Terbang Pagi

Menyambung hawa-hawa liburan, saya ikut tergoda menulis tentang liburan. Terkait liburan, saya punya pilihan terbang yang kadang bikin temen dan keluarga saya geleng kepala. Misalnya :

Flight (paling) pagi
Saya suka banget terbang pagi. Sepagi mungkin. Untuk domestik, paling pagi itu sekitar jam  5 atau 6. Saya pernah cari yang lebih pagi lagi, tapi nggak ada. Airportnya belum buka. Hehe.

Kenapa suka jalan pagi? Mungkin karena jalanan sepi dan muka masih segar. Saya juga suka rutinitas. Jadi berangkat pagi bikin saya ngerasa nggak meninggalkan rutinitas harian saya, yang kalau sebelumnya kerja, kali ini liburan, dengan jadwal yang hampir sama.

Alasan lain yang nggak penting, saya suka lihat lampu-lampu jalanan yang masih nyala di pagi hari, tanpa bising klakson, knalpot, sirene pasukan pengawal menteri, dan sebagainya. Bisa juga sih liat lampu malem-malem. Tapi kalau jalannya jam 3 atau 4 pagi, jalanannya lebih sepi daripada jam 11 atau 12 malam (which is seringkali masih macet pun, apalagi di Jakarta). Cantik dan romantis, loh.

Pertimbangan lainnya, rasanya nggak rugi aja kalau berangkat pagi. Pertama, nggak perlu ijin / bolos kerja sehari sebelumnya. Kedua, nyampe lokasi tujuan masih pagi, jadi masih punya setengah hari berikutnya untuk ngapa-ngapain.

Nggak bisa bangun kalau kepagian….”

Nah kalimat di atas membawa saya pada kebiasaan berikutnya:

Nggak tidur nungguin terbang 
Kayaknya ada beberapa orang yang punya kebiasaan ini : nggak bisa tidur sehari sebelum keberangkatan. Kalau saya sih, seringkali karena kudu packing, atau over excited dengan trip yang akan ditempuh. Lagipula, daripada telat bangun, mendingan nggak usah tidur sekalian.

Hasilnya, 9 dari 10 perjalanan di pesawat (ataupun transportasi jauh lainnya), saya selalu tidur. Sebelum terbang pun, udah tidur. Pas pramugari lagi ngajarin cara pakai vest, saya pun biasa ketiduran di tengah-tengah mereka bercerita.

Enak loh tidur dengan pola begini. Meskipun hanya 1 sampai 2 jam tidur, rasanya itu tidur yang cukup berkualitas. Jadi begitu nyampe di tempat tujuan, udah kembali bugar.

Nunggu
Saya nggak keberatan nunggu berjam-jam untuk transit. Tentu saja, ini untuk cerita perjalanan yang nggak perlu buru-buru. Saya inget pernah transit hampir 8-10 jam di Singapura ke Jakarta, sepulangnya jalan-jalan dari Vietnam. Tidur, jalan, makan, tidur lagi, sampe disuruh masuk pesawat.

Nunggu karena delay juga bukan masalah besar untuk saya. Sejauh ada tempat duduk, saya bisa anteng-anteng aja. Karena itu, selalu sedia : buku, headset, handphone full battery, baca majalah gratisan, dll. Kalau ada laptop, bisa sambil surfing, nonton, atau ngeblog macam sekarang. Kalaupun males menggunakan perangkat-perangkat itu dan kebetulan ada yang menarik di dekat kita (anak kecil lucu, ibu tua ramah, atau Bapak-bapak baik hati), ajak ngobrol aja. Openingnya gampang : Ke mana, Ibu? Oh Ibu dari sana? Obrolan pun berlanjut

Kalau sedang malas berinteraksi, ya udah. Diam-diam aja. Nonton iklan di TV Airport yang dilooping berulang-ulang (sampai hafal).

Selain itu, untuk saya, nunggu juga jadi waktu istirahat terbaik. Bisa duduk, nafas, mikir, ngayal, melonggarkan kaki, punggung, kepala, dengan jatah waktu yang sudah pasti, tanpa takut diburu-buru. Apalagi, untuk urusan ini, kita mendapat kesempatan untuk menunggu sesuatu yang sudah pasti. Menunggu dengan kepastian. (Bukan menunggu tanpa kepastian, kan ya kayak urusan cinta misalnya). Semacam me time di airport.

Karena itulah, saya oke-oke aja jika perlu menunggu.

Seperti kali ini, menunggu untuk transit di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka, selama tiga jam sebelum terbang ke Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Belitong. Sebenarnya di luar urusan tiket yang hanya sedikit lebih murah daripada flight langsung, saya juga ingin melengkapi referensi saya mengenai kota di Indonesia yang sudah saya kunjungi. Biar kata cuma airport, karena nunggu, minimal saya pernah menginjakkan kaki di Pangkal Pinang.

Hipotesis super dangkal dari pengamatan bandara Depati Amir : Pangkal Pinang ini masih kota kecil, penduduknya tidak banyak, infrastruktur rasanya juga masih belum seberapa, dan kota ini bersebelahan dengan gunung (keliatan pas turun airport, cakep). Kalau dibandingkan dengan kota asal saya Pontianak, sepertinya kota ini sedikit jauh lebih kecil baik dari segi ekonomi, atau jumlah penduduk.

Hipotesis cetek loh ya.

Pancingan aja moga-moga ini, ada kesempatan lain untuk ke luar airport. Atau nunggu di airport kota / negara lainnya.

Ibarat peribahasa : Dari airport turun ke kota.

Depati Amir, 4 Mei

2 Comments Add yours

  1. Arman says:

    Hah airport mana yg ada jam tutup atau buka? Hahaha. Airport kan 24 hours buka harusnya. Penerbangan kan bisa nyampe nya midnight atau subuh….

    1. vinnydubidu says:

      Di Pontianak ada, Kak. Nggak ada flight midnight. Paling malam mgkn jam 10an, paling pagi jam 6an. Haha. Nggak tau kalau daerah lain di Jakartaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s