Belajar Belajar

HARI KE-68

“Baru kali ini gue belajar, di luar jam kampus”

Begitu ucapan salah satu teman saya di suatu siang yang cerah. Di situasi ideal, kalimat ini tentunya aneh diucapkan oleh seorang mahasiswa atau murid atau siswa. Tugas utama pelajar ya belajar. Kenapa harus aneh ketika belajar?

Hal ini sebenarnya juga saya rasakan di awal kedatangan saya ke Guangzhou. Kegiatan harian saya tidak banyak.

8 pagi – bangun
9 pagi – sekolah
12 siang – makan siang
12 siang – 6 sore – menunggu teman pulang
6 sore – makan malam
7- 12 malam – menunggu jam tidur
12 malam – tidur

Jadwal “menunggu” merupakan kegiatan paling banyak dan sering membuat bingung.

Berhubung saya tidak terbiasa tidur siang, kegiatan ini tentu tidak menjadi pilihan saya untuk menghabiskan waktu menunggu. Di awal kedatangan, jadwal ini sering saya habiskan dengan menonton film yang telah saya simpan di laptop saya. Persediaan yang saya lakukan sejak berada di Indonesia ini agaknya berguna. Setiap saya kehabisan ide untuk berbuat apa, film ini lah yang menjadi tempat pelarian saya.

Selain film, saya juga membawa satu buah buku dari Indonesia, yang saya perkirakan akan saya perlukan setibanya di Guangzhou. Kehadiran buku ini nyatanya juga sangat berguna. Sayang, hanya satu buku An Abundance of Katherine’s yang saya bawa. Karena itu, setelah satu-satunya buku John Green itu habis, saya perlu merogoh uang sekitar 400 ribu setiap bulannya untuk membeli buku di Cina. Tantangan membaca ini belum termasuk kesulitan mencari buku berbahasa Inggris di negara Cina. Bahkan toko buku terbesar di kota tempat saya tinggal pun tidak menyediakan banyak buku berbahasa Inggris. Sebagian besar buku telah diterjemahkan ke huruf Mandarin. Bukan pilihan tepat untuk saya yang baru belajar bahasa ini kurang dari 2 bulan.

Jika buku dan film gagal menolong saya, senjata berikutnya adalah berbincang singkat dengan kawan di Indonesia. Namun, kegiatan ini tentunya tidak menjadi pilihan utama mengingat kesibukan teman-teman saya. Belum lagi, seringkali saya tidak punya topik penting untuk dibicarakan, selain “bosen” atau “biasa, lagi nganggur” atau kalimat-kalimat sejenis.

**

Satu bulan berkutat dengan hal ini, pada satu hari, saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan baru. Sebenarnya pencerahan ini terjadi ketika saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan beberapa teman saya selama beberapa hari berturut-turut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berkutat dengan ide membunuh waktu, saya berkhayal.

Seandainya saya punya time deposit box, semua ini akan jadi sangat mudah.

Saya tinggal mengumpulkan semua waktu kosong yang saya miliki di sini, untuk dimasukkan ke dalam kotak tersebut.

Sebut saja , saya punya waktu 5 bulan di Cina, atau setara 150 hari.

150 hari x 11 jam ‘menunggu’ = 1.650 jam, atau setara 68 hari .

Artinya, saya punya deposit 68 hari tanpa kegiatan alias LIBUR, yang bisa saya gunakan kapanpun saya inginkan. Indahnya dunia!

Penyimpan waktu ini akan menjadi penyelamat saya ketika saya sudah kembali ke dunia kerja.. Kapanpun saya kekurangan waktu kosong, saya tinggal mengambil jatah waktu libur dari kotak tersebut, dan Hula, liburlah saya!

Khayalan ini memang tidak mungkin menjadi nyata. Tapi, kemunculannya mendatangkan perasaan baru untuk saya. Dari sudut pandang berbeda, saya mulai meyakini bahwa jatah 68 hari libur itu harus saya gunakan dengan baik selama saya berada di sini. Salah satunya dengan, belajar.

Banyak yang mengira bahwa mereka yang keturunan Tionghoa sudah otomatis fasih berbahasa Mandarin. Padahal, tidak demikian adanya. Banyak orang Tionghoa perlu belajar keras untuk berbahasa Mandarin. Sama halnya dengan warga asli Surabaya yang perlu berlatih bertahun-tahun untuk berbahasa Paris, atau warga Melayu asli yang harus disiplin untuk berbahasa Belanda dengan lancar.

Bahasa Mandarin yang dipelajari secara internasional, umumnya terbagi menjadi 3 bagian, yakni : mendengar , berbicara, dan menulis. Layaknya latihan berbahasa pada umumnya, kemampuan mendengar dan berbicara bisa ditingkatkan dengan cepat lewat praktek yang rutin. Ketika berkesempatan untuk menetap di Cina dan berinteraksi dengan penduduk lokal, kedua kegiatan ini menjadi hal yang lumrah dilakukan sehari-hari. Kemampuan keduanya pun bisa meningkat dengan cepat. Namun, perlakuan berbeda diperlukan untuk bagian menulis.

Bagi saya, menulis huruf Mandarin adalah tugas paling susah. Huruf Kanji Mandarin (seperti halnya Jepang, Korea, atau huruf selain alphabet) punya aturan yang cukup menulis. Jumlah goresan, panjang garis, urutan menulis, punya aturan baku yang harus diikuti. Meleset sedikit saja, cara baca dan arti huruf akan berbeda total.

IMG_2501Umumnya, saya harus menghafal sekitar 40 huruf baru untuk satu bab pelajaran, yang dipelajari dalam waktu 3 hari. Di hari keempat, guru akan melakukan tes mendikte untuk mengetas kemampuan kita mengingat huruf-huruf tersebut. Nilai saya untuk ujian ini boleh dibilang cukup. Hanya saja, masalahnya, setelah mempelajari 40 huruf baru di bab ke-2, saya sudah lupa dengan 40 huruf lama yang saya pelajari di bab pertama. Hal demikian terus berulang.

Kembali pada khayalan time deposit box, saya pun menanamkan niat untuk memanfaatkan 68 hari libur saya untuk belajar dengan giat, khususnya dalam rangka mengingat huruf-huruf ini. Setiap hari, saya luangkan waktu setengah hingga satu jam untuk mengulang dua bab pelajaran yang telah dipelajari pertama kali. Saya bukan pelajar teladan yang bisa menatap buku selama 1 jam penuh tanpa distraksi apapun.

Dalam 1 jam jatah belajar, saya menghabiskan kurang lebih 20 menit untuk mengecek telepon genggam saya, dan 5 menit untuk duduk bengong, atau menengadah ke luar jendela untuk menikmati angin sepoi dan kicauan burung, dan 5 menit untuk merebahkan kepala di meja belajar saya karena mengantuk. Dengan kata lain, waktu penuh untuk belajar hanya berkisar di antara 30 menit. Apakah cara belajar ini efektif? Tentu tidak!

Semasa belajar Mandarin di tanah air, karena harus menjalani kursus sembari bekerja, saya hampir tidak pernah belajar untuk ujian dikte. Kalaupun ada, tidak lebih dari 1 jam. Itupun dilakukan sebelum tidur, di atas kasur, satu malam sebelum tes digelar. Hasilnya, 15 menit belajar, lalu tertidur.

Namun, berbeda halnya dengan saat ini dimana saya merasa cukup menikmati proses belajar dengan berbagai selingan tersebut. Palnig tidak, saya tidak merasa terpaksa untuk membuat ratusan goresan dalam rangka melekatkan ratusan huruf Mandarin di otak saya. Lambat laun, saya pun mulai menikmati aktivitas menulis huruf Mandarin. Tidak hanya sekedar menulis, saya mulai menikmati kegiatan ini sebagai bagian dari berkesenian. Menulis huruf Mandarin ibarat melukis. Membuat goresan menjadi garis lurus, miring, garis panjang, pendek, titik, hingga lahirlah sebuah karakter dengan sejuta makna. Sungguh sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan.

Sejak hari itu dan seterusnya, saya mulai menikmati kegiatan belajar. 68 hari libur yang saya miliki akan berakhir masa gunanya beberapa bulan lagi. Bonus ini harus saya manfaatkan sebaik-baiknya, sebelum terbuang sia-sia.

**

Time deposit box ternyata saya bukan sekedar khayalan karena ia telah muncul dalam wujud yang lebih nyata, yaitu kesadaran dalam memanfaatkan waktu menjadi kesempatan berharga yang terlalu sayang untuk dihabiskan dengan berteriak “bosan” atau “biasa lagi nganggur…”.

IMG_4691

P1080239Everything is so finite. But don’t you think that’s what makes our times and specific moments so important? – Jessee, Before Sunrise, 1994

***

Guangzhou, 20 April 2015

5 Comments Add yours

  1. nyonyasepatu says:

    Padahal enak banget ya kalau sampai beneran ada deposit waktu

    1. vinnydubidu says:

      bener banget, Kak. sayangnya nggak mungkin kejadian. =D

  2. Gara says:

    Saya mau banget kalau ada deposit waktu. Cuma kayaknya saya tidak berpikir untuk bekerja 24 jam di hari ini supaya 2 hari ke depan bisa libur, sepertinya itu bakal cukup menyiksa :hehe.
    Huruf Tiongkok memang seperti melukis ya, kalau menurut saya, satu huruf dengan beberapa goresan itu punya satu makna. Dulu saya sewaktu belajar huruf kanji juga sempat diberi tahu kalau huruf kanji asalnya dari huruf Tiongkok, dan di aksara-aksara sederhana seperti gunung, matahari, bulan, memang berasal dari bagaimana cara orang dulu memandang benda-benda tersebut. Bagi saya itu sangat mengagumkan :hehe.

    1. vinnydubidu says:

      betul, Gara. Sungai, air, manusia, dan banyak huruf lain yang memang diadaptasii langsung dari bentuk aslinya. Keren ya. Kalau saja abjad ABCD kita juga punya cerita seperti itu, mungkin seru juga. Hehehe.

      1. Gara says:

        Iya Mbak, seru :hehe. Waduh, kalau ABC… hmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s