Gallery

Komitmen

Akhirnya 15 days challenge saya selesai. Ini adalah tantangan menulis 15 topik dalam 15 hari yang saya mulai 5 Maret lalu. Tantangan yang harusnya dimulai dengan komitmen untuk menyelesaikan tulisan dengan waktu yang ditentukan, bukan malah ditunda hingga 4 kali lipat lebih lama. Kalaulah tantangan ini ada gurunya, saya minta maaf. Dari sini, saya belajar bahwa komitmen tidak semudah itu.

Tidak jarang saya dengar cerita orang yang sukses berkomitmen. Dalam dunia kerja, mereka yang berkomitmen dengan apa yang dikerjakan, berhasil melewati masa susah, bertahan, dan sukses. Hasil komitmen tidak muncul dalam jentikan jari. Lihat mereka yang masuk deretan orang-orang terkaya. Berapa lama mereka menjalani bisnis. Abaikan mereka yang kaya karena turunan atau kaya di usia 25. Seuntung-untungnya mereka, ada juga komitmen yang diberikan. Komitmen waktu? Untuk terus bekerja agar kekayaannya bertahan?

Dalam dunia keluarga, banyak juga yang sukses berkomitmen. Mengarungi bahtera rumah tangga hingga berpuluh-puluh tahun. Cerita paling ideal di tanah air, hadir di Habibie-Ainun. Di dunia nyata, mungkin banyak yang berharap bisa menjalin kisah seperti Pak Habibie. Walau demikian, mereka yang bisa berkomitmen dengan kisah tak seindah Pak Habibie pun, selalu membuat saya kagum. Mendengar / membaca cerita orang-orang, saya bisa membayangkan betapa susahnya mempertahankan biduk keluarga. Anak, ekonomi, lingkungan keluarga pasangan, pekerjaan, semua bergabung dalam satu karung yang harus dipikul bersama. Gampangkah ini? Tentu saja susah. Saya yakin. Sekali lagi, salut untuk yang berkeluarga.

Dalam dunia pacaran, komitmen juga bukan hal mudah. Banyak perusakan komitmen yang terjadi dalam hubungan yang ada di sekeliling kita. Bubar jalan karena pasangan menjalin kisah dengan orang lain, atau pasangan lebih memilih pekerjaan dibanding pasangan, atau pasangan yang seketika saja tidak ingin berkomitmen. Padahal, komitmen pernah ada saat hubungan akan dimulai. Mungkin daya juang terkait komitmen pada urusan ini, sedikit lebih jauh daripada dua urusan di atas (perkawinan dan pekerjaan).

Saya baru menyadari, saya juga susah berkomitmen. Di luar 3 urusan besar di atas, saya kerap gagal berkomitmen. Contoh : komitmen untuk olahraga tiap malam 10 menit sebelum tidur, komitmen untuk mengurangi makan daging, komitmen untuk bangun lebih pagi, komitmen untuk lebih rajin berbincang dengan Ibu / anggota keluarga, komitmen untuk menghabiskan waktu secara optimal saat di kantor, komitmen untuk bersihin tempat tinggal seminggu sekali, dan masih banyak lagi. Bayangkan, komitmen yang kita buat untuk diri sendiri saja, sering dilanggar. Padahal, apa sih susahnya lowongin waktu 1 jam untuk bersihin tempat tinggal dalam 1 minggu?

Komitmen, bukan hal mudah.

Banyak perjuangan yang harus siap dihadapi ketika kita mengeluarkan kata ini, atau memutuskan untuk menjalani ini, untuk urusan apapun. Tak ada yang selalu berjalan lurus. Apalagi ketika kita memilih untuk berkomitmen. Berkomitmen ini semacam; mulai dengan baik, akhiri dengan baik. Semua memulai usaha dengan harapan usahanya lancar. Jika di tengah jalan ada halang rintang yang muncul, komitmen akan membuat ia bertahan karena ia harus menutup perjalanan dengan baik. Berlaku sama untuk urusan pernikahan atau pacaran.

Memasuki pertengahan tahun 2017, dengan waktu yang terus berjalan, sepertinya saya ingin memperbaiki tanggung jawab saya terhadap semua komitmen yang telah atau akan saya buat.

Dimulai dari urusan terkecil, hingga urusan besar yang menyangkut hidup saya dan orang lain.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat untuk lebih berani dan terus bertahan.

Mulai dengan baik, akhiri dengan baik. 

Gallery

Last 2 Days : Movie and Compliment

Apologize for being so left out for taking almost 2 weeks to finish 2 posts and almost 3 months to finish challenges that are supposed to finish in 15 days. I need to learn more about starting a commitment next time. 🙂 

Topics:

  1. One movie to watch for the rest of your life
  2. Best compliment you’ve ever received

Movie

Her - Joaquin Phoenix.jpg

“In Spike Jonze’s postmodern pastoral about a man who dates his operating system, digital affairs are as sensual – and heartbreaking – as the real thing.”

Review Peter Bradshaw mengenai film “Her”, dikutip dari The Guardian. 

*

Ini salah satu film paling mengena di hati hingga saat ini. Film keluaran 2013 ini bercerita tentang Theodore (Joaquin Phoenix)  dan Samantha (Scarlett Johansson) – ‘operator’ dari operating system Siri (atau Cortana) yang ada di gadget-gadget masa kini.

Karena sering berbicara dengan Samantha dari telepon (fitur), Theodore pun jatuh cinta pada Samantha. Bagi Theodore, Samantha adalah sosok lawan jenis yang ia cari selama ini karena mampu memenuhi kebutuhan jiwanya dalam porsi yang pas. Jam demi jam, hari demi hari, dilalui dengan berbicara pada Samantha. Kalau dinalar, kisah ini cukup tidak masuk akal; laki-laki memiliki perasaan pada perempuan yang suara dan responnya muncul dari sedemikian banyak coding agar sistem bisa merespon layaknya manusia.

Bagi saya, makin ke sini, film ini semakin representatif dengan kehidupan manusia khususnya warga ibukota yang menjadikan teknologi sebagai kebutuhan primer. Mereka yang muda dengan mudahnya terhanyut dengan apa yang ditampilkan di layar perangkat HP, tablet, laptop. Mereka yang beranjak dewasa, karena alasan waktu kerja yang sibuk / belum ketemu jodoh / tidak sempat bergaul, mencoba membuka kesempatan bertemu dengan orang lain atau seseorang di dunia maya. Dari apa yang ditampilkan di layar, beranjak naik ke speaker, ditutup dengan perjumpaan langsung.

Kisah Theodore dan Samantha bahkan tidak berakhir dengan perjumpaan. Hanya sampai di tahap layar dan speaker. Kisah mereka berdua berakhir karena tiba-tiba sistem operasi Samantha terganggu, lalu hilang. Singkat cerita, program satu-satunya untuk menghubungkan Theodore dan Samantha tidak berfungsi seperti sebelumnya. Samantha pergi, untuk selamanya. Momen saat Theodore berlari di bawah stasiun karena kehilangan sinyal suara Samantha, masih jadi adegan yang sampai sekarang ada di ingatan saya. Momen ‘heartbreaking’ yang disebutkan Peter di atas, ada di sini. Sama seperti kisah orang kebanyakan saat ini yang dijalin lewat teknologi, ada yang berakhir indah, tapi tidak sedikit yang berakhir patah.

Mungkin karena belakangan terlibat interaksi serupa, film ini jadi pilihan saya untuk topik ini. Bahwasanya, diri harus lebih bijak dalam menyikapi apa yang hanya muncul dalam bentuk susunan huruf dan suara, agar jangan sampai berakhir seperti kisah Theodore di stasiun. Indah dan ironis.

Iya, Pin, curhatin aja di sini, biar lega. 😀

Compliment

Pujian terbaik, “Kalau anak saya pergi sama Vinny, saya tenang deh…”

Begitu pujian dari orang tua beberapa teman ke saya. Pernyataan yang membuat saya merasa sedemikian dipercaya oleh kaum orang tua.

Meskipun kadang keserempet juga kok, Tan. Hehe.

Gallery

Day 13 : Favorite

Topic: favorit song, quote, food, vacation spot, photo

Suka topiknya! Ringan, dan bermakna.

Song

Lagu favorit saat ini Eva Celia. Gegaranya nonton penampilan dia di Java Jazz kemarin. Keren pisan. Selow, tapi keren. Nyanyinya effortless, tapi enak. Berhubung temen yang pas nonton bareng juga seneng, jadi ketularan dikit. Balik-balik dari konser, jadi sering muter lagunya. Terutama kalo mau tidur. Lumayan banget buat pengantar tidur.

Eva Celia
Ampun banget cakepnya – Kompas

Quote

Aslinya nggak ada yang diinget banget. Tapi mostly yang mengena dan bakal dicatet itu nggak jauh-jauh dari quote tentang: impian, kerja keras, nulis, hidup, pasangan. Seteleh ngubek-ngubek notes, tinggal ini quote yang tersisa. Kalo nggak salah dari buku Haruki juga.

Looking at the ocean makes me miss people and hanging out with people makes me miss ocean. 

Entah kenapa juga waktu itu dicatet. Mungkin rasanya mewakili kehidupan saya aja waktu lagi baca. Meniadakan yang ada. Merindukan yang tak ada. Maknanya apa? Hargailah apa yang di depan mata.

Food

Yang langsung kepikiran ya si chawan mushi-nya Sushi Nobu deket kantor. Gawat banget kalau udah makan nggak cukup satu. Dibanding chawan mushi di tempat lain, yang disajikan di sini jauh lebih berasa baik telur maupun dagingnya. Nah kan jadi pengen…

Pinterest

Vacation Spot

Kalau udah liburan kok rasanya asik dan favorit semua. Tapi ya kalaulah harus memilih, salah satu spot liburan paling kece yang pernah disamperin sih Siam Reap, Kamboja. Berasa kayak balik ke beberapa dekade lalu, tapi di masa sekarang. Kotanya, orangnya, bangunannya, birnya, tempat nongkrongnya, semuanya memorable.

Nge-Hype di Kamboja

Photo

Definitely still this one.  Ketidaksengajaan yang berujung indah. Makasih burung!

Melbourne.jpg

Gallery

Day 12 : 6 Bulan

Topic: Most looking forward to thing in next 6 months

Enam bulan lagi berarti sekitar bulan…Oktober. Ulang tahun? Nggak ditunggu juga sih, soalnya umurnya nambah haha.

Tadi pas miting di kantor, baru ngeh kalau ternyata bulan ini, bulan depan, dan bulan depannya lagi, banyak jatah liburan. Dari yang kejepit dan enggak. Moga-moga ada kesempatan jalan jauhan dikit dalam 6 bulan ini.

Itu aja kayaknya deh.

To have one thoughtful trip within this 6 months! Ke mana? We’ll see!

*Ngomong-ngomong, topik ini jadi bikin mikir. Harusnya at least punya rencana dalam 6 bulan ke depan. Pengen ngapain atau pengen kemana gitu misalnya… Kemana aja pini!

Gallery

Day 11 : Change

Topic : One thing you’d never change about yourself

Salah satu teman lama pernah bilang gini.

Vinny itu ramah dan suka senyum”.

Iya. Begitu kata teman beberapa tahun lalu, waktu jaman kuliah. Teman sekelas, penjaga kantin, penjual pisang molen, selalu saya senyumin. Senyum ukuran standard ya. Bukan yang dari ear to ear.

Cuman, masalahnya, kayaknya belakangan senyum dan ramah mulai agak terkikis dan tersisih. “Belakangan” terjadi ketika mulai memasuki dunia kerja (hii), terbelit urusan asmara, cita-cita, dan lain=lain. Sampai-sampai, saya inget pernah diomongin gini juga sama temen saya.

“Saya pikir kamu orangnya jutek”.

Woho!

Tentu saja kalau dipikir lagi sekarang, pernyataan ini menunjukkan sesuatu, yaitu senyum jadi sesuatu yang tak lagi bisa dilakukan dengan mudah seperti jaman kuliah dulu. Di luar dari urusan hidup memang jadi semakin menantang seiring bertambahnya usia, saya rasa pernyataan terakhir dari teman jadi sebuah alarm yang perlu direnungkan.

Sebagai kesimpulan, kalaulah ada “one thing I won’t change about myself”, adalah ramah dan senyum.

Kalian pernah baca kan pasti apa manfaat tersenyum? Mulai dari menyehatkan hati, pikiran, diri sendiri, dan orang lain. Sampai-sampai, orang pintar pun menyarankan bahwa “Why Faking a Smile is a Good Thing“.

Jadi, semoga, apa yang sempat ada di tubuh ini bisa dipupuk kembali. Paling endak, saya ndak pengen mereka berubah. Ramah dan senyum.

Happy Monday! 

🙂