Baper, That Crazy Mood

December 9th 2014

attachment

Denger bunyi hujan, baper. Ngelihat lampu hijau, baper. Minum teh, baper. Segitu bapernya? 

Dua bulan lalu, saya berada di tengah perbincangan dengan kawan. Kami sedang asyik berdiskusi perihal maaf memaafkan. Di tengah perbincangan, terlontarlah kalimat dari salah satu kawan, “ah baper lo, Vin”, ujarnya seraya mengejek, yang kemudian disahut bak echo oleh kawan satunya lagi. 

Saya tak seberapa paham dengan makna dan definisi baper. Perasaan macam apa itu? Referensi saya waktu itu tentang perasaan yang tak enak, hanya berhenti di kosakata ‘galau’. Kata yang bahkan ketika diketik saja bisa menimbulkan sedikit efek kurang menyenangkan. 

Kembali ke baper. Dua kawan yang mengejek saya itu kemudian menjelaskan pengertian baper. “Sensitif, dikit-dikit kepikiran, terbawa perasaan”, begitu kata mereka. Jujur saya masih tak seberapa paham. Dalam konteks apa kata baper perlu digunakan? Kenapa tidak menggunakan kata galau saja? Toh sekilas artinya agak mirip. Menyangkut-nyangkut perasaan. 

Belakangan ini, saya baru bisa menempatkan kata Baper sesuai tempatnya. 

Banyak peristiwa yang terjadi dalam hidup. Perseturuan dengan atasan, ketidakcocokan dengan teman sekamar, perbedaan pendapat dengan keluarga, hingga yang paling pamungkas, tidak sejalan dengan pasangan atau gebetan. Ketika hal ini terjadi, suka atau tidak suka, kejiwaan manusia akan tergelitik. Khususnya, untuk merasa ‘kurang’; kurang bahagia, kurang senang, kurang puas dan berbagai kekurangan lainnya. 

Masalahnya, terkadang perasaan kurang itu dihayati dengan terlalu berlebihan. Tahu kan, segala sesuatu yang ‘terlalu’ itu nggak baik adanya. Pasalnya, pasca perasaaan itu menggebu-gebu, aktivitas kita lambat laun terganggu. Kerja tidak konsen, nyetir kurang fokus, jalan kurang seimbang, dan berbagai pengalaman yang saya yakin pasti pernah / sedang kamu rasakan saat ini. 

Efek terakhir itulah yang seharusnya perlu kita atasi. Apa penting perseturuan dengan atasan membuat kita menelantarkan kewajiban utama kita di kantor? Tak seharusnya juga cek cok dengan teman sekamar lalu bikin kita bete seharian, apalagi setelah kita dihadiahkan berbagai keindahan yang kita jumpai dari sekitar. Misal, tukang bubur ayam depan kantor yang memberikan ayam suwir lebih banyak dari biasanya. Kalau kelakuan gebetan mulai susah dibaca arahnya, apa perlu untuk tetap ditunggu? 

Jangan biarkan perasaan negatif menutup mata kita untuk segala keindahan di sekitar. 

Lantunan Hello dari Adele cukup dinikmati saja. Jangan dihayati berlebihan. Apalagi jadi bahan #modus di Path atau Instagram. 

Emangnya mudah? Tentu tidak. Tapi paling tidak kita berusaha dan mencoba untuk mengingatkan diri sendiri bahwa tidak ada gunanya Baper berlama-lama, apalagi kalau sampai mengganggu produktivitas sehari-hari. Terlebih kalau sampai melunturkan kebahagiaan orang sekitar. 

Kalau perasaannya bisa dibawa ke arah yang menyenangkan, kenapa milih jalan yang bikin pusing? 

Tulisan ini juga lahir karena yang nulis lagi Baper. 

Jadi, kamu nggak sendiri. 

Salam.

3 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Semua hal yang “terlalu” itu memang tidak baik yak Mbak :hehe. Kalau buat saya sih sesekali baper ya tak apa, asal jangan kelamaan :hehe. Toh banyak pengalaman, banyak kejadian, membuat kita jadi lebih kaya dan lebih bijaksana, akhirnya tidak jadi suka baperan lagi deh :hehe.

  2. nyonyasepatu says:

    Cuman kadang2 baper ini emang gak bs dielakkan heehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s