegirangan mendapat predikit juara terakhir kali saya rasakan saat duduk di bangku SD.  Itu pun juara 7 atau 8, bukan 1. Tapi ya, saya menanggggg! Yah tidak usah bohong, siapa yang tidak bangga bisa menang. Apalagi menang dengan membawa nama daerah. Yah, saya senang.

Tapi sungguhlah, kemenangan ini adalah berkah yang terjadi berkat teman-teman saya. Ijinkan saya untuk menjadi wanita yang seolah-olah baru memenangkan predikat juara Putri Indonesia.

Terima kasih banyak untuk Lina yang sudah melihat saya membuat joke garing, merekam joke yang lucu sampai nggak lucu bahkan membosankan, juga untuk Diko, Ika, Sumi, Ria, Nike, Irenne, Revy, Darma, Daniel, Jaya, Iwan, Sukir, Jobo, Tikno, dan tentu semua bapak ibu Pontianak yang sudah bersedia tertawa walaupun guyonan saya tentang lagu “Lumpuhkan Ingatanku” tidak kalian mengerti. Dukungan kalian sungguh berarti.

Dan, kalaulah ada di antara kalian yang masih bertanya-tanya “masa lo bisa ngelucu sih, Vin?”, percayalah, gue sendiri juga nggak percaya kalau curhat colongan masa galau gue ternyata bisa membuat orang tertawa.

***

Dengan kemenangan ini, saya juga ingin berterima kasih kepada Teppy yang sudah membagikan mantra “Cause one of the best ways to survive life is to laugh it up”. Betul sekali neng, penderitaan seketika menjadi sangat ringan saat bisa ditertawakan sendiri, apalagi rame-rame.

1502532_10152110786408416_68470721_n‘Mentok utak atik naskah – photo by Uli. 

1558408_10152103136794512_2129268526_n“The Day”, Megamendung 28 Desember 2013 – photo by Benz.

***

Ngomong-ngomong, sudah punya bayangan apa itu Humorous Speech? 

Humorous speech : 1) pidato yang bahannya terkait satu sama lain, dan harus memiliki pesan. Lucu hanya bonus. (arti sebenarnya dari Mas Mosidik). 2) naskah serius yang sebenarnya curhat colongan 3) curhat penuh derita yang menjadi bahan tertawaan terhebat 4) ternyata, membuat orang lain tertawa menjadi obat yang ampuh saat kamu dirundung derita. 🙂