Humorous Speech

“Kemampuan public speaking macam apa itu?”.

public-speaking

Semacam ini?

Itulah hal pertama di pikiran saya saat melihat salah satu mata lomba yang diselenggarakan di IDeFest itu. Secara harafiah, humorous speech berarti pidato lucu. Pidato berarti berbicara di depan orang banyak. Tapi, pidato lucu? Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Apakah si tukang pidato harus berbicara sembari melucu, seperti seorang komik yang beraksi melakukan stand up comedy? Ah, rumit.

Namun, rasa penasaran saya lebih besar ketimbang kebingungan saya. Akhirnya setelah pertimbangan ini itu bersama dengan teman-teman Pontianak, saya putuskan untuk mendaftarkan diri di lomba yang satu ini. “Daftar dulu aja pokoknya. Gimana caranya urusan nanti”. Saya pikir, dengan mengirimkan perwakilan untuk banyak lomba, peluang daerah saya untuk bisa menang akan lebih besar. Lagipula, lomba ini sungguh lomba yang akan membawa pengalaman seru. Jadi, kenapa tidak? Begitu pikir saya waktu itu.

Susahnya melucu

Sekitar satu bulan sebelum pelaksanaan, kami menerima penjelasan detil tentang lomba yang dimaksud. Termasuk pula, contoh naskah humorous speech yang diambil dari naskah stand up comedy. Wah, apakah itu berarti keduanya sama? Iya, pikir saya waktu itu. Saya langsung mencari video stand up komik-komik Indonesia, mulai dari Soleh Solihun, Ernest Prakarsa, dan yang saya rasa komik wanita paling asyik guyonannya, Miund. Dan setelah melihat video mereka, hal pertama di benak saya adalah, 

Ternyata bikin orang ketawa itu susah.”

Untung, teman saya yang pintar, Iwan, dengan cepat mengingatkan. “Kalau speech, harusnya ada pesan. Nggak cuma ngelucu aja,” begitu katanya sore itu, di warung kopi, tempat saya, Lina, Darma (peserta lain), dan Iwan bertemu untuk membahas naskah ini.

Setelah bertukar ide sekitar 2 jam, otak saya serasa dipenuhi ilham untuk membuat naskah. Sepulangnya ke rumah, saya langsung mengetik naskah. Naskah harus diambil dari hal yang dekat dengan kita. Langsung saja saya ceritakan kisah (yang menurut saya) lucu yang semasa menjadi wartawan. Dalam waktu kurang dari 2 jam, saya kirimkan itu ke Iwan.

Keesokan harinya, naskah ini mendapatkan tanggapan. Oleh Iwan dan salah satu guru bahasa Indonesia kenamaan, naskah saya dianggap terlalu serius. Tidak cocok untuk penonton IDeFest yang notabene adalah anak gaul, alias ABG. Saya langsung kebingungan. Setengah dari otak saya merasa saya bukan lagi ABG yang mengerti apa hal lucu yang akan membuat pidato saya bisa membuat mereka tertawa. Saya terus mencari ilham, dan gagal. Menit itu, saya sungguh merindukan kepenatan saya menulis artikel berita yang tidak ada apa-apanya dibanding menulis naskah pidato yang lucu.

Berkah galau

gambar-kata-kata-galau-bijakSegalau ini? 

Hari demi hari saya lewati dengan mengamati sekitar, dan sedikit berpikir. Lalu saya ingat. Saya punya teman (yang kalau membaca tulisan ini akan sadar bahwa ia yang saya maksud haha) yang senang sekali mengupdate hal-hal galau di Path-nya. Mulai dari lagu, gambar, potongan lirik, film, komen, semuanya bernuansa galau. Dan saya yang kebetulan berada di fase serupa, sering hampir kehilangan kendali untuk tersenyum setiap kali melihat post yang ia lemparkan Path. Sungguh, kegalauannya sangat menular.

Galau. Topik ini pun langsung saya tetapkan untuk menjadi topik bahasan utama untuk naskah saya. Saya langsung ketikkan kata ‘galau’ di memo blackberry saya. Ketimbang Path, blackberry, BBM, pikir saya, akan lebih familiar untuk anak muda. Jadilah saya menulis tentang kegalauan anak muda yang dituangkan dalam BBM.

Galau versi lain adalah yang lebih ‘tertutup’. Versi ini dilakukan oleh saya dan teman-teman sesama wartawan saya. Dengan cepat, salah satu teman saya bisa merangkaikan kata-kata yang tidak ada artinya menjadi sebuah frase yang sungguh sangat menggalaukan. Contoh : “sesederhana bisa bahagia dengan dirinya”, “lebih enak makan pare daripada makan hati”, kira-kira begitu contohnya. Bukan begitu kalimat tepat yang ia lontarkan, namun saya rasa anda bisa menangkap bagaimana penggunaan ‘pare’ seketika bisa menimbulkan efek hati yang tiba-tiba sedih ketika disandingkan dengan kata lain. Galau oh galau.

Bahan lain yang saya gunakan adalah seputar diet. Sekembalinya ke Pontianak 4 bulan lalu, saya mengikrarkan diri untuk menguruskan badan. Terlebih ketika saya melihat teman saya yang badannya menjadi sangat kurus kecil setelah putus cinta. Kalau dia bisa, saya juga harus bisa. Haha, akhirnya saya diet (walaupun gagal). Perihal diet ini saya yakini akan menjadi cerita setiap wanita ‘besar’. Saya langsung bungkus topik ini.

Saat melucu

Lomba humorous speech dibagi menjadi 2 tahap. Penyisihan dan final. Tahap penyisihan dilakukan dari daerah, dengan mengirimkan video 1,5 menit plus naskah. Saya berhasil lolos penyisihan, dan melaju ke tahap final. Berbekal naskah yang sudah diperbaiki berkat kesabaran dan arahan komik Mas Mosidik, Uli, dan teman-teman lain seperti Davy, Tarno, Rica, Shanty, Julius, Benny, Junaidy, saya akhirnya mendapatkan naskah yang lebih baik (lucu dan berisi) untuk dibawakan di babak final. Koordinasi otak dan mulut saya cukup baik malam itu, sehingga apa yang saya ingat bisa saya sampaikan, minimal tidak tebata-bata. Beberapa orang tertawa atas beberapa guyonan yang saya lontarkan. “Nyessss”, begitu rasanya ketika saya mendengar suara orang tertawa apalagi bertepuk tangan.

Jeng… Jeng…

Hari pengumuman pun tiba. Ketegangan terjadi di mana-mana. Khususnya bagi tim saya, karena kami gagal memenangkan lomba video yang menjadi salah satu andalan, sekaligus satu-satunya lomba tersisa yang melaju ke babak final selain humorous speech.

Ternyata, saya dinobatkan menjadi juara 1. Antara percaya atau tidak, saya dapat juara 1. Aneh rasanya menyebut saya juara 1, mengingat kegirangan mendapat predikit juara terakhir kali saya rasakan saat duduk di bangku SD.  Itu pun juara 7 atau 8, bukan 1. Tapi ya, saya menanggggg! Yah tidak usah bohong, siapa yang tidak bangga bisa menang. Apalagi menang dengan membawa nama daerah. Yah, saya senang.

Tapi sungguhlah, kemenangan ini adalah berkah yang terjadi berkat teman-teman saya. Ijinkan saya untuk menjadi wanita yang seolah-olah baru memenangkan predikat juara Putri Indonesia.

Terima kasih banyak untuk Lina yang sudah melihat saya membuat joke garing, merekam joke yang lucu sampai nggak lucu bahkan membosankan, juga untuk Diko, Ika, Sumi, Ria, Nike, Irenne, Revy, Darma, Daniel, Jaya, Iwan, Sukir, Jobo, Tikno, dan tentu semua bapak ibu Pontianak yang sudah bersedia tertawa walaupun guyonan saya tentang lagu “Lumpuhkan Ingatanku” tidak kalian mengerti. Dukungan kalian sungguh berarti.

Dan, kalaulah ada di antara kalian yang masih bertanya-tanya “masa lo bisa ngelucu sih, Vin?”, percayalah, gue sendiri juga nggak percaya kalau curhat colongan masa galau gue ternyata bisa membuat orang tertawa.

***

Dengan kemenangan ini, saya juga ingin berterima kasih kepada Teppy yang sudah membagikan mantra “Cause one of the best ways to survive life is to laugh it up”. Betul sekali neng, penderitaan seketika menjadi sangat ringan saat bisa ditertawakan sendiri, apalagi rame-rame.

1502532_10152110786408416_68470721_n‘Mentok utak atik naskah – photo by Uli. 

1558408_10152103136794512_2129268526_n“The Day”, Megamendung 28 Desember 2013 – photo by Benz.

***

Ngomong-ngomong, sudah punya bayangan apa itu Humorous Speech? 

Humorous speech : 1) pidato yang bahannya terkait satu sama lain, dan harus memiliki pesan. Lucu hanya bonus. (arti sebenarnya dari Mas Mosidik). 2) naskah serius yang sebenarnya curhat colongan 3) curhat penuh derita yang menjadi bahan tertawaan terhebat 4) ternyata, membuat orang lain tertawa menjadi obat yang ampuh saat kamu dirundung derita. :)

9 Comments Add yours

  1. Lauren says:

    Aha! Asekkkkk

    Selamat!!!! :* :*

  2. gelda says:

    wahhh.. keren tulisannya! thanks vinny sudah berbagi.. tahun depan mau coba aahhh..

    1. vinnydubidu says:

      makasih Geldaa. Iya coba gih! Curhat curhat berhadiah di Humorous Speech. :D

  3. hendryaxwel says:

    sambutan awal dari “Year of Change” yah?

      1. hendryaxwel says:

        smoga episode baik lain – lain menyusul yah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s