Lemukutan dan Kalimantan

Dulu saya selalu berpikir kalau gambar di atas hanya bisa dilihat langsung di daerah Jawa, Bali, atau Maladewa. Tapi, ternyata di tempat saya juga bisa. Ya, di Kalimantan :)

wpid-mtf_TKDVp_395.jpg

Jembatan panjang itu adalah penghubung antara dermaga dan desa Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Di ujung jembatan, kapal motor hilir mudik menurunkan penumpang, sepeda motor, belanjaan dari kota Singkawang, dan macam-macam. Setelah berjalan di atas jembatan beralas kayu selebar 1 meter, sepanjang, hmm, panjang sekali (mungkin mencapai 50 meter), kami pun disambut gerbang selamat datang.

wpid-20130810_122913.jpg

Pemandangannya

Seklias, desa ini tampak seperti kawasan kampung di perkotaan, atau daerah pinggiran kota. Jalan setapak beralas semen, rumah-rumah kecil di kanan kiri jalan, dan anak kecil berlarian ke sana kemari, diikuti pria-pria separuh baya yang duduk di depan warung sambil bercengkerama.

Namun, jangan melanjutkan khayalan kamu lebih jauh. Tempat ini bukan kota. Kawasan ini adalah desa berlatar gunung dan hutan dan pohon nan hijau. (Maaf, saya lupa bertanya kepada warga setempat, apa nama gunung tersebut). Yang jelas, melihat tanahnya yang subur, dan iklim yang terbilang panas, konon warga kebanyakan bercocok tanam cengkeh, dan sebagian nelayan.

wpid-20130810_123146.jpg

Bedanya lagi, kampung satu ini juga berbatasan dengan pantai. Pantai dengan hiasan bebatuan aneka ukuran, semilir angin laut, serta jernihnya air yang berubah warna menjadi hijau berkat pertemuan cahaya matahari dan lumut di bebatuan. 

Ya, pandangan pertama cukup menyegarkan mata. :)

Snorkeling-nya 

Pulau Lemukutan di Kabupaten Bengkayang, boleh jadi fenomena baru di kota saya. Tempat ini menawarkan wisata snorkeling yang, jujur, tidak pernah saya bayangkan akan bisa dinikmati dari kota saya. (Bagi saya, Pontianak adalah hutan, bukan pantai hihi). Tapi, wisata itu benar adanya. Pulau Lemukutan dan wisata bawah lautnya ternyata cukup menghibur mata.

Setelah menempuh perjalanan dari Pontianak menuju Singkawang selama 3 jam, ditambah 1,5 jam ke pulau dengan kapal motor berkapasitas sekitar 30 orang dan 5 sepeda motor, kami akhirnya tiba di Pulau Lemukutan. Berbenah sekitar 2 jam, saya dan 20an teman saya menuju ke titik selam, yang menjadi target utama kunjungan kali ini.

Selama menyusuri pantai, saya sempat melihat ikan warna warni kecil yang berlalu lalang. Sialnya, sering kali, saya juga harus bertarung dengan batu tajam yang sukses menggores kaki saya. Beruntungnya, hingga tengah laut, dalamnya pantai masih akrab dengan saya yang tidak bisa berenang. Atau lebih singkatnya, setelah berjalan cukup jauh dari bibir pantai, saya masih bisa berdiri dengan mudahnya.

Tahun lalu, saya berkesempatan melakukan snorkeling pertama saya di Pantai Iboih, Sabang, Aceh. Berbekal pengalaman tersebut, harus saya akui alam bawah laut di sini tidak seindah di Sabang, atau mungkin kota lain di Indonesia yang para penggemar snorkeling sering kunjungi. Namun, bisa jadi itu karena saya belum menyelam sampai terlalu dalam. Maklum, sepanjang jalur yang saya kunjungi, saya lebih banyak berhadapan dengan batu-batu tajam dibanding ikan-ikan indah. Mungkin lain kali saya harus lebih berani menyelam ke lebih jauh untuk menikmati keindahan yang lebih mumpuni. Hihi.

Akomodasi-nya 

Akomodasi di tempat ini mungkin bisa jadi sedikit hal yang kurang pas di hati dalam kunjungan perdana saya. Bersama rombongan, kami tinggal di rumah bertingkat dua. Tidur berdempet-dempet tidak jadi masalah. Hanya saja, sayang, rumah yang disewakan kurang terawat, mulai dari ruang tamu, kamar, dapur, hingga kamar mandi. Rumahpun cukup jauh dari pantai.

Tapi, beruntung. penduduk yang menyiapkan makanan untuk kami memiliki rumah yang nyaman. Selain suguhan aneka variasi ikan (bakar, goreng, gulai), sambel belimbing, dan kacang teri goreng, tuan rumah juga sangat ramah. Apalagi, kami diperbolehkan menumpang mandi di rumahnya. Senangnya, air di sana sangat segar dan bersih! Maklum, air gunung.

wpid-20130811_065207.jpg

Rombongan teman saya yang lain menginap di rumah panggung di pinggir pantai. Kondisi rumah juga kecil. Hanya saja, memang berpapasan langsung dengan pantai. Kami sempat barbeque ikan dan sosis di pelataran pantai di depan rumah panggung ini. Seru juga! :)

Jadi…

Berwisata di kampung halaman tidak pernah menjadi tujuan saya sebelumnya yang lebih memimpikan wisata di daerah Jawa. Namun, setelah harus kembali menetap di sini, pilihan itu boleh dipertimbangkan. 

Meskipun berhadapan dengan rumah yang kurang terawat, tapi saya selalu teringat dengan sejuknya air di Lemukutan. Walau pulang dengan luka lecet di kaki kiri dan kanan, saya masih mengingat sensasi menyelam di antara bebatuan. Sesi panggang-panggangan di pinggir pantai malam itu juga terkenang jelas di ingatan.

Kembali ke Lemukutan? Kenapa tidak. :)

*siapin list wisata Kalimantan Barat yang berikutnya*

wpid-20130811_091924.jpg

wpid-20130811_143703.jpg

wpid-20130811_104645.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s