Teruntuk, abang nasi goreng

Tadinya, 

Mau ngeluh karena hujan turun seharian. Efeknya : batal cuci mobil, gagal keluar pagi, kerja tidak produktif. 

Itu tadi. 

Jakarta dan hujan berteman akrab beberapa hari ini. Dari buka mata, kerja, balik lagi ke rumah, selalu ada air yang menetes di luar. Skalanya dari yang gerimis, deras, terang tapi hujan, terang dengan sedikit air, hujan deras, kering, gerimis lagi. Dari langit terang, sampai bulan datang.

Hari ini saya memutuskan nyetir mobil ke tempat kerja. Selain menghindari hujan, saya sudah janjian dengan beberapa teman untuk menutup hari dengan sedikit keriangan di tempat karoke. Tentu, sepulangnya dari bekerja.

Rencana terlaksana dengan sempurna.

Perjalanan pulang, saya sempat bergumam karena harus melalui jalanan basah, hujan gerimis, dan sedikit macet.

Ya, saya yang menyetir mobil, sempat mengeluh.

500 meter mendekati rumah saya yang berada di gang dengan kapasitas 1,5 mobil saja, saya mengendorkan gas.

Seorang abang nasi goreng sedang mendorong gerobaknya. Ditemani lampu pompa (apa itu namanya).

Abang nasi goreng berjalan minggir waktu tahu ada mobil saya di belakang. Memberi saya kesempatan untuk melewatinya.

Setelah tiba di depan rumah. Saya tidak langsung keluar dari mobil. Ada sedikit ketakutan menghampiri, ‘jangan-jangan abang nasi goreng berkedok jualan. jangan-jangan dia membawa alat pukul, yang siap dihujamkan kepada saya’. 

Alhasil, dengan cepat saya mengunci pintu mobil. Saya menunggu si abang, melewati mobil saya. Dengan begitu, minimal saya bisa memberikan perlawanan, seandainya ada apa-apa.

Abang nasi kemudian melewati mobil saya. Berjalan pelan, mungkin menghindari jalan becek, sambil mengerahkan tenaga untuk mengabaikan hujan yang terus turun. Tak lama, gerobaknya berhenti di depan dua rumah di seberang rumah saya.

Dari kejauhan, saya melihat si abang nasi goreng bertubuh kurus dan bertopi putih itu, mengoseng kualinya. Rupanya, pemilik rumah tempat ia berhenti, memesan satu porsi nasi.

Ah, saya malu seketika.

Saya malu sempat mengeluhkan macet.

Saya malu sempat menyalahkan hujan padahal saya terlindungi.

Terakhir, saya malu sempat menyangka si abang adalah penjahat.

Dengan cepat, saya kembali memasukkan mobil saya ke dalam pagar rumah. Saya ingin segera membersihkan diri. Tak hanya dari peluh. Tapi juga dari keluh yang tak henti dirasakan sedari pagi.

Sembari berharap agar hujan segera reda, dan abang nasi goreng kembali menyiapkan nasi goreng untuk penghuni rumah berikutnya.

– Jakarta. 11.28 pm –

2 Comments Add yours

  1. Arman says:

    dont judge a book by its cover ya… :)

    mestinya ujan2 gitu enak tuh beli nasi goreng… :D

    1. vinnydubidu says:

      Iya yahh. Besok kalau hujan lagi gue beli deh nasi gorengnya. Hehehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s