[TERIOS] JELAJAH JALANAN KALIMANTAN? YUK!

Perjalanan ke tempat baru selalu meninggalkan kesan mendalam. Mau perjalanannya jelek, cuacanya panas, begitu tiba di tempat yang bersangkutan, pasti langsung senang. Apalagi kalau udah ketemu penduduk setempat, ngelihat kiri-kanan jalan, dan ketemu makanan enak, langsung seger lagi deh. Kalian begitu nggak? Saya sih iya banget. Hehe.

Dari semua jenis rute perjalanan yang bisa dilewati, mulai dari darat, laut, udara, rute yang paling saya suka adalah… DARAT! Yes! Kalau memungkinkan, jika untuk tujuan liburan dengan waktu yang tidak mepet, saya akan memilih perjalanan darat. Sebab, banyak banget yang bisa dilihat kalau kita menempuh perjalanan darat. Istilahnya, belum sampe tempat tujuan pun, liburan sudah dimulai karena sudah bisa lihat banyak pemandangan bagus.

Perjalanan darat terakhir yang saya lakukan adalah rute Banjarmasin – Palangkaraya. Waktu itu, saya dan keluarga mengendarai mobil menuju Palangkaraya. Kedua kota yang berlainan pulau ini (Banjarmasin, Kalimantan Selatan – Palangkaraya, Kalimantan Tengah) sudah terhubung dengan jalan Trans Kalimantan yang rupanya sudah bagus! Jalanan mulus tak berlubang, kiri kanan jalan penuh dengan pepohonan, sesekali kita melintasi sungai besar, cuaca pun sedang bagus-bagusnya, tidak panas tidak hujan. Sekitar 3 jam kemudian, tibalah kami di kota Palangkaraya!

Berhubung agendanya memang cuma bermalam 1 hari karena besok paginya kami mengambil penerbangan ke Pontianak, tidak banyak lokasi di kota Palangkaraya yang sempat dilihat, kecuali Jembatan Kahayan yang terkenal itu. Walau sayangnya malam itu tidak ada satupun lampu yang menerangi si jembatan.

JEMBATAN KAHAYANPenampakan jembatan (kalau lampunya nyala)

Setelah muter-muter keliling kota hampir 2 jam setelah makan malam, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Perjalanan yang menyenangkan, tapi terlalu singkat….

***

Dan, tanpa disangka, ternyata saya masih bisa berpeluang kembalii ke Palangkaraya.

Setelah berbulan-bulan tidak mengutak-atik blog, kemarin saya menemukan salah satu blogger yang memberikan info tentang kompetisi Borneo Wild Adventure atau petualangan menjelajahi Kalimantan! Sungguh, saya langsung berbinar-binar membaca kompetisi ini. Apalagi, salah satu destinasinya adalah…

Palangkaraya!

Kan udah pernah, kok lagi?

Seperti yang sudah digambarkan di atas, perjalanan kemarin itu kalau boleh dibilang, kentang, alias tanggunggg. Memang sih udah sempet lihat Jembatan Kahayan yang gelap, tapi target utama saya kalau ke Palangkarya, sesungguhnya adalah untuk bertemu …

Orangutan!

Perkenalan pertama saya dengan Orangutan terjadi 3 tahun lalu, di Bali. Waktu itu, saya ditugaskan membuat promosi salah satu objek wisata alam di Bali, dimana salah satu habitat yang dilindungi adalah Orangutan. Saat sedang menyisiri taman tersebut, tibalah saya di pos Orangutan.

2012-bali-25-27-juli-2
Bali, 2012

Waktu itu saya sedang memegang kulit pisang sambil berbincang dengan salah seorang petugas. Tiba-tiba, Ayu (kanan) menghampiri dan langsung menggandeng tangan saya. Saya sempat kaget, tapi langsung sirna karena struktur tangan yang mirip membuat genggaman Orangutan persis manusia! Rupanya, dia mengajak saya untuk membuang kulit pisang itu ke tong sampah. Pintar sekali. Sejak itu, saya langsung jatuh hati dengan Orangutan.

Dan ternyata, banyak juga yang suka dengan Orangutan. Tak lama setelah perjalanan ke Bali, saya membaca tulisan salah satu blogger yang berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Si penulis bahkan menampilkan fotonya bermain dengan Orangutan yang tinggal dengan bebas di hutan. Saya semakin ingin ketemu lagi dengan Orangutan, walaupun belum kesampean sampai sekarang.

ORANG UTAN
Foto dari sini.

(Makanya, waktu membaca berita tentang Orangutan yang melarikan diri ke perkampungan karena hutan tempat mereka tinggali dibakar oleh warga, saya sempat gemes. Kok bisa, segitu teganya. =/)

Kembali ke Palangkaraya….

Menurut beberapa sumber, 75% wilayah di Palangkaraya masih terdiri dari hutan, yang berbentuk hutan lindung dan wilayah konservasi. Dari kunjungan terakhir saya itu, kota ini juga tidak padat, bahkan cenderung sepi. Perumahan juga tidak padat. Dan, betul, banyak hutan. Salah satu hutan lindung terluas di Palangkaraya adalah Hutan Lindung Tangkiling. Foto Orangutan di atas juga diambil dari lokasi ini.

Selain Tangkiling, ada juga Arboretum Nyaru Menteng seluas 65 hektar yang menjadi kawasan pelestarian ratusan jenis tumbuhan langka, dan juga berbagai jenis hewan langka seperti burung, biawak, ular, monyet.

ARBORETUM
Arboretum Nyaru Menteng, salah satu pusat konservasi alam terbesar di Kalimantan Tengah

Dengan kondisi wilayah yang seperti ini, kunjungan ke Palangkaraya tentu akan semakin menyenangkan. Tidak hanya ketemu Orangutan, kita juga bisa melihat flora dan fauna langka. Bisa menikmati pemandangan seperti ini di alam bebas (bukan di kebun binatang, atau di layar internet), tentu akan jadi kesempatan yang tidak boleh dilewatkan!

MAKANANNYA

Nggak sah kalau mampir ke tempat baru tanpa mencoba makanan khas setempat. Sayangnya, lidah saya kurang kooperatif kalau diajak mencoba makanan baru. Karena itu, kalau ke tempat makan baru, saya hampir selalu memilih menu makanan berkuah (sejenis sop atau soto), atau yang berbahan ikan, ayam, sapi, dan bukan jeroan.

Kebetulan, Palangkaraya juga punya makanan yang sepertinya akan klop dengan lidah saya.

Pertama, Soto Manggala

Foto dari sini

Soto Manggala atau soto singkong adalah makanan khas Kalimantan Tengah. Dari penjelasan beberapa tulisan yang dijumpai, rasa dari Soto Manggala hampir mirip seperti soto ayam. Bahan dasarnya adalah daging dan kaki ayam, dengan bumbu bawang putih, merica, garam, dan kaldu ayam sebagai kuahnya. Nah, yang khas dari makanan ini adalah penggunaan singkong, yang menggantikan nasi atau ketupat di soto kebanyakan. Pecinta soto seperti saya kayaknya bakalan demen sama yang ini.

Kedua, Juhu Kujang.

JUHU KUJANG (SELENDANG MAYANG)Juhu Kujang, minuman penutup khas Palangkaraya

Dalam bahasa Dayak, Juhu berarti makanan berkuah, dan Kujang berarti akar keladi. Sekilas mirip kolak, tapi dengan bahan dasar keladi dan kuah santan. Sebagai pecinta makanan kecil dan yang manis, kayaknya menu ini pas banget buat dinikmati (setelah makan soto). Hehe.

Yang terakhir, Emping Kenta atau Mangenta.

Ini adalah makanan sangat khas dari suku Dayak. Bentuknya seperti emping melinjo pada umumnya. Bahan dasar kenta adalah beras ketan yang baru dipanen. Di pedesaan, ada teknis khusus ketika menumpuk Kenta. Irama antar setiap alu yang digunakan untuk menumbuk padi di lesung harus seirama. Kalaupun nggak sempat lihat cara bikinnya, bisa mencicipi Empingnya juga sudah cukup kok. =)

BUDAYANYA

Lahir dan besar di Kalimantan, saya banyak dikelilingi dengan simbol-simbol dari suku Dayak. Rumah panjang, hiasan khas Dayak, minuman khas (tuak), mudah dijumpai di kota ini. Setiap bulan April, ada perayaan besar bernama Naik Dango atau pesta panen. Saat perayaan ini berlangsung, suku Dayak dari Pontianak dan sekitarnya, bahkan hingga dari Sarawak, Malaysia, dan Singapura, juga turut hadir. Kegiatan ini berlangsung tiga hari. Jadi, jangan heran kalau menemui macet dimana-mana saat bulan April tiba.

Palangkaraya juga punya festival yang hampir serupa. Namanya Festival Bantaran Sungai Kahayan.

festival bantaranSalah satu penampil di Festival Bantaran Sungai Kahayan tahun 2014

Sungai Kahayan adalah salah satu dari 11 sungai besar di Kalimantan Tengah. Karena tujuan utamanya adalah untuk menarik wisatawan, maka festival ini banyak menampilkan tarian, musik khas Dayak. Berita baiknya, bersumber dari salah satu situs yang saya baca, perayaan ini berlangsung sekitar bulan Agustus. Kalau jodoh, bisa deh ngelihat festival ini pas mampir di Palangkaraya. Apalagi menurut saya, berkesempatan untuk melihat festival atau budaya daerah setempat saat kita liburan adalah itinerary yang wajib dilaksanakan!

PERJALANANNYA

Meskipun besar di Pontianak, sebagian besar keluarga saya tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walaupun Pontianak dan Banjarmasin terletak di satu pulau, tidak ada penerbangan langsung yang menghubungkan kedua kota ini. Jadi, setiap ingin ke Banjarmasin, kami harus membeli 2 tiket pesawat. Pontianak – Jakarta. Jakarta – Banjarmasin. Atau lewat rute Palangkaraya yang tadi. Pulangnya pun demikian. Karena itu, dulu saya jarang sekali ke Banjarmasin, sebab tiket pesawat sekali jalan bisa mencapai 1,5 hingga 2 juta rupiah. Untungnya sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Pontianak, meskipun masih terbatas dan menggunakan pesawat kecil sehingga harus transit ke beberapa 3 – 4 kota di Kalimantan, sebelum tiba di kota tujuan.

Dan, UNTUNG-nya lagi, jalur darat Trans Kalimantan, seperti untuk rute Banjarmasin-Pontianak, sudah mulai berfungsi dengan baik. Jadi kalaupun mau naik mobil dari Banjarmasin ke Pontianak, sudah bukan masalah lagi. Kebetulan si kakak sudah menempuh perjalanan darat ini beberapa kali, dan katanya, seru! 30 jam nyampe kok. :D.

Saya ceritakan ini untuk menggambarkan bahwa rute menghampiri kota-kota di Kalimantan saat ini sudah banyak terbantu dengan pembangunan Trans Kalimantan. Dan, saya sangat mengidamkan kesempatan untuk bisa mengelilingi lebih banyak kota di Kalimantan, lewat perjalanan darat. Apalagi, sudah banyak yang bertestimoni kalau pemandangan sepanjang jalan sangat bagus. Gunung, hutan, sungai.

Apalagi (LAGI), kalau perjalanan dilakukan dengan mobil baru. Daihatsu New Terios. I’m a hundred percent sure it’s going to be a marvelous road trip!

Saya sih nggak ngerti blas urusan otomotif. Tapi menurut saya, yang paling penting dari kendaraan yang digunakan untuk perjalanan darat adalah kenyamanan dan keamanan. Untuk kenyamanan, mulai dari tempat duduk, dan AC. Untuk kedua syarat ini, New Terios sudah menjamin. Untuk kursi, tempat duduk New Daihatsu Terior menggunakan bahan fabric yang memang lebih nyaman (dibanding kulit yang biasanya lebih panas). Ada juga yang one touch tumble yang memudahkan penumpang di baris kedua dan ketiga untuk keluar atau masuk. Pendingin mobil baru yah nggak usah dipusingin lagi, pasti dinginnya masih pol-pol-an. Kenyamanan untuk kendaraan baru ini juga disempurnakan dengan setiran yang terkoneksi dengan Audio Control. Jadi, nggak perlu repot-repot memindahkan tangan untuk menikmati playlist enak selama perjalanan.

Lalu, keamanan. Daihatsu New Terios selalu mengutamakan pengamanan bagi setiap pengendaranya. Pada produknya kali ini, mobil telah dilengkapi window jam protection yang berfungsi melindungi penumpang agar tidak terjepit kaca mobil; side impact beam yang akan menjaga penumpang maupun pengemudi dari benturan yang berasal dari samping mobil. Dan satu yang menurut saya paling penting untuk Wild Adventure nanti adalah fitur GPS yang sudah terpasang di kendaraan ini. Untuk penjelajahan yang akan diadakan nanti, fitur ini pasti akan sangat berguna supaya para penumpang bisa diarahkan ke jalur yang benar. Udah nggak salah deh kalau produk ini dibilang sebagai keluaran yang stylish dan sporty!

 DAIHATSU NEW TERIOSDaihatsu New Terios, teman untuk perjalanan kita nanti.

Kalau kamu punya pengalaman serupa saya soal jalan-jalan ke Kalimantan, atau pengen bisa ikutan trip Borneo Wild Adventure ini, buruan bagi cerita kamu di sini. Untuk persyaratan dan info lebih jelas, langsung aja mampir ke situsnya. Kalau beruntung, bersiaplah untuk pengalaman seru di 7 destinasi eksotis di Pulau Kalimantan, mulai dari Palangkaraya, Kruing – Banjarmasin, Pulau Kaget dan Kandangan, Amuntai – Balikpapan, Samarinda, Tanjung Kutai, dan…. Maratua! Iya, lokasi diving yang cakep itu. Percaya deh, semua destinasi memang betul-betul eksotis, soalnya saya sudah cari tahu. Masih nggak percaya? Coba deh cek sendiri. Hehe.

***

Sebelum menutup cerita tentang Palangkaraya, ini saya ketemu lagi video kece tentang Taman Wisata Tanjung Puting yang diunggah di halaman Indonesia Tourism. Biar makin yakin kalau Palangkaraya memang one of Borneo seven wonders!

Sampai ketemu di Kalimantan!

Twitter

***

Sumber :

http://travel.kompas.com/read/2014/09/08/152400727/Mengenal.Budaya.Dayak
https://darpowibowo.files.wordpress.com/

7 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Indah betul Jembatan Kahayan itu di malam hari, lampu-lampunya mengiluminasi dan memberi efek dramatis :)). Ya, tak sah rasanya bertandang ke Kalimantan kalau tidak bercengkrama dengan satwa endemiknya, bertegur sapa dengan budayanya yang kaya dan menikmati kulinernya yang cetar membahana :hehe. Penasaran dengan Soto Manggala, dan, arboretum itu, spesiesnya pasti idaman para peneliti karena sangat asli!
    Semoga berhasil dengan lombanya ya Mbak!

    1. vinnydubidu says:

      Iya bikin penasaran juga semua daya tariknya. Tengkyu ya, Garaa. Ayo kamu ikutan jugaa. ☺️☺️

  2. Mas Oke says:

    Juha dan sotonya bikin ngences tuh, neng. Dan gw setuju perjalanan darat paling seruuu.. Baca tulisan ini jadi pengen beneran tinggal di Kalimantam deh. Hehe

    1. vinnydubidu says:

      Ayo! Kapan main-main ke siniii? (Telat banget ini baca commentnya)

      1. Mas Oke says:

        Tahun depan mungkin. Heheheuu

        1. vinnydubidu says:

          Mmm lama. Eh iya selamat Yasss sudah menempuh hidup baru! 😆😆

          1. Mas Oke says:

            Yoyoiiii.. Makasih, neng Vin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s