Aside

Berpikir, Versi Rahul

Banyak hal di muka bumi yang menuntut kecermatan logika saat dikerjakan.

Contohnya:
– Di pemerintahan, para petinggi harus mengambil keputusan yang logis atas kebijakan apapun karena efeknya menyangkut hajat hidup orang banyak. Pilih dengan benar, bukan pilih apa yang Anda anggap benar.
– Di pekerjaan, pegawai harus membagi waktu kerjanya secara logis supaya semua tugas bisa dikerjakan baik, atau selesai dengan tepat waktu. Logika membantu pegawai menyusun skala prioritas. “Mana yang mesti duluan beres, mana yang bisa menyusul”.
– 
Dalam hubungan antar manusia, logika membantu kita menempatkan diri dengan tepat di sebuah lingkungan, membantu kita berkomunikasi dengan kenalan baru, membangun pembicaraan yang sehat dan hangat saat ditugaskan untuk menghadiri rapat atau konferensi, dan sebagainya. Logika atas apa yang benar dan diterima masyarakat membantu kita bertindak dengan norma yang tepat saat berinteraksi dengan manusia lain.


Bagi saya, kebijaksanaan untuk menempatkan diri sesuai tempat, waktu, dan kesempatan secara tepat, adalah hasil dari kemampuan mengasah diri untuk bisa bertindak sesuai logika.

Tapi, ngomong-ngomong, sebenernya apa sih “bertindak sesuai logika” itu? Bedakah ia dengan konsep ‘bertindak secara rasional’?

Dikutip dari rahul.net (bukan website akademis, melainkan website yang agak sedikit dodgy meskipun penjelasannya paling mewakili apa yang saya maksud), pola pikir manusia terbagi menjadi tiga tipe.

We think in one of three possible modes: “pathological”, “logical”, or “psychological”.

  • Pathological thinking does not see itself. When it starts to see itself, it dissolves, like a witch in water. Pathological thinking is mixed with emotion, and it is the (unrecognized) emotion that directs it.
  • Logical thinking works without emotion. It works by comparison, yes or no, either/or. It seeks conclusion, decision between two opposing choices. It is impartial, non-subjective. It works like a computer, composed of bits, dissecting but never understanding.
  • Psychological thinking is intellect in harmony with emotion. It is aware of itself. When that awareness vanishes, so does the cooperation of thought and feeling. Thought then becomes logical, pathological, or disappears entirely.

Psychological thinking can be inductive or deductive, logical thinking is inductive, and pathological thinking is only destructive.

Terkait dengan berpikir secara logis, agaknya Rahul mencoba menjelaskan bahwa berpikir secara logis berarti berpikir tanpa emosi. Atau ya, mirip saja dengan berpikir secara rasional (cmiiw). Berpikir dengan logika adalah tentang membandingkan beberapa pilihan berlawanan, menimbang dengan akal sehat, baru memutuskannya dengan objektif.

Kebalikannya, berpikir secara patologis (terjemahan Google) adalah kecenderungan berpikir dengan emosi, dan emosi. “Nggak tau kenapa, cuma pengen aja”. Unrecognized emotion. Tak perlu membandingkan apa-apa. Yang penting, amankan saja ’emosi’. Titik.

Kemampuan paling sempurna manusia, menurut Rahul ada pada kemampuan ketiga, atau berpikir secara psikis. Kemampuan ini menggabungkan objektifitas berpikir dengan logika dan emosi dari si patologis. Ia menempatkan logika dan emosi di waktu yang tepat. Kapan harus berpikir secara logis, kapan harus mengikutsertakan psikis atau perasaan. Baru kemudian, mengambil keputusan.


Sayangnya, kemampuan untuk berpikir dengan tingkat paling sempurna, seperti kata Rahul, bukan hal mudah yang bisa dimiliki tiap orang. Kalau disuruh menyebutkan satu nama yang memiliki jalan pikiran paling TOP seperit definisi si Rahul tadi, saya ndak tahu siapa.

Di banyak sektor, khususnya 3 hal yang saya sebutkan di awal tulisan, mungkin berpikir secara logis akan menjadi pilihan pertama yang harus kita miliki dan amanatkan dalam hidup sehari-hari. Namun, untuk beberapa sektor kehidupan yang berhubungan dengan emosi, ternyata ‘berpikir dengan logika’ malah menimbulkan gejolak. Keduanya tak dapat disandingkan semudah definisi yang Rahul katakan.

Sebentar, saya cari dulu jalan keluarnya…

Advertisements