Virtual Insanity

Iya, ini lagunya Jamiroquai yang lahir tahun 1996. Dari judulnya, bisa kita terka bahwa mungkin  lagunya berhubungan dengan ‘keabnormalan’ hidup masa kini karena sesuatu yang berbau virtual, atau, teknologi.

Tahun 1996 di jaman saya, yang jadi hiburan cuma televisi dengan tontonan film India atau film Vampire jam 9 pagi di RCTI. Sinetron juga ada, yang serinya hingga 6 atau 7 biji. Handphone belum secanggih ini, internet apa lagi. Telepon saja jadi barang mewah. Namun, hal ini mungkin tidak terjadi di Inggris, negara asal muasal lagu ini lahir. Maka dari itu, lagu ini bisa lahir dengan lirik yang menyinggung-nyinggung sedikit tentang teknologi.

Oke, saya nggak membahas panjang tentang lirik lagu ini sih. Saya cuma iseng aja mengupas kegilaan saya belakangan dengan hal-hal virtual belakangan ini (baca : social media). Apalagi, setelah membaca tulisan Glenn Mars di Linimasa, Kasmaran 2.0.

Tolak ukur saya tentang ketergantungan berlebihan dengan teknologi / social media adalah seberapa sering saya mengecek HP. Mengecek untuk membaca atau membalas pesan, masih saya anggap normal. Yang nggak normal adalah, bangun pagi ngecek semua social media (you name it), sebelum mandi ngecek, sesudah mandi ngecek, sejam sekali ngecek, sebelum pulang kantor ngecek, sebelum tidur, ngecek. Aktifitas yang baru akan selesai jika HP sudah berada dalam mode tidur.

Sebelumnya, saya sudah merasa kebiasaan ini salah. Kamu mungkin tahu salahnya di mana. Setelah tulisan Linimasa muncul, saya lega. Ada orang yang bisa menggambarkan kesalahan kebiasaan ini dengan sangat jelas di dunia maya.

Media sosial membuat kita jago menyimpulkan. 

Semua aktivitas siapapun yang beseliweran di media sosial kita menjadi referensi instan untuk menyimpulkan keseharian orang lain. Senang, sedih, sibuk, santai, jatuh cinta, putus cinta, tambah gendut, tambah kurus, tambah cakep, apa saja bisa didapatkan dari sana. Perihal benar atau tidak, jadi urusan kesekian. Yang penting, apa yang dimunculkan si empunya akun, akan jadi dasar kita mengambil kesimpulan tentang apa yang sedang dialami.

Tumpukan berbagai kesimpulan ini yang seringkali membuat kita jadi tidak normal. Kesal karena merasa disindir, hati-hati memasang status karena khawatir dianggap menyindir, pemanfaatan hashtag #modus, dan berbagai aksi yang jika dipikir secara waras, memang sedikit kurang waras.

Mengungkapkan isi hati & pikiran pun tak lagi mudah.

Virtual Insanity terjadi. Kegundahan karena hal yang sifatnya virtual (adj. : not physically existing as such but made by software to appear to do so). Kewarasan teruji karena informasi yang tidak hadir secara nyata. Jika kamu merasa mulai terhanyut ke arah sana, dan merasa harus berubah, mari coba arahkan diri ke hal yang lebih nyata.

Konon, kontradiksi dari Virtual Insanity adalah Visual Reality.

Dari media sosial (lagi), teman menyebut tentang digital detox. Kayaknya sih berhubungan dengan nggak pegang-pegang HP dan gadget lainnya. Saya mau coba cara ini. Minimal sehari dalam seminggu. Kalaupun nggak tahan, dimulai dari setengah hari dalam seminggu, di akhir pekan. Bisa kok.

***

Yang nyata dan di depan mata memang tak selalu indah. Tapi percayalah, yang kurang indah itu sedikit lebih mending daripada yang terhanyut dengan yang indah namun virtual, atau, insane.

Of this virtual insanity, we’re livin in.
Has got to change,
Things, will never be the same.
And I can’t go on
While we’re livin’ in virtual insanity
Oh, this world, has got to change
Cos I just, I just can’t keep going on, it was virtual.
Virtual insanity that we’re livin’ in, that we’re livin’ in
That virtual insanity is what it is.

***

Tulisan ini dipersembahkan untuk menyambut hari Senin esok, sekaligus ucapan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman Muslim sekalian.

Satu tembang dari Jamiroquai, Virtual Insanity.

Selamat malam.

2 Comments Add yours

  1. nyonyasepatu says:

    Aku gak bs hidup tanpa hp kecuali lg traveling hehe atau lg pergi2 bisa sih seharian gak cek. Kalau udah duduk atau santai gak mungkin bgt

    1. vinnydubidu says:

      Kalau duduk santai apalagi lagi nunggu malah jadi senewen ya kalo nggak bisa ngutak-ngatik HP. =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s