Acak-acakan Empat per Enam

Brazil kalah. =(

Gue bukan pendukung Brazil. Tapi melihat antusiasme pendukung, plus posisi Brazil sebagai tuan rumah, rasanya sedih aja gitu ngelihat Brazil kalah. Coba lihat wajah pendukung-pendukung Brazil, mulai dari anak kecil sampai orang gede. Sedihnya luar biasa. Pemainnya apa lagi.

slide_357336_3947710_free

slide_357336_3947701_freePhotos Of Brazil Having One Big National Sad

Namanya jadi tuan rumah, pasti motivasi buat menang gede banget. Apalagi, dengan jumlah pendukung yang segitu buanyak. Baik pemain maupun pendukung sama-sama pengen ngelihat negaranya menang.  Perasaannya mungkin mirip-mirip dengan ajang Indonesian Open bulan Juni lalu, di Jakarta.

Di kompetisi bulutangkis internasional itu, tim Indonesia gagal mengirimkan wakilnya ke babak final. Alhasil, pertandingannya yang belangsung di Istora Senayan itu menyisakan panggung untuk negara-negara lain, kecuali Indonesia. Pasca pertandingan itu, setelah membaca tulisan teman gue di sini, gue pun bisa merasakan sedihnya menjadi tuan rumah yang harus melihat kekalahan timnya.

Gue bukan pendukung Jerman. Salah satunya alasan gue lebih menggemari Jerman hanya karena wajah pelatihnya yang sangat cakep. Joachim Loaw. Dari 2010 lalu, waktu tahu ada pelatih yang tampilannya macam gitu, gue langsung inget nama si pelatih. Langsung demen. Meskipun ya demennya empat tahun sekali. Bayangin, pelatih sepak bola, keringetan, tapi attire-nya rapi begitu macam mau candle light dinner atau lamaran.

Joachim-Loew-11

Loew-hand-BM-Lifestyle-Cardiff

Nah, di awal pertandingan, gue sempet mikir, ‘wuih si Brazil nyerang mulu!’. Tapi, pikiran itu hanya bertahan pada lima menit pertama. Begitu Muller membobol gawang Brazil di menit ke-11, Jerman jadi menggila. Oper-operan bolanya di kandang Brazil mulu. Nggak heran, bisa ada empat gol dalam waktu enam menit. Dan nggak berhenti-berhenti sampai gol ketujuh.

Jadi, gue seneng apa sedih ya? Sebenarnya lebih ke sedih sih. Yah namanya juga makhluk yang lebih mengandalkan emosi. Kesedihan wajah-wajah pendukung Brazil lebih membekas di ingatan gue daripada senyuman Muller (yang gol atau nggak gol, senyum mulu).

Tapi gue salut sih sama pendukung Brazil yang masih tetap tinggal dengan perasaan harap-harap cemas untuk melihat tim mereka bertanding sampai akhir pertandingan (walaupun dari kejauhan -dari televisi, maksudnya- kayaknya ada juga yang balik). Apalagi setelah pertandingan berakhir, ada pendukung dari dua tim yang saling merangkul, ada juga pemain Jerman yang bersalaman dengan pelatih Brazil. Adem aja rasanya.

Yah, namanya pertandingan ya begitu. Loser can win, winner can lose.

Nah tinggal tunggu besok aja nih. Gue nggak memberikan dukungan untuk siapa-siapa sih. Sama seperti Jerman, referensi gue tentang yang bertanding besok hanya pemain lama Argentina, Gabriel Batistuta, yang pada jaman itu menurut gue sangat keren. Sisanya, nggak tahu lagi. Denger-denger Belanda juga mainnya kece bener ya kemarin-kemarin. Jadi bingung juga mau jagoin yang mana.

Pesan gue, untuk para pendukung tim manapun, jangan berhenti dukung tim kalian walaupun mereka kalah. (lain cerita kalau kalian taruhan ye). Coba deh ngelihat pemain-pemain itu yang udah rela kakinya disepak-sepak, tumitnya diinjek, lututnya ditendang. Pendukung macam kita-kita inilah salah satu penyemangat mereka.

Dan, untuk para pendukung Jerman, selamat tersenyum ria!

_76133815_023076430-1

***

Anyway, ada yang tahu nggak sih?

  1. Ada berapa kamera yang standby untuk mengambil setiap sudut lapangan selama pertandingan berlangsung?
  2. Itu pemain bola pola makannya gimana ya, kok kakinya bisa kuat begitu? Pengen tahu aja. (Padahal gue kepeleset dikit, tulang retak. Tendang kursi, kelingking retak. Untung gue nggak terlahir jadi pemain bola).
  3. Kalau pelatihnya teriak-teriak dari pinggir lapangan, emang pemainnya denger ya? Kan jaraknya jauh bener.
  4. Terus, pemain itu tahu dari mana kalau waktu pertandingannya udah habis, atau tinggal berapa menit? Ada jam gede gitu deket lapangan?

2 Comments Add yours

  1. nyonyasepatu says:

    aku juga sedih liat foto2nya :) padahal kan gak ngaruh secara gak nonton bola

    1. vinnydubidu says:

      Iya, Mba. Kalau nonton tu berasa beneeer sedihnya. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s