Beres-Beres

Kapan terakhir? Beresin kamar, beresin buku, beresin lemari maju, beresin meja kerja, beresin jadwal harian, atau beresin… hidup?

Kita ngomogin hari kerja dulu. Senin sampai Jumat.

Mengikuti ritme hari kerja belakangan ini cukup bikin waktu tidur, makan, main, istirahat, jadi sedikit kalang kabut. Keinginan untuk nongkrong sampai larut malam nggak terlalu besar, atau hampir tidak ada, di hari Senin-Jumat. Selepas kerja, maunya pulang aja. Meskipun pulang-pulang tetap tidur larut, nggak papa. Asalkan pulang aja. Duduk, bengong, baca, nonton, makan, apa aja, yang penting, pulang. Alhasil, ajakan teman untuk ke sana, ke sini di hari Senin-Jumat, sering kali ditolak. Beres-beres di hari kerja? Boro-boro. 

Kemudian, Sabtu dan Minggu.

Seperti kamu juga mungkin, kedua hari ini jadi hari pembalasan untuk jadwal di lima hari sebelumnya. Kalau saya sih, bahkan di Jumat malam pun, otak sudah berencana untuk mengomandokan badan agar bangun sesiang mungkin di hari Sabtu, dan tidur selarut mungkin di hari yang sama. Di hari Jumat juga, rencana untuk bangun sesiang mungkin di hari Minggu sudah muncul. Setelah bangun siang, kegiatan hiburan akan dilanjutkan dengan beres-beres kamar, lemari, rumah, dapur, dan hal-hal kotor lainnya.

Setelah ditelaah kembali, berbulan-bulan menjalani ritme hidup semacam ini ternyata belum cukup membuat saya mendapatkan weekend berkualitas. Hal ini baru saya sadari kemarin saat mengikuti kegiatan di Puncak, Bogor.

Secara garis besar, ini adalah kegiatan keagamaan yang diadakan di akhir pekan minggu pertama setiap bulan. Namun, terlepas dari bentuk  pengamalan sila pertama Pancasila dari seorang warga negara, menghabiskan dua hari di kegiatan ini ternyata pengisi baterai mental dan pikiran saya dengan kekuatan watt paling besar. Saya pun harus mengakui, ketika hati memilih hadir di puncak, kebutuhan saya akan energi baru memang sudah tidak terelakkan.

Hasilnya, tegangan besar terjadi kemarin. Saya merasa penuh. Banyak pertanyaan terjawab. Bahkan, kebingungan yang sempat ingin muncul pun rasanya akan enggan bercokol di kepala saya untuk hari-hari ke depan. Ternyata, kesempatan menebus jam tidur bukan yang saya betul-betul perlukan. Menemukan “bagaimana saya perlu mengisi Sabtu dan Minggu” itulah yang memberikan saya kelegaan.

Pasti kamu pernah menemukan momen ‘kelegaan’ ini. Me time, duduk berjam-jam di warung kopi sambil berbincang dengan kawan, olahraga, dan sebagainya, adalah beberapa preferensi orang. Saya pun juga akan menjadikan mereka preferensi.

Tapi, per hari ini, saya seperti menemukan hal lebih yang saya butuhkan. Meluangkan waktu luang saya untuk hal esensial, yakni mengisi hati dan pikiran (entah dengan kegiatan spiritual, keagamaan, olahraga, diskusi, dll) ternyata adalah hal yang tak boleh luput untuk dilakukan. Kalaulah kedua kegiatan ini tak bisa dilakukan di hari biasa karena kelelahan fisik dan email bos yang nggak habis-habisnya, sisihkan hari tanpa jam kerja kamu untuk kegiatan itu.

Per hari ini juga, saya menemukan ‘kunci’ untuk membereskan sedikit perintilan hidup saya yang saya siap jadikan tekad untuk setengah tahun yang tersisa di tahun ini. Akhir pekan berikutnya akan saya isi dengan (mudah-mudahan) lebih bijak. Bangun siang masih boleh. Begadang masih boleh. Tentu saya juga masih akan menerima dengan senang hati ajakan ngopi, nonton, nongkrong, di akhir pekan.

Tapi, menyisihkan waktu untuk berbicara dengan hati, berdamai dengan pikiran, dan merefleksikan hidup saya dengan alam dengan secuil ketenangan, juga tak kalah penting.

Hati saya tahu kapan ia butuh yang mana. Saya akan belajar mengikutinya. Dan mungkin, sedikit lebih jujur saja.

7 Comments Add yours

  1. Arman says:

    iya weekend harus dipergunakan baik2 soalnya cuma 2 hari vs. 5 hari kerja. haha

    1. vinnydubidu says:

      Bener kak. Cepet banget kalo udah weekend. Tau2 udah Senin aja. Haha.

  2. nyonyasepatu says:

    Aku padahal gak kerja lg tapi pas wiken tuh kayak bny aja yg mesti dikerjain. Akhirnya malah capek sendiri padahal pengen santai

    1. vinnydubidu says:

      Iya, Mba. Kalau udah gitu, biasanya jadi kesel sendiri pas hari Senin. Nggak terima. :D

  3. Andy William says:

    mak, disaat lo bikin posting kontemplatif kece begini, gua masih repeat play lagu pokemon versi remix dangdut di fesbuk. hahahahahaha

    1. vinnydubidu says:

      Poke gila ah. Pusing liat orang-orang kegilaan mainnya sih. Eh emang remix apaan sih? *googling yiutub*

      1. Andy William says:

        Liat di fesbuk gua mak. Sebel banget lagunya, meski ga sesebel lagu kokakola cocacola sih. Haaahahhaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s