Rasanya Kerja di Startup

silicon-valley-dick-joke-oral-history3.jpg
Series yang cukup ‘nge-startup’, Silicon Valley
Kata berita, Indonesia menjadi salah satu lahan basah di Asia bagi pertumbuhan startup. Bulan Juni lalu, pemerintah bahkan telah bekerjasama dengan salah satu lembaga untuk menargetkan tumbuhnya 1.000 startup yang ada di Indonesia hingga akhir tahun 2020

Butuh waktu 2-3 bulan (bahkan hingga sekarang) bagi saya untuk mengerti dan memberikan pengertian kepada orang lain mengenai jenis perusahaan tempat saya bekerja saat ini.

Secara harafiah, startup bisa diterjemahkan sebagai ‘perusahan rintisan’. Sesuai penggunaan katanya, ‘perusahaan rintisan’ itu ya, perusahaan yang baru lahir, baru dirintis, sedang dirintis.

Katanya lagi, startup sedang menjadi tren. Semua anak muda, khususnya di ibukota (saya belum menemukan hal ini di daerah, terlebih untuk tren startup berbasis teknologi), beramai-ramai bersentuhan dengan startup, mulai dari : mendirikan startup sendiri, atau bekerja di startup.

Banyak tulisan yang membahas poin kedua, yaitu tentang bekerja di startup, atau lebih cakepnya, budaya kerja di startup / startup culture, yang mana umumnya terdiri dari :

  • Waktu kerja yang panjang, Senin – Sabtu / Minggu, pukul 9 pagi – 7 malam / 9 malam
  • Waktu libur yang sedikit karena poin di atas
  • Tanggung jawab yang besar
  • Suasana kerja yang dinamis (dan fun)
  • Jalur komunikasi yang lebih luwes antara bawahan dan atasan
  • Belajar banyak disiplin ilmu
  • Dan lain-lain

Ketujuh poin di atas benar adanya. Tapi, saya ingin berbagi cerita tentang menjadi bagian dari startup dengan analogi yang lebih sederhana.

**

silicon-valley-dick-joke-oral-history.jpg
Masih dari Sillicon Valley.
Bayangkan kamu baru lulus kuliah, dan diajak untuk bergabung dan mengolah Warung Bakwan yang baru dibuka dua minggu lamanya. Bakwan yang cukup dibuat dengan modal sedikit, cara mengolah yang gampang, dan diprediksi akan laku di pasaran dengan mudah karena bisa menjadi cemilan sore oleh hampir siapa saja, menjadi alasan kenapa (sebut saja) Doni membuka warung. Kamu, yang kebetulan baru lulus kuliah pun diajak untuk bergabung. Bagi Doni yang notabene punya dana berlebih, warung ini jadi sumber pendapatan sampingan namun juga diharapkan bisa mendatangkan banyak keuntungan. Karena itu, ia berani menjanjikan kamu uang jajan bulanan yang juga lumayan.

Meskipun kelihatannya mudah, Warung Bakwan Doni ternyata menyimpan banyak pekerjaan rumah. Mampir ke pasar membeli tauge, sayur, kol, tepung, telur, dan lain-lain, menjadi tugasmu dua hari sekali. Kompor, elpiji, minyak goreng, talenan, wajan, kertas bungkusan, piring, cabe, dan lain-lain, juga menjadi items yang harus kamu pastikan keberadaannya setiap hari. Untungnya, kamu dibantu Embak untuk urusan cuci mencuci dan kebersihan.

Sedikit tapi pasti, jumlah pelanggan Warung Bakwan Doni meningkat. Bakwanmu pun mulai dikenal di warga sekitar, kelurahan sebelah, kecamatan sebelah, sebagai produsen bakwan yang enak, gurih, dengan harga sebanding rasa.

Apakah Doni berinisiatif menambah pegawai? Belum. Terlalu dini, katanya. Warung baru berjalan 2 bulan. Kamu dan si Embak dianggap masih bisa mengerjakan semuanya. Toh, sesekali Doni juga turun tangan kalau pekerjaan kantornya bisa ditinggal. Tunggu 2 bulan lagi deh, alias tunggu sampai bulan kelima warung, baru nambah pegawai lagi. Sekalian pindah ke warung yang lebih besar. Begitu alasannya.

Dua bulan dengan bantuan Embak menjadi bulan penuh kisah untuk kamu. Beruntung kamu suka belanja dan ke pasar. Jadi, menyiapkan stok bahan bakwan bukan masalah besar. Beruntung juga kamu suka masak, jadi urusan goreng dan menyajikan masih jadi hal menyenangkan.

Karena suka, di bulan ketiga, kamu mulai memutar otak. Gimana kalau kita membuat variasi bakwan yang baru? Bakwan rasa kaldu? Bakwan isi ayam? Atau bakwan pedas? Berhubung Doni sudah mempercayakan warungnya ke kamu, kamu pun mulai bereksperimen. Kamu cari formula ramuan untuk idemu itu, kamu goreng si bakwan rasa baru, kamu tawarkan ke pengunjung. Hasilnya, bakwan rasa kaldu cukup disukai. Tapi tidak dengan bakwan pedas atau bakwan isi ayam.

Di bulan keempat, kamu bereksperimen dengan minuman. Tahu bahwa margin minuman bisa mencapai 300% sampai 500%, kamu mencari resep minuman enak namun murah di resep Buzzfeed Food, Youtube atau menu-menu bagi Bunda yang sering nongol di konten iklan Facebook. Hampir sama dengan bakwan variasi, beberapa minuman berhasil, beberapa minuman tidak ditanggapi sama sekali oleh pengunjung.

Berkat ketekunanmu untuk mengembangkan warung, target Doni tercapai di bulan kelima. Pengunjung bertambah, modal kembali. Sekarang, tinggal pindah ke warung yang lebih besar. Yes!

Eh tapi tunggu. Doni tiba-tiba punya rencana lain. Ia ingin mempertahankan warung sekarang. Kali ini, ia ingin mengganti konsep warung menjadi cafe. Cafe Bakwan. Belum ada ‘kan? Lalu, gimana kabar warung besar yang direncanakan? Atau jumlah pegawai untuk kamu dan Embak? Masih sedang dibicarakan. Tenang saja, Doni akan punya rencana lain yang lebih cemerlang untuk warungnya. Eh, cafenya!

**

Begitu kira-kira gambaran bergabung di perusahaan startup. Bagi saya, peluang untuk menyampaikan dan mengeksekusi ide merupakan momentum paling fun and challenging dari bidang pekerjaan ini. Kendati bukan milikmu, keterlibatan yang begitu jauh dengan perusahaan membuat kamu tanpa sadar punya sense of ownership yang lebih tinggi dibanding temanmu yang bekerja di perusahaan lain. Alasannya sederhana : Kamu terlibat dalam hampir setiap keputusan, perubahan, kemunduran, atau perbaikan yang terjadi di perusahaan. Karena itu, disebut sense of ownership. Betul, hanya sense, alias rasa. Bukan ownership yang sebenarnya.

Selain itu, yang jelas, layaknya pemilik startup yang harus merintis perusahaannya, kamu juga punya kesempatan besar untuk bisa merintis karirmu dengan serius. Peluang yang diberikan oleh pimpinan membuatmu bisa menemukan kelemahan dan kelebihan dari tanggung jawab yang kamu pegang. Hasilnya, kamu akan menemukan formula yang bermanfaat untuk bahan evaluasi dan mengasah profesionalisme dalam bidang pekerjaanmu, apapun itu.

Yang agak tersita dari bekerja di startup mungkin memang soal waktu. Untuk urusan ini, tulisan Medium di sini cukup menggambarkan besarnya waktu yang kamu habiskan untuk bekerja, dan betapa kadang kamu merasa sangat sendiri, atau menikmati momen menyediri. Oh yah, tulisan ini juga layak dibaca untuk referensi.

Kira-kira begitu. Semoga memberikan sedikit gambaran tentang perusahaan rintisan, bukan malah tambah bingung. :)

2 Comments Add yours

  1. Arman says:

    kerja di start up enaknya semuanya dijalanin, banyak belajar, kalo sampe sukses bisa ikutan sukses. tapi masalahnya startup berarti gak stabil ya. bisa juga akhirnya gak make it…

  2. Mas Oke says:

    wualah jam kerjanya ternyata panjang juga yaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s