Sebelum 2017 Selesai

Image

Thirteen more days before 2018! Begimana rasanya? 

Aslinya sih ya sama-sama aja. Cuman tetiba sore ini, setelah bulan-bulan yang penuh kesibukan, minggu-minggu yang berbau sedikit drama, dan beberapa hari yang berjalan dengan bahagia, ingin rasanya mengulas kembali perjalanan selama 2017 ini. Apalagi mengingat banyaknya hal baru yang dialami, baik yang menyenangkan maupun kurang.

Ini juga postingan yang dibikin biar semangat di detik-detik menjelang liburan DIMULAI! Karena pengen menutup tahun dengan positip, biarkanlah tulisan ini menyimpan yang indah-indah saja. 🙂

Naik kereta

Saya suka banget naik kereta. Maret 2017 adalah perjalanan pertama dan satu-satunya dengan kereta yang saya lakukan bersama Sherly. Perjalanan yang cukup impulsif, dengan persiapan serba mini dan tanpa tujuan. Pokoknya, pengen aja ke luar kota, pake kereta. Titik. Dengan keterbatasan waktu untuk memilih tempat tujuan, terpilihlah Cirebon!

Kota Cirebon ini nggak terlalu besar, Uber juga belum ada, jadi kita sewa mobil. Perjalanan 2 hari juga rasanya cukup untuk kami. Paling enggak, kita sudah mencicipi makanan, ke beberapa tempat wisata, dan ke salah satu daerah semacam puncak. Cirebon yang panas pun jadi terlupakan karena sempat mampir ke puncak. Terbayarkan juga, karena naik kereta! 😀

Ubud dan Gili 

Udah lamaaa banget pengen berkunjung ke dua tempat ini, dan akhirnya tercapai. Ubud, bulan Agustus, dan Gili, baru bulan lalu. Kedua tempat langsung jadi tempat favorit yang diimpikan jika suatu hari punya duit segudang yang memungkinkan kita bisa kabur kapan saja kalau mumet :D.

Ubud ini memang ajaib. Hijaunya bikin kangen. Toko2 makanan sehatnya juga seru banget buat dikunjungi. Pas ke beberapa toko bersama Monica, si desainer bertalenta nan lucu, tampaknya orang-orangnya kok positif semua. Mungkin karena banyak yoga? Atau banyak makan sayur? Entahlah. Tapi melihat mereka begitu, saya pun mengidamkan bisa menghabiskan waktu barang 3-5 hari deh di sana yogaan dan makan makanan sehat juga (yang nggak kebanyakan sayurnya, tapi :D) untuk satu waktu. Siapa tau bisa jadi lebih positif… Ini foto pas di Ubud kemarin.

Nah kalau Gili, jelas yah pantai banget. Nyampe-nyampe langsung pantai. Kiri pantai, kanan toko. Pulau yang kecil memungkinkan kita bisa jalan kaki kemana aja dengan santai, dan berpemandangan pantai. Cakep sih ini tempat. Sama seperti Ubud, yang bikin suka tentunya karena menyenangkan banget buat relaksasi. Saking santainya, post hasil liburan pun cuma berbentuk foto, karena nggak mau mikir buat nulis. Haha.

Asal jangan kelamaan ya kalau ke dua tempat ini. Seminggu udah paling lama, kalau menurut saya. Kalau lebih dari itu, pulang-pulang bisa nggak mau kerja lagi. 😀

Nabung 

Nah, ini juga pencapaian menyenangkan yang terjadi tahun ini. Sejak kapan saya ingin menabung? Sejak kuliah ke luar kota, tahun 2006. Iya, 11 tahun lalu. Kapan itu tercapai? Tahun ini! Hiya, biar lambat asal selamat.

Berbekal niat dan dorongan dari seseorang soal gampangnya menabung, saya pun mulai menabung bulan November lalu. Kenapa gampang, ya memang gampang, tinggal sisihkan uang bulanan saja. Apa yang bikin susah? Niat aja yang kurang. Hehe. Tabungannya buat apa? Nggak tahu juga. Pokoknya tabung aja dulu. Biar ngikutin kata orang, “Kali2 kalau suatu saat ada kebutuhan mendesak, jadi udah ada tabungan”. Yea!

Sehat

Bersyukur juga tahun ini ibu dan kakak di rumah sehat sentosa selalu. Khususnya si Ibu alias mamak, yang makin lama makin gaul. Kerjaannya nongkrong, jalan-jalan, terus foto rame-rame di tempat makan, di tempat wisata, di rumah temen, di meja makan. Frekuensi mamak jalan-jalan tahun ini juga meningkat. Senang melihat mamak senang! Sehat selalu ya, mak!

Ulang tahun

Apa yang beda dengan ulang tahun kali ini? Bukannya tiap tahun ulang tahun? Haha. Memang betul. Bedanya, tahun ini lebih istimewa dari yang sudah-sudah, karena ada selebrasi dari seseorang. (cie). Seru juga rasanya dibawain kue ulang tahun, dinyanyiin lagu selamat ulang tahun rame, yang berkedok kejutan tapi sebenernya udah ada firasat juga. Beruntunglah kamu yang tiap tahun dapet begituan. Haha!

Sebagai seorang pemalu yang selalu pemalu, terima kasih ya atas kuenya, kadonya, kerjasama dengan teman-temannya, yang bikin ulang tahun tak lagi jadi ulang tahun aja! Salam peace, love, and gaul! 🙂


Ngomongin ulang tahun, berarti tahun depan udah ulang tahun babak baru nih. Apakah 2018 akan berjalan dengan penuh semangat, cerita, dan kisah yang semakin menyenangkan? Tentu! Deg-degan? Dikit. Banyak rencana? Banyak! Doakan terlaksana. Amin! 🙂


The pen and paper are on you. So, let’s draw a nice start!

Advertisements

Orang Tua Pasca Milenial 

Beberapa waktu lalu saya membaca salah satu tulisan tentang “Jika saya menjadi mertua…”. Tulisan yang cukup menggelitik mengenai bagaimana penulis akan bersikap jika suatu saat anaknya menemukan pasangan, dan harus berhadapan dengan mertuanya. Saya melihat tulisan ini menjadi pengingat untuk penulis sekaligus yang memaparkan kebalikan dari hal-hal kurang menyenangkan yang banyak dilakukan oleh mertua pada umumnya.

Dan, pagi ini pikiran saya mampir pada topik bagaimana “Jika saya menjadi orang tua…”. Dengan jaman yang berkembang dengan kepalang cepat ini, jadi orang tua sepertinya tidak gampang. Iya, saya juga belum bersentuhan dengan rencana menjadi orang tua atau menantu-mertuaan dalam waktu dekat. Tapi, saya banyak berpikir dari kacamata sebagai seorang anak yang memiliki orang tua. Berkaca pada posisi saat inilah kira-kira tulisan ini dibuat.

Jadi, ini hanya tulisan tentang bagaimana saya akan bersikap jika kelak saya menjadi orang tua. Tujuannya, tidak kurang tidak lebih, supaya terjalin keterikatan dan komunikasi yang baik dengan anak-anak saya, kelak. Yang mungkin juga beda untuk versi orang lain.

Saya tahu, menjadi orang tua bukan perihal mudah. Banyak hal yang dipikirkan orang tua khususnya menyangkut kebahagiaan anak. Tapi yakinlah, menjadi anak juga bukan perihal mudah. Apalagi, mereka yang akan menjadi remaja atau dewasa dalam beberapa puluh tahun ke depan ketika jaman pastinya semakin rumit, semakin cepat, dan semakin tidak tertebak dari apa yang sudah terjadi saat ini, bagi kita si milenial, atau mereka, si jaman now. Mudah-mudahan intisari ini berguna…

Be Updated

Mengapa ini jadi yang pertama? Karena dari sinilah, gap antara apa yang diketahui si anak dan si orang tua bisa dijembatani. Mudah-mudahan, 10 tahun lagi semua akan tetap terupdate di sosial media atau portal berita. Dengan begitu, minimal orang tua punya akses untuk mengetahui apa yang terjadi di luar rumahnya. Kalau ndak ada yang update ke sini lagi, bingung juga kan kita nantinya harus kepo dari mana. Dari novel “Hujan” atau serial “Black Mirror” atau tontontan lainnya yang bercerita tentang teknologi jaman mendatang, konon layar LCD tak lagi digunakan karena sudah terganti dengan sistem hologram mulai dari layar, keyboard, hingga mouse. Yah, seberapapun canggihnya, intinya saya ingin jadi orang tua yang tetap update dengan berita terkini, gaya rambut terkini, gosip artis, atau bahasa gaul terkini. Jadi, kalau anak saya lagi ngomongin yang gaul-gaul, paling endak saya bisa paham. Dikit-dikit.

Related image

Mendengar

Urusan mendengar memang selalu menjadi kendala saat berkomunikasi di lini apapun; sekolah, pekerjaan, keluarga. Namun sayangnya, kita tetap dituntut untuk menjadi pendengar yang baik (dibanding pencerita yang baik). Kerumitan hidup yang akan terjadi di masa mendatang akan banyak mendatangkan kerisauan untuk anak-anak. Orang tua yang bisa mendengar akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak untuk menceritakan keluh kesahnya. Mungkin jaman mendatang, orang makin nyaman untuk bercerita tanpa tatap muka; via Skype versi terbaru misalnya? Yah tidak apa, yang penting fungsi mendengar tetap dijalankan dengan baik sebagai orang tua, apapun medianya.

Berteman

Secanggih-canggihnya teknologi, keberadaan manusia yang punya rasa, emosi, dan jiwa tetap akan mengisi kekosongan di jiwa seorang manusia. Saya rasa kebutuhan ini akan abadi dan terus ada dalam puluhan tahun ke depan. Saya selalu iri melihat bagaimana orang tua dan anak bisa berkomunikasi dan berinteraksi layaknya teman. Saya ingin menjadi seseorang yang bisa menerapkan hal serupa, suatu hari nanti.

Asking less 

Ada orang yang cenderung senang bercerita, tanpa perlu ditanya (termasuk saya). Ketika orang banyak bertanya, saya malah segan bercerita. Ketika tidak ditanya, saya malah gatel pengen cerita. Menilik pada hal ini, saya pun ingin menjadi orang tua yang tidak terlalu banyak bertanya alias kepo. Kali-kali anak saya nanti seperti saya, jadi dia tidak kabur dan nyaman untuk bercerita. Kalau dia kayak saya loh yah. Kalau ternyata dia lebih demen ditanya, ya kita sesuaikan nanti. Haha.

Eh ini juga berlaku untuk ‘asking’ dalam urusan ‘meminta’. Percayalah, kebiasaan meminta bisa diinterpretasikan dengan kecenderungan ‘menuntut’. Unless ini adalah hubungan bos dan karyawan dengan timbal balik gaji dan tanggung jawab, kurang baik rasanya terlalu banyak menuntut, apalagi terhadap anak sendiri.

Be fair

Hidup itu susah. Tak heran, menemukan kondisi yang fair menjadi sesuatu yang sangat melegakan untuk urusan-urusan genting. Entah itu fairness di lingkungan kerja, sekolah, atau dimanapun, mereka yang bertindak adil akan lebih diharga. Untuk urusan keluaga, fairness saya terjemahkan untuk urusan reward and punishment. Berikan penghargaan untuk pencapaian yang dilakukan anak, dan berikan sanksi serta penjelasan atas apa yang kurang tepat. Orang tua tak selalu benar. Anak tak selalu salah. Kira-kira begitu.

Move on

Seringkali orang tua punya harapan yang diberikan pada anak. Nilai yang bagus, kerjaan bagus, jodoh bagus, kehidupan bagus, dan segala kebagusan lainnya. Sebagai seorang manusia normal, tentu saja apa yang bagus itu menjadi keinginan si anak juga. Hanya saja, ia mungkin mengejar ‘kebagusan’ itu dengan caranya masing-masing yang sudah di-customize sesuai dengan perkembangan di sekelilingnya. Kelak, saya ingin menjadi orang tua yang bisa menerima dengan legowo jika apa yang saya yakini bagus, pada prakteknya tidak dirasa bagus oleh si anak. Menuntut agar apa yang kita yakini benar bisa terjadi memang menyenangkan, tapi dituntut sangat tidak menyenangkan. Mengulang-ulang keinginan orang tua mungkin dipandang wajar, tapi melakukannya berulang-ulang sepertinya akan berdampak kurang baik di kemudian hari. Sepertinya teori ini akan terus ada tak peduli semaju apapun teknologi.

Berdoa 

Doa di telapak kaki ibu. Iya saya percaya. Tak hanya ibu pastinya, ayah juga, dan semua kerabat keluarga juga, bahkan semua yang mendoakan kita. Banyak harapan yang diberikan pada anak, mulai dari A-Z. Seringkali harapan disampaikan lewat doa. Mungkin ada hal yang tidak bisa saya sampaikan secara verbal kepada si anak, karena itu, saya berdoa. Percayalah, ketika sudah menyampaikan doa, akan ada kekuatan yang membantu kita mewujudkannya. Kalau doanya benar, niscaya terkabul. Kalau belum terkabul, mungkin doanya kurang tepat. Atau ya, belum waktunya.


Sekali lagi, ini hanya tulisan pengingat yang dirangkum dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, tontonan, bacaan, yang didengar, dan sumber lainnya. Mudah-mudahan masih tersimpan di halaman WordPress saya pada 1 atau 2 dekade berikutnya untuk bisa dibaca lagi. 

Surprise!

Crap!

Bunyi seorang teman yang baru mendapatkan kejutan yang membuat semua rencananya berantakan. Apa yang disusun sejak berminggu-minggu lamanya tak lagi bernilai karena situasi tak terduga yang datang tiba-tiba.

Kejutan.

Kapan terakhir kali kamu mendapatkan kejutan? Iya, keduanya. Yang menyenangkan dan yang kurang, atau bahkan menyebalkan. Serunya lagi, kadang ketiganya datang bersamaan dalam tempo sepersekian detik saja. Misalnya, kejutan berupa berita menyenangkan, yang setelah ditelaah beberapa detik kemudian membuat kamu berpikir bahwa itu tak sepenuhnya menyenangkan, bahkan cenderung melahirkan kesulitan. Yang tadinya senang, tak jadi senang.

Saya juga sering mengalami hal ini. Terakhir, kejutan yang tak terduga dari sektor pekerjaan. Menyenangkan sih di awal. Tapi siapa sangka membuat beberapa hari sesudahnya berlangsung bak cerita novel dengan segala plot naik turunnya. Endingnya, tak lagi menyenangkan, walau kemudian harus kemudian dihadapi lagi dengan tersenyum. See?

Kejutan kecil di kehidupan sehari-hari lebih sering terjadi lagi. Misalnya, rencana untuk tiba di kantor tepat waktu jadi porak poranda karena kejutan pagi. Alarm HP tiba-tiba ‘tidak berbunyi’, akibatnya telat bangun, jadi harus naik gojek, tapi aplikasi gojeknya berulang kali tidak menemukan pengemudi, berujung menemukan pengemudi tapi eh posisinya masih jauh di belahan sana, kemudian harus menunggu, nggak lama hujan gerimis, abang gojek bingung karena tidak tidak tahu tempat penjemputan, dan seterusnya.

Kalau dipikir-pikir, sebenernya tak semua kejutan itu betul-betul sesuatu yang datangnya tiba-tiba. Ada hal tertentu yang alam bawah sadar kita sudah ketahui keberadaannya, namun tidak pernah kita acuhkan. Misalnya, kenyataan bahwa yang namanya pesen ojek di jam berangkat kerja ya akan berujung demikian, karena 5 ribu orang lainnya juga sedang melakukan hal yang sama.

Ada juga hal yang sudah kita sadari benar-benar ada, tapi berusaha kita abaikan. Misalnya? Kenyataan bahwa pilihan untuk melakukan A akan melahirkan B. Bahwa jika kemudian kita memilih A, lalu B muncul setelah sekian waktu, jangan sampai bikin kamu bak ditiup angin topan sebab ia tidak bisa sepenuhnya kita sebut ‘kejutan’. Karena, kita sudah tahu ‘mereka ada’.

Menulis ini hanya menjadi pengingat bagi saya dan kamu juga barangkali, bahwa apapun bentuk kejutan; baik yang disadari atau tidak, yang disukai atau tidak; akan selalu ada dalam hidup. Urusan berikutnya adalah, menghadapi ‘kejutan’ dengan akal sehat. Kejutan melahirkan emosi. Berarti, menghadapi dan mengendalikan emosi-lah yang akan menjadi tugas selanjutnya.

Semoga ke depannya lebih banyak kejutan membahagiakan daripada yang memusingkan.

Selamat libur panjang! 

Gili Trawangan