Ponakan

Hai, perkenalkan, saya tante dengan ponakan berjumlah satu tim sepakbola + 1 cadangan. Kalau lagi ngumpul semua, bisa ada yang nangis, teriak, ketawa, asik main sendiri, makan, main Instagram, seru dengan Squishy, pesawat, truk, dan macem-macem.

Punya banyak ponakan juga jadi refreshing, apalagi kalau pas ngobrol. Ada aja celetukan yang bikin senyum-senyum. Macam ini… Diskusi aneh bin ajaib.

Naldo gurunya siapa? // Miss Elly. // Miss Elly cewek apa cowok? // Cewek dong. Namanya aja ‘miss’. Kalau cowok kan ‘mister’… // (Oh iya.)

  • Naldo, 3 hari lagi ulang tahun ke-4

Kamu sering jadi tempat curhat? // Iya. Biasa dicurhatin. Ada yang nangis, ada yang mau bunuh diri.. // Hah? Curhatnya emang gimana? // Pakai Line aja. // Oh, ya udah nanti gantian Tante yang curhat. // 

  • Hesly, 6 SD

Tante kok belum punya pacar? // Iya nih. Kamu mau bantu cariin? // Aku cariin di Instagram ya. Nanti aku kirimin fotonya ke Tante. // Boleh. // Yang umurnya berapa? Lebih muda mau? // Muda dikit, nggak papa. // Kalau 35? // Nggak papa. // Nanti kalau tiba-tiba ada yang SMS tante, kenalan dari Instagram gimana? // Ya udah dibalas aja… // Kan aku nggak kasih tau dia nomor Tante. Aku kan cuma ngirimin foto dia ke Tante. //  (??)

  • Laura, 3 SD

 

 

The “Everglow” Trip

Travel blues masih sedikit menyelimuti. Dengan tambahan – Coldplay blues, yang sepertinya porsinya lebih besar daripada travel blues.

Coldplay 11.jpg

*

Melbourne

Perjalanan ke Melbourne kemarin adalah yang pertama bagi saya. Excited? Tentunya. Karena Coldplay? Pastinya! Apalagi, trip ini memang nggak akan kesampean kalau bukan karena ada Coldplay yang mampir ke sana. Tapi, kita bahas dulu sedikit soal Melbourne.

Overall, perjalanan ini sangat menyenangkan! Kebetulan, saya tinggal di Collins Street, salah satu bagian kota yang dikelilingi banyak cafe, bangunan lucu, tempat gaul, museum, taman dan tempat jalan lainnya. Seperti kebanyakan kota di luar negeri, akses pejalan kaki sangat menyenangkan. Alhasil, mau jalan kemana aja mudah. Tentunya, dengan pemandangan yang serba bagus.

Pas saya di sana, Melbourne memasuki musim panas yang ternyata nggak panas-panas banget. 3 hari pertama, angin cukup kencang. Suhu sekitar 15 derajat celcius. Saya yang mengira Melbourne akan sering hujan (karena laporan ramalan) alhasil lebih banyak menyiapkan stok pakaian untuk hujan (celana pendek, sendal jepit, kaos) ketimbang baju tebal. Baju penahan dingin hanya satu potong yang saya pakai dari datang hingga pulang.

Jalan ke mana aja?

Nah, ini dia. Dari perjalanan kemarin, dipikir-pikir saya ini orang yang cukup malas menyusun itinerary. Memang sebelum berangkat, saya sudah mencatat beberapa tempat yang ingin saya datangi hasil browsing. Tapi sesampainya di sana, saya nggak ngotot-ngotot amat harus ke sana. Soalnya saya pikir, di sekitar tempat saya, banyak sekali tempat yang bisa diliat. Jadi, list-list tadi bisa menunggu (hingga kunjungan berikutnya). Akhirnya ya memang sampai hari terakhir, nggak ada satu pun tempat dari list itu yang saya kunjungi.

Selain malas menyusun / mengikuti jadwal yang saya sudah bikin sendiri, saya tergolong orang yang cukup santai. Mungkin karena pengaruh malas tadi. Selama 4 hari di sana, tak ada satu hari pun saya punya jadwal pasti harus ke mana (terkecuali hari-nya Coldplay). Di luar hari konser Coldplay, saya jalan ke museum, Sunday market, taman, pantai, cafe, seketemunya saya di jalan (ada juga yang diajakin temen).

Tapi, efek dari jalan-jalan begini ternyata menyenangkan juga. Saya nggak merasa terbebani. Mungkin ini enaknya jalan sendiri. Cukup tanggung jawab dengan sendiri, nggak perlu berkompromi dengan teman seperjalanan. Mudah. Ringkas. Praktis. Kekurangannya ya, kalau mau ngomong, nggak bisa seenaknya. Kalau mau foto, nggak bisa seenaknya. But, still, it’s still a super fun trip!

**

Coldplay – A Head Full of Dreams Tour 2016

Tanpa perlu berbasa basi lagi, mari kita bahas soal konser Coldplay (yang masih bikin mabuk kepayang hingga tulisan ini ditulis).

Konser ini dimulai pukul 9 malam. Kemungkinan besar karena show memang dikemas dengan permainan lampu yang hampir 100% sepanjang konser, jadi langit gelap jadi syarat pasti untuk memulai pertunjukan. Durasi konser 2 jam penuh berlangsung tanpa banyak basa-basi. Ada sedikit selipan acara lamaran di atas panggung (yang katanya fans dari Indonesia), tapi itupun nggak menyita waktu banyak. Sisanya, nyanyi, ucapan terima kasih dari Chris, permainan lampu sebentar, dan nyanyi lagi. Menyenangkan!

Salah satu tontonan favorit saya di Youtube adalah live show Coldplay. Dan seperti dugaan, berada di tengah-tengah penonton, bisa melihat konser ini secara langsung, bener-bener jadi pengalaman tak terlupakan.

Tapi, di luar penampilan Coldplay, saya terkesan dengan kerapian penonton. Sebelum konser, saya yang menggunakan flat shoes sudah membayangkan, “Sepatu merah saya pasti akan berwarna hitam atau berubah bentuk setelah nonton karena diinjak penonton kiri kanan” (saya nonton di bagian Festival – sebutan kalau konser di Indonesia – yang berdiri). Ternyata, kekhawatiran saya tidak terjadi sama sekali. Tak ada satupun penonton di kiri kanan yang mendorong satu sama lain. Semua asik menonton konser sendiri.

Yang menyebalkan sedikit ya, segeromobolan anak muda di depan saya yang sibuk mengangkat HPnya. Nggak hanya merekam hampir 70% konser, mereka video call-an aja gitu sama temannya pas awal-awal konser. Selain itu, penonton bisa sambil minum. Minumnya pun dengan gelas plastik itu. Kebetulan gerombolan si HP ini juga sambil minum, jadi ya was-was juga minumannya tumpah.

Namun, setelah diperhatiin, nggak semua yang ke konser ini fans gila Coldplay. Ada juga orang di sekeliling saya yang sepertinya hanya jadi penikmat. Soalnya mereka hanya berdiri diam. Mungkin meresapi lagu kali ya, nggak kayak saya yang sibuk nyanyi. :D. Ada juga dua ABG yang berdandan kayak mau malam mingguan. Yang ini saya agak yakin nggak tahu Coldplay, soalnya dia nggak nyanyi tapi sibuk main HP pas Chris nyanyi.

Lalu, sedikit yang menyedihkan juga, saya merasa berdiri terlaluu jauh dari Chris. Maunya kan bisa liat jarak dekat. Tapi apa daya, jarak jauh sekali pandangan saya ke Chris.

Oleh sebab itu, saya berharap, suatu hari, dipertemukan lagi dengan Coldplay, dalam gig yang lebih kecil, atau minimal, saya yang berdirinya lebih dekat!

***

Kesimpulan

Never have I was back from traveling and have this kind of joy last for days after home.
Thanks Coldplay, thanks Melbourne, thanks anyone who make this story happens! 

Travel Blues, Percaya? 

Saya sih iya. Hehe. 

Detik, menit, jam, hari, menjelang liburan berakhir memang selalu penuh sensasi. Hati mulai nggak tenang. Kota, macet, panas, mumet, udah mulai kebayang-bayang. Padahal, di depan mata masih banyak pemandangan, teman, coffee shop, makanan enak, yang bisa dinikmati.

Teman saya pernah ngepos perihal travel blues ini. Emang nggak enak sih rasanya. Galauuu banget, mendekati galaunya orang lagi di persimpangan hubungan asmara. Setelah posnya hari itu, saya ketemu juga ada yang namanya Monday blues (kegalauan menjalani hari Senin), baby blues (kegalauan mama mama muda setelah punya baby), dan mungkin blues lainnya.

Cuman ya, namanya hidup yang macam roda berputar ini, nggak ada kan ceritanya liburan terus menerus. Coba bayangin kita liburan dua minggu, dua bulan, atau 12 bulan. Masih berasa nggak itu sensasi liburannya?

Mungkin momen-momen menjelang liburan berakhir itu juga yang membuat kita selalu menanti liburan. Mungkin sensasi menunggu liburan datang tidak akan sempurna kalau nggak ada sensasi berharap liburan nggak selesai. (Mungkin nggak ya?).

Yang jelas, harusnya yang namanya blues atau galau ini memang jangan diturutin berkepanjangan. Kalau sudah waktunya liburan selesai, ya selesai. Kalau sudah waktunya kerja, kuliah, ya kerja dan kuliah. Jangan pas libur mau kerja (ada nggak?), atau pas kerja mau libur.

Tempatkan diri pada waktunya. Tempatkan mood pada tempatnya.

Kerja dengan semangat. Sambil ngebayangin atau nyusun rencana libuan selanjutnya. Akhir pekan atau weekend atau day off di tengah-tengah minggu juga bisa di-treat jadi ‘liburan’ dadakan kok.

Kalau kebahagiaan menjelang liburan bisa dijaga selama momen beraktivitas dimulai kembali, niscaya blues blues akan menjadi lebih bright, hati menjadi sedikit lebih baik, mood jadi lebih bagus. Tanpa dirasa-rasa, masuk lagi deh ke momen liburan.

***

Inget ya, Pin. Yang semangat kerjanya.

(Jadi, kapan libur lagi?)

Bali, 14 Desember 2016

Berirama

Untuk urusan mendengar lagu, saya lumayan telaten. Mulai mata melek, sampai mata merem, saya selalu mengusahakan ada lagu yang sedang diputar di sekeliling. Khususnya kalau lagi di tempat sendiri dan lagi sendirian ya. Kalau ada temen ya nggak usah setel lagu. Jalan-jalan atau ngobrol aja. 😀 

Karena kebiasaan ini, saya pun membeli hape murah meriah yang bisanya cuma buat SMS dan telepon plus radioan. Enaknya HP model ini, radi-oan nggak perlu ribut, nggak pakai internet karena langsung pakai antena handphone (kalau nggak salah). Selain itu, baterainya juga irit. Biasanya, 2-3 hari baru saya cas lagi.

Untuk menggunakan fitur radio, umumnya HP model begini harus dicolokkan dengan headset. Supaya suara lebih mumpuni, saya pun membeli speaker portable. Selama hampir 6 bulan terakhir, keberadaan si hp dan si portable sudah tak terpisahkan.

Begitu bangun pagi, benda pertama yang saya cari (selain HP) adalah dua barang ini. Begitu dibuka, biasa HP sudah dalam posisi standby di menu radio. Soalnya, malam sebelumnya radio mati karena sleep mode yang dipakai. Kurang dari 5 menit, lagu sudah berbunyi di kamar.

Radio akan terus dinyalakan sampai saya mau meninggalkan rumah.

Pemutaran radio selanjutnya tentu berlangsung dalam perjalanan menuju kantor. Hampir tidak pernah saya berada di perjalanan tanpa bunyi lagu. Mau lagu radio, atau lagu Spotify, pokoknya kudu ada lagu.

Sesampainya di kantor, hal sama juga terjadi. Di kantor saya, setiap orang dibekali dengan headset portable. Selain buat teleponan, mungkin juga supaya setiap pegawai bisa mendengarkan lagu sembari bekerja (daripada sambil ngobrol). Makan siang, tidak ada lagu. Setelah makan siang, kembali ke meja kerja, Spotify dinyalakan kembali. Dulu sebelum ada Spotify, saya suka mengakses Tune In atau Youtube dan Apple Music – sebelum iuran bulanannya jadi mahal. Kalau lagi kerja sendiri, hampir 80% ada musik yang dimainkan.

Kembali ke perjalanan setelah pulang dari kantor, lagu pun kembali dikumandangkan. Sesampainya di rumah, HP dan speaker portable kembali beraksi lagi. Sampai jam tidur, sampai ketiduran, sampai besok paginya lagi… Begitu setiap hari.

***

Dengan kemacetan dan keriwehan kota Jakarta, mendengarkan lagu memang sangat membantu. Apalagi belakangan ini, atau akhir-akhir ini, dimana hujan sering turun. Kehadiran lagu baik ketika kamu di dalam atau di luar rumah, lumayan jadi teman yang bikin adem. Dengerin playlist bagus di tengah hujan di luar sana udah paling cakep!

Pasalnya, apapun suasana hati kamu, selalu ada musik yang bisa mengikuti. Senang, semangat, pengen joget, pengen ngelamun, pengen galau, pengen kesel, pengen ngomel, segalanya ada. Tinggal dicari saja.

Untuk teman di perjalanan, radio favorit saya belakangan ini adalah radio dengan playlist lagu soft beat, yang kebanyakan adalah tembang-tembang 90-an. Nggak yang menye, tapi liriknya bermakna, dan bikin semangat. Cuman ya nggak jarang juga, kalau malam minggu, atau lagi semangat, atau lagi ngantuk (dan biar melek), saya putar juga lagu-lagu masa kini yang berirama joget-joget itu.

Menutup akhir pekan di minggu pertama bulan Desember ini, saya tambahkan nih lagu yang diputer di radio saat perjalanan pulang saya ke rumah. Tembang lawas untuk menutup hari ini. Semoga besok berlangsung seru. Semoga Desember berjalan indah.

Salam!

Ada yang begini juga? 

Lupa Tak Semudah Itu

Raket sibuk menyambut dan melemparkan kembali bola ‘kok’ kesana kemari. Kaki sudah melompat ke kiri dan ke kanan, depan dan belakang, mengejar bola yang dikembalikan lawan. Peluh terasa, tapi keringat tak keluar. Begini rasanya musim dingin. 

blog-5

Masih teringat jelas memori kala itu. Saya dan beberapa kawan menghabiskan sore dengan jadwal bermain bulutangkis. Bagi saya, ini yang pertama. Olahraga di Cina. Bagi teman Indonesia yang lebih dahulu menetap di sini, bulutangkis telah menjadi aktivitas mingguan selepas kegiatan di kampus.

Layaknya segala sesuatu yang pertama kalinya dilakukan, sesi olahraga sore itu juga berlangsung seru. Menyewa 2 lapangan, kami berenam main bergantian. Tak hanya olahraga di negara lain yang berkesan. Olahraga di tengah musim dingin tanpa setetes keringat itu meninggalkan kesan yang luar biasa rekatnya di benak saya, hingga hari ini.

Beberapa minggu sebelumnya, kala kami baru menginjakkan kaki di sini, angin musim dingin yang semilir berhembus juga menorehkan senyum di wajah saya. Masih teringat jelas bagaimana kami menunggu di kampus, untuk membereskan urusan administrasi menjelang perkuliahan. Baju 3 lapis tak mampu menahan dinginnya angin. Baju tebal yang tak pernah akan menjadi koleksi baju di lemari, tiba-tiba menjadi baju yang seakan tak ingin pernah kami lepaskan barang semenit pun.

img_2204

Belum lagi kalau malam tiba. Tidur di kamar tanpa AC bukan perkara besar. Yang jadi soal adalah, tidur tanpa AC, dan kedinginan kendati baju lengan panjang, jaket, dan selimut, telah tersedia. Selimut di sini memang bukan bed cover tebal layaknya yang dijumpai di hotel bintang lima. Selimut yang saya miliki kala itu hanyalah bekal dari IKEA yang saya beli di sana. Berhubung murah, jangan berharap banyak dengan ketebalan dan kenyamanan untuk menghalau dingin. Begitulah tiap malam dihabiskan. Kedinginan.

img_2438

Kedinginan juga menghujam kala berada di kampus. Kegiatan pertama dengan teman kelas adalah saat salah satu teman merayakan ulang tahunnya. Teman Indonesia yang sudah akrab satu sama lain membuat acara kecil-kecilan untuk merayakan hari jadi si kawan. Kami sekelas digiring ke luar kelas untuk kejutan kecil. Hih. Sembari merangkul diri sendiri karena angin yang cukup dingin, kami menyanyikan lagu ulang tahun, menyambut sesi tiup lilin, hingga mencicipi kue ulang tahun.

Lari kala musim dingin juga tak berdampak banyak untuk mendatangkan keringat. Sepedaan juga tidak berpengaruh. Keringat menjadi hal yang dinanti di kala itu.

IMG_2424.JPG

Tapi, urusan mencari keringat ini tak jadi soal bagi teman yang sudah mencicipi 4 musim sedari bayi. Mereka asal Rusia, Perancis, atau negara Eropa lainnya, tak masalah dengan angin sejuk. Belasan derajat yang sudah bikin saya hampir mencak-mencak, tak jadi soal buat mereka. Beberapa melenggok dengan santai berbalut tanktop dan celana pendek. “Panas,” kata salah satu kawan asal Inggris. Saya sempat bermimpi bisa mengatakan hal yang sama suatu hari.

Acara gigil menggigil bertahan hampir 4 bulan. Saat Mei tiba, matahari mulai menyeruak. Tak ada lagi kedinginan. Baju hangat sudah dikemas. Terlipat rapi di dalam koper yang bersembunyi di bawah ranjang. Siap untuk dibawa pulang, beberapa bulan setelahnya…

***

Saya tau foto bisa banyak bicara. Tapi kali ini, memori itu terlalu meledak. Perlu tulisan supaya ledakan mereda.