Aside

Tentang Rasa

Baru-baru ini, saya membuat satu postingan di Instagram yang muncul karena banyak orang dekat saja yang baru saja kehilangan kerabat mereka; nenek, dan ayah. Beberapa kejadian yang terjadi dalam waktu berdekatan itu membawa saya pada memori kehilangan yang serupa, beberapa tahun lalu.

Lalu, malam ini, salah satu teman itu menuliskan pedihnya rasa kehilangan ayah yang baru saja ia rasakan, di akun Facebook-nya. Sedih.

Berbicara tentang rasa memang susah-sisah gampang. Gampang karena banyak sekali jenis rasa yang beredar di sekeliling kita. Kategori pertama adalah rasa yang gampang. Rasa makanan yang manis asam asin, rasa gerah karena berjemur di luar ruangan, rasa dingin karena berdiri di bawah AC, rasa geli karena digelitik, rasa sakit karena dicubit, dan masih banyak lagi, adalah jenis yang gampang. Tidak sulit mengumpat atau mengungkapkan dengan verbal, setiap rasa yang tersebut di atas. “Ah kurang asin!”, duh sakit!”, kamu pasti bisa menambahkan lebih banyak contoh lagi.

Namun, membahas rasa yang benar-benar datang dari perasaan, tak semudah rasa yang datang dari semangkuk soto ayam. Rasa senang, sedih, sayang, benci, kecewa, bangga, bukan sesuatu yang bisa terungkap dengan gamblang dari orang seperti saya (dan sepertinya beberapa teman yang mungkin membaca tulisan ini). Banyak blok mulai dari otak, hidung, kerongkongan, hati, naik lagi kerongkongan, yang menghalangi rasa ini untuk terkatakan. Alhasil, jenis-jenis rasa di kategori kedua itu hanya berakhir di pikiran, diam di perasaan, atau lebih mentoknya lagi, nongol di blog ini.

Balik lagi ke urusan kehilangan dan kesedihan.

Sudah banyak pengalaman sendiri atau orang lain yang menekankan pentingnya menyampaikan perasaan. Tentunya tetap dengan akal sehat. Rasa marah tidak bisa diumbar begitu saja tanpa melihat situasi dan kondisi. Namun, paling tidak, rasa itu harus terucap atau terluap. Kalau ndak begitu, katanya bisa kena serangan jantung atau tekanan darah tinggi. Sama halnya dengan rasa kangen, sayang, atau rindu dengan orang-orang terdekat, yang agaknya juga harus tersampaikan.

Mumpung masih ada waktu, kata orang-orang. 

Bali, August 2017Life is about letting in and letting go. My deep thought for all friends and your lost. This ending is leading your loved one to a better place, to a greater journey. Thus, let go. @vinnydubidu

Advertisements