Gallery

Weekend Mission

  1. Wake up at 9 am
  2. Laying down the bed till 12 pm
  3. Take a shower till 1 pm or take 30 minutes swimming 
  4. Ordering Go-Food
  5. Finish brunch at 2 pm 
  6. Get prepared to leave home 
  7. Seeing friend at 3 pm 
  8. Chit-chat, strolling around few coffee shops 
  9. Dinner at 7 pm 
  10. Movie till 10 pm 
  11. Supper 
  12. Go home

Have a great weekend!  

Advertisements
Gallery

Minggu Tenang

Hasil akhir kepada Bapak Ahok tiba-tiba membawa kesedihan kepada banyak orang. Bahkan, Ibu saya yang tidak pernah mengikuti berita tiba-tiba bilang bahwa dia menangis setelah mengetahui apa yang terjadi pada Ahok. Padahal, kalau dipikir-pikir, sedekat apa kita dengan Bapak? Kerabat? Teman sekolah? Teman main?

Tapi, ialah Ahok. Sosok yang berhasil membuat banyak masyarakat menyukai, mencintai, mengagumi, hingga membenci, untuk alasan yang tidak cukup kuat untuk membuat kita ‘baper’. sedemikian jauh.

Emosi saya campur aduk semenjak Pilkada. Mulai dari semangat berapi-api untuk menonton debat 1, 2, hingga setengah berhasrat menonton debat terakhir. Dari rasa takut karena melihat tank dan puluhan pasukan berseragam hijau tiba-tiba siaga di dekat tempat tinggal saya saat terjadi demo 121, 212, 313, sampai ilfeel dengan isu demo 414 dan seterusnya yang semakin tidak jelas tujuannya. Dari deg-degan melihat 1, 2, 3, hingga kaget kerena tiba-tiba sudah sidang ke-19, lalu terdiam di sidang terakhir.

Namun, dari semua kejadian itu, ada satu yang selalu terjadi.

Bapak Ahok selalu ada. Dengan konsisten, Bapak tetap berkampanye selama masa pemilihan. Di luar waktu kampanye, Bapak tetap melakukan tugasnya sebagai Gubernur; menemui warga yang mengantri di Balai Kota, memantau proyek yang sedang dilakukan Pemda, rapat, dan seterusnya. Di tengah ketakutan warga karena demo yang berkali-kali dengan isu dan hoax yang membanjiri, Bapak tetap bekerja. (Kalau saya jadi Bapak atau keluarganya, saya akan takut setengah mati dan memilih untuk diam di rumah).  Di tengah kesibukannya untuk melayani warga, Bapak tetap mengikuti sidang berjam-jam, tanpa absen satu kali pun.

Apakah Pak Ahok tidak pernah bete, pusing, capek, demam, atau darah tinggi saat menghadapi hari-hari di atas? Tentu saja iya. Tapi, lagi-lagi. Ialah Ahok. Sosok yang menunjukkan betapa dedikasi itu selalu harus konsisten dan maksimal, apalagi untuk apa yang kamu kerjakan atau diamanatkan kepadamu, dan untuk apa yang kamu rasa benar dan membawa manfaat untuk banyak orang.

Tidak perlu lagi saya rincikan apa perubahan baik yang telah Ia bawa untuk ibukota. Bahkan, super Uber yang tidak saya kenal pun dengan bangga menceritakan kebahagiannya atas perubahan di Jakarta, yang baru ia lihat setelah dari Medan berpuluh-puluh tahun lalu.

Alasan ini yang mungkin membuat kita baper berlebihan kepada Pak Ahok, dan mencapai puncaknya pada tanggal 9 Mei.

Emosi yang dirasakan hari itu sungguh berlebihan, apalagi setelah melihat satu demi satu berita mengalir di grup chat, berita online, atau televisi. Respon yang kemudian melahirkan aksi damai di Jakarta, hingga kota-kota lainnya. Seperti beberapa teman, saya juga sempat tidak ingin mengikuti berita seharian pada Selasa kemarin. Belum lagi, kalau foto yang ditampilkan adalah foto Bapak, atau Ibu Vero dengan baju putihnya dan anak sulung Pak Ahok, saat tiba di LP Cipinang.

Perut saya bahkan tidak enak saat kata “LP” nongol di sini.

Indonesia Bukan Ahok

Muncul salah satu tulisan ini kemarin di Facebook saya. Judul yang membuat saya muak seketika.

Masih ingat kalian dengan berbagai pesan moral yang diajarkan oleh orang tua, guru, atau paman kita baik di rumah atau di sekolah? Tentang bagaimana harus menghargai orang yang lebih tua, selalu bersikap jujur, saling hormat menghormati, lapang dada, tolong menolong, dan segala macam sifat baik yang harus diamalkan kita sebagai seorang manusia?

Oleh Bapak Ahok, sikap ini diamalkan. Untuk orang yang mengaguminya, moral itu ditularkan atau diniatkan untuk ditiru. Konsistensi Ahok terhadap tugas, tanggung jawab, hingga jadwal sidang, mengajarkan bahwa kita harus selalu bersikap demikian dimanapun juga, dalam kondisi seberat apapun juga. Meskipun tiba tepat waktu tidaklah mudah, tapi ingat, Ahok melakukan itu. Kita yang mengaguminya, wajib melakukan hal yang sama.

Keberanian Bapak Ahok untuk memperjuangkan apa yang ia rasa benar, jauh mengajarkan lebih banyak hal. Tak terhitung lagi betapa seringnya saya atau mungkin kamu ingin mundur, putus asa,  untuk alasan yang mungkin tidak sepantasnya membuat saya sedemikian jatuhnya. Masalah itu selalu ada selama kita hidup. Tapi, bagaimana kita melihat dan menghadapinya, itu yang paling penting. Pak Ahok menginspirasi saya untuk lebih berani.

Pengorbanan. Bagi saya, ini hal terbesar yang beliau lakukan. Pengorbanan untuk menahan diri, menjaga setiap perkataan, hingga menjadi sosok yang baru (bisa bayangkan gimana jadinya kalau kamu yang biasanya tidak bisa diam, tiba-tiba dipaksa untuk menjadi pendiam?). Untuk alasan yang lebih besar, beliau melakukan ini.

Belum lagi, pengorbanannya untuk keluarga agar dapat terus bekerja untuk kita semua. Kampanye pagi malam, membetulkan kebobrokan yang ada selama berbulan-bulan, dan masih banyak lagi. Untuk siapa hal itu dilakukan? Untuk saya, kamu, warga Jakarta, agar bisa tinggal dengan lebih happy, mudah, dan nyaman. Apakah Bapak Ahok tidak mengorbankan banyak waktunya dengan keluarga agar segala rencananya untuk ibu kota bisa terus berjalan? Belajar dari beliau, mungkin sudah waktunya kita memikirkan hal yang sama untuk sesuatu yang lebih besar.

Oh yah. Suatu hari saya diajak melintasi rumah Pak Ahok. Apa yang saya temukan? Bendera merah putih yang berdiri tegak di halaman rumah. Ingat kapan terakhir bendera berdiri di rumah kamu? Rumah saya pun baru sibuk memasang bendera, 2-3 hari sebelum 17 Agustus, setelah diingatkan oleh Pak RT. Itu pun berdiri kurang dari seminggu sebelum diturunkan kembali. Saya ingat betul, hari saya melintasi rumah Pak Ahok bahkan jauh dari bulan Agustus. Apa ada peraturan bahwa pejabat / PNS wajib memasang bendera di rumah mereka? 

Indonesia memang bukan Ahok. Atau sebaliknya. Namun, jika suatu hari kita semua bisa memiliki hati sebaik dan setulus Bapak Ahok, Indonesia bisa jadi tempat terbaik di dunia untuk siapapun. Sayangnya, melatih diri untuk memiliki hati baik dan tulus tidak semudah itu. Tapi, tak ada salahnya berusaha.

Minggu Tenang

Kebaperan saya dan teman-teman masih terus berlanjut hingga hari ini. Tapi, hari ini juga saya menemukan sudut berbeda yang bisa saya jadikan acuan supaya porsi kesedihan ini berkurang.

Atas semua yang dialami, mungkin peristiwa ini terjadi untuk memberikan Pak Ahok sedikit ruang untuk bernafas dari apa yang ia hadapi berbulan-bulan. Kita bisa boleh capek, sedih, marah, bingung, atas apa yang terjadi. Tapi, saya yakin apa yang kita rasakan tidak lebih dari 1/12 dari apa yang Pak Ahok rasakan. Jadi, cukupkan itu di sana. Pikirkan bahwa dengan segala kesulitannya, momentum ini bisa jadi waktu untuk Bapak agar bisa beristirahat sejenak.

Pak, semoga doa saya dan kami semua didengar oleh kekuatan alam semesta dan Tuhan yang kami yakini. Doa agar Bapak dan keluarga tetap sehat. Kami mungkin berduka karena tiba-tiba harus hidup ‘sendiri’ tanpa sosok Ayah yang selama ini telah menjadikan rumah kami lebih nyaman untuk ditinggali. Tapi, seperti yang Bapak sering katakan, kesedihan kami tidak boleh menjadi alasan untuk mencaci maki siapapun, atau lembaga apapun, apalagi membenci bangsa ini. Seperti kata Bapak, kami harus tetap percaya bahwa perubahan baik akan terjadi. 

Pak, semoga ini minggu tenang bagi Bapak setelah serangkaian peristiwa yang terjadi. Semoga ini tidak berlangsung lama sehingga Bapak bisa kembali berkumpul dengan keluarga yang Bapak cintai. Semoga kekuatan manusia yang berusaha melakukan sesuatu untuk Bapak, juga bisa melengkapi kekuatan Tuhan yang dipanjatkan oleh sebegitu banyaknya orang untuk Bapak. Sehat selalu, Pak Ahok. 

**

Di satu sisi, saya bersyukur bisa menjadi bagian dari sejarah pergerakan bangsa ini. Hanya saja, semoga sejarah ini bisa ditutup dengan indah sehingga saya bisa meninggalkan cerita seoptimis perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah yang berakhir bahagia, kepada anak cucu saya. Semoga 10 atau 20 tahun ke depan, peristiwa ini sungguh menjadi sejarah. Bukan lagi bertahan menjadi sebuah peristiwa yang masih terjadi.

Satu lagi. Jika ini bagian dari konspirasi politik, semoga penguasa yang tak puas dengan kekuasaannya atau ingin melipatgandakannya menjadi 100 kali lipat bisa melakukan cara yang lebih pintar untuk mewujudkan keinginannya. Cara yang tak lagi mengorbankan orang, tapi cara yang lebih elegan, bermartabat, dan berkeTuhanan.

hope

 

Gallery

Before May

Good moments don’t come often and tonight I feel like framing it here. 

These are few good things happened this year. Such a short reminder about how these pass 5 months have been well-spent with many lovely people. Well-spent enough that the small cracks shouldn’t tear you down.

Life is good and better when you have a way to embrace it with gratitude.