Aksi (Semoga) Damai 212

damai /da·mai / 1 n tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman: dalam masa — perindustrian maju pesat; 2 a tenteram; tenang: betapa — hati kami; 3 n keadaan tidak bermusuhan; rukun: penduduk kampung itu selalu hidup dengan –; semuanya dapat diselesaikan secara –;

Aksi Super Damai 212

Seperti yang sudah diketahui semua orang, tak terkecuali Jakarta, hari ini ada kegiatan yang menyedot perhatian. Yang dibold di atas, judul kegiatannya.

Tenang memang mendengar judul agenda yang dikemas sedemikian rupa. Menilik definisi KBBI di atas, damai bisa berarti : tidak ada perang, aman, tenteram, tenang.

Kalau penjelasan kamus itu terlalu abstrak, bayangkan saja :
menghabiskan weekend di pantai di Bali, mendengarkan lagu sambil membaca buku kesayangan,
berdoa di tempat ibadah masing-masing, yoga, bersemedi, meditasi, tatap-tatapan mata sama gebetan.

Kira-kira seperti itulah damai.

Kembali ke kegiatan 2 Desember hari ini. Logika saya masih belum menemukan esensi penggunaan kata ‘damai’ dalam pokok acara. Lupakan bumbu-bumbu sampingan dari kegiatan ini. Fokus saya hanya pada efek yang ditimbulkan dari kegiatan ini.

Di sosial media, gambar-gambar lokasi kegiatan yang ramai dengan massa sudah berseliweran. Salah satu teman mempos gambar di Path tentang beberapa massa yang menggantungkan kardus di depan badannya, berisi kue-kuean seperti lontong, oncom, dan kue basah lain berbungkus daun. “Yang lapar boleh mampir ke Sabang,” begitu statusnya. Gambar yang bikin tegang juga ada. Misalnya gambar yang diambil dari ketinggian seratusan meter di atas lokasi massa. Orang terlihat seperti semut. Bundaran HI terlihat seperti bintik yang sedikit lebih besar di antara semut-semut itu.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, saya mendengarkan radio berita. Isinya, update sekali. Twitter, telepon, SMS, dari pengguna jalan di Jakarta melaporkan setiap menit perkembangan di jalan. Massa mulai memenuhi area Monas; ratusan buruh mengarah ke Balai Kota untuk mengajukan tuntutan kenaikan UMR dan penghapusan sistem outsourcing; jalanan tersendat; 1 jam hanya bergerak 150 meter; tank-tank tentara berjaga di pinggir jalan. 

Di radio yang sama, penyiar mewawancarai salah satu menteri, terkait kegiatan ini. Kira-kira begini salah satu pernyataan menteri; Kegiatan ini sudah bagus. Sesuai namanya, kita berharap ini berlangsung damai. Tapi namanya massa berkumpul demikian banyak, bisa saja ada yang memanfaatkan situasi. Maka dari itu, kita harus tetap berjaga-jaga. 

 

Jeng jeng!

Dari kemarin, perasaan saya cukup damai menanggapi agenda hari ini. Saya yakin semua berjalan aman, tenteram, kendati agenda sebelumnya berlangsung sedikit ricuh.

Tapi, sebagai manusia, kini saya mengerti mengapa ibu, abang, teman-teman saya di luar kota, menasehati saya untuk menjauh sejauh mungkin dari area demonstrasi. Pernyataan Pak Menteri yang seharusnya membawa damai itu menggelitik perut saya sedikit untuk merasa was-was.

Nah. Kembali lagi ke topik pokok tulisan ini, terkait judul kegiatan.

Saya jadi penasaran, seberapa banyak orang yang merasa damai dengan kegiatan hari ini. Mungkin saja kegiatan damai menjadi damai karena agenda utama dari aksi ini adalah beribadah. Ibadah mendatangkan kedamaian. Sampai di sini, ya bolehlah nama acaranya bawa-bawa kata damai.  “Aksi super damai” (kenapa juga harus pakai kata ‘super’?)

Namun, tadi penyiar dan Pak Menteri sempat menyinggung sedikit tentang tuntutan-tuntutan yang menjadi asal muasal terjadinya hari ini. Semakin riweh.

Ada tuntutan (ada kata ‘penjara’ di sini), ada ibadah, ada aksi super damai. Masih yakin ni ‘damai’nya sama dengan definisi KBBI?

***

Kemarin saya berdiskusi panjang dengan bos. Katanya : kalau mau ngapa-ngapain, tentukan dulu tujuannya. Saya jadi bingung dengan maunya kalian karena tujuan kalian terlalu banyak. 

Mungkin, pesan itu bisa buat yang bikin judul acara. Tujuannya apa? Agar bisa direfleksikan dalam judul kegiatan? Damai? Tuntut? Massa?

Ah, tapi sudahlah.
Penggagas acara terlalu banyak. Tujuan dari tiap penggagas juga bercabang kemana-mana. Kecuali ya, dari tujuan bercabang itu, muaranya cuma satu tujuan.

Ayo kita sarapan roti saja. Semoga menjadi Jumat damai bagi kita semua.

img_6235

Advertisements

5 thoughts on “Aksi (Semoga) Damai 212

    1. Betul, Mba. Ada rusuh sih sedikit, dengan media. Untungnya tidak meluas. Aku baru tau juga Roti Lauw itu ternyata roti lama. Favorit aku tiap pagi. Penjualnya selalu bapak-bapak ramah. :).

  1. Selamat broh, jadi saksi sejarah gagalnya literasi, pendidikan agama dan toleransi di Indonesia.

    << Dari kmaren nahan-nahan untuk ga nyinyir akhirnya keluarnya disini 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s