Seandainya KRL Ada di Mana-Mana

Minggu, 6 Des 2015

Setelah nyetir atau ngojek semingguan penuh, bepergian dengan angkutan umum yang nyaman itu bener2 menyegarkan.

Hari Sabtu lalu, setelah menimbang ini itu, akhirnya gue putuskan naik KRL ke Bogor. Kesannya gimana? SENANG, pake huruf kapital.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Jakarta Kota. Nyampe stasiun sekitar jam 7.30. Yang bikin seneng, stasiun lagi nggak padat. Beli tiket cepet, jam kereta pun cepet. 7.40 kereta udah berangkat.

Saking paginya, masih sempet ketemu mas2 ngepel kereta. Muka penumpang juga lagi ngantuk2nya kena semriwing AC kereta yang sejuk.

KRL

1,5 jam kemudian, tibalah gue di Stasiun Bogor. Tujuan akhirnya sih ke Megamendung, Cisarua. Namun, berhubung nggak tahu jalan (sengaja juga nggak mau nyari rute yang pasti-pasti amat biar bisa sekalian nanya-nanya), alhasil perjalanan dari Stasiun Bogor ke tempat tujuan menghabiskan waktu hampir 1,5 jam juga.

Rel

Setibanya di Stasiun Bogor, langsung nanya penjaga stasiun yang super ramah, baik hati, dan sangat membantu. Denger gue mau ke Megamendung, si Bapak baik langsung berkoordinasi dengan petugas lainnya lewat  HT, yang bernama Bapak Agung, untuk nganterin gue nyari ojek. Walaupun akhirnya nggak naik ojek juga, tapi terima kasih banget Bapak atas bantuannya.

Tips #1 Jalan-jalan : Kalau jalan sendiri di tempat umum, mepetlah ke petugas berseragam resmi untuk menghindari disamperin orang-orang iseng. Kalau mau nanya-nanya, ke mereka juga aja. Paling tidak, lebih aman dan terjamin.

Stasiun

Itu yang berseragam lengkap, si Bapak baik hati. 

Dari stasiun, gue naik angkot hijau bernomor 03 ke arah Terminal Baranang Siang. Untuk rute ini, tak jauh dari stasiun, kita bakalan ngelewatin Makaroni Panggang Bogor yang konon terkenal itu. Waktu gue lewat, lokasi udah rame. Padahal belum jam 10. Lokasinya, deket tempat bernama Kencana. (akan jadi target kunjungan berikutnya).

Tips #2 Jalan-jalan : Tanyalah sebelum kejauhan. Karena malas nanya dan keasyikan liat jalan, alhasil gue turunnya persis di terminal. Harusnya, nggak usah sampai terminal, melainkan di pinggir jalan aja karena harus nyambung angkot lainnya. 

Akibat lalai bertanya, gue pun harus jalan kaki lagi kembali ke jalan besar yang sebelumnya udah dilewatin. Pas di tepi jalan, sempet ditawarin ojek untuk ke Cisarua seharga 100 ribu. Berhubung malas nawar, jadi gue naik angkot lagi. Kali ini, angkot biru ke arah Cianjur (kalo nggak salah). Bilang aja mau ke Megamendung, nanti diturunin lagi di pinggir jalan deket lampu merah.

Trayek berikutnya, naik angkot ke arah Ciawi, dengan wanti-wanti “macet, Dek ” oleh beberapa orang. Berhubung untuk trayek ketiga ini, gue menyadari sudah hampir jam 12, jadi gue ketemu sama temen gue dan lanjut bareng dia untuk ke tempat tujuan akhir.

Tips #3 Jalan-jalan : Jangan buru-buru. Tanpa dikejar-kejar waktu, kita nggak perlu takut macet, takut nyasar, takut lapar, dll, karena semua bisa dinikmati dengan santai, tanpa diburu-buru.

Dan, tibalah gue di lokasi dengan wajah ceria sekitar pukul 12. Meskipun tadinya gue pikir naik KRL bisa bikin gue nyampe lebih cepet, nyatanya nggak juga. Mungkin lain kali kalau udah mastiin rute angkot, perjalanan bisa sedikit lebih cepat.

Tips #4 Jalan-jalan : Untuk yang sering bawa kendaraan sendiri, cobain deh sesekali naik angkutan umum. Asyik bener, apalagi pas sepi. Weekend pagi-pagi bisa jadi pilihan pas. Perhatikan sekeliling atau bawalah bacaan, jangan keasyikan main HP. Banyak yang bisa bikin senyum-senyum. :)

buku

Kenapa judul post ini seperti yang tertulis di atas? Karena keberadaan KRL ini betul-betul sangat membantu mobilisasi warga Jakarta. Apalagi, rute yang dijangkau terbilang jauh. Kalau rutenya ditambah lagi, pasti perpindahan warga semakin dimudahkan. (MRT nantinya mungkin bisa jadi solusi juga).

Menurut gue yang jarang-jarang banget naik KRL ini, fasilitas stasiun dan kereta juga sudah cukup baik. Tadinya gue pikir tarif Jakarta-Bogor itu puluhan ribu. Ternyata saat kartu dikembalikan di pos terakhir, uang jaminan senilai 10 ribu dibalikin ke kita lagi. Artinya, Jakarta-Bogor cuma 5 ribu. (sementara 3 kali angkot = 12 ribu hehe).

***

Senin, 7 Des 2015

Berhubung ngomongin KRL, sedih juga lihat kecelakaan berturut-turut yang terjadi kemarin. Tabrakan metromini-KRL di Angke, Kopaja nabrak pejalan kaki di Thamrin, bus nabrak warung di Puncak. Emang sih pengendara angkutan umum itu ngaconya sering bikin gemes. Kalau aja mereka ngeblog, gue cuma pengen bilang :

“Pak, kalau bisa nggak usah ngebut-ngebut banget kalau di jalanan.  Supaya, baik Bapak, bapak kernet, dan bapak ibu penumpang bisa selamat sampai tempat tujuan.”

Turut berduka cita untuk keluarga korban. Pengguna jalan, mari lebih bijak menaati peraturan lalu lintas demi kebaikan bersama. Apa yang terjadi di jalan itu bukan tanggung jawab salah satu pihak aja, ini tanggung jawab bersama.

Selamat Senin!

3 Comments Add yours

  1. Gara says:

    KRL zaman sekarang memang jauh, jauh lebih baik dibandingkan kereta rel listrik yang ada di zaman-zaman dulu :haha. Meski teteup sih, masih banyak yang bisa ditingkatkan dari pelayanan KRL, misal kalau rush hour ramainya sekate-kate, dan kalau lagi sial kadang jadi korban kejahatan, tas disilet, copet, dan segala macam. Mari terus dukung kinerja PT KJC supaya pelayanan dan armada KRL bisa lebih baik lagi, terus setara dengan kereta-kereta komuter di luar negeri!

    1. vinnydubidu says:

      Iya, kalau nunggu setara luar negeri kelamaan, paling enggak KRL udah bisa nyaman dan aman sudah cukup. =D

      1. Gara says:

        Iya Mbak, setuju :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s