Makin tua, makin…

menghadapi orang tua itu… susah susah gampang.

eh ralat deh. lebih banyak susahnya daripada gampangnya.

beberapa tahun tinggal sendiri, membuat gue cukup kikuk waktu mesti tinggal lama lagi dengan bonyok. apalagi setelah bokap sakit. karena, ternyata, mereka, banyak, berubah.

yes. BERUBAH. makin sering berantem untuk hal-hal nggak penting. ngomong sering nggak nyambung. makin mudah marah. makin mudah curhat. dan, yang pasti. makin mudah capek. terang aja sih. dad’s 73 yo, while mom is 10 years younger. means 63. tidak muda lagi. 

hal ini pun menjadi topik utama yang sering gue dan keempat kakak gue bicarakan belakangan. by BBM, diskusi langsung, atau via telepon. ada yang bilang mama yang terlalu ngotot. ada yang bilang papa yang terlalu keras. tapi, suara terdalam dari gue yang tinggal bersama mereka ini, keduanya memang sama-sama keras kepala. batu ketemu batu? jeng jeng. pecah terus deh berantemnya.

berantem versi kedua orang tua ini bukan versi garis keras pake adegan barang melayang sih. tapi tetap aja ya, suara teriakan masing-masing pihak juga cukup menggoyahkan mood.

alhasil, diskusi tentang perilaku bokap nyokap pun berakhir dengan curhatan gue. “aku pun pusing”.

tentu saja, sebagai pihak yang lebih bertenaga, secara jiwa maupun mental, gue harus mencari cara dan jalan tengah supaya situasi ini tidak berdampak luas. terutama untuk gue sendiri. bukan kenapa-kenapa. kondisi kesal, marah, dan semacamnya tak pernah berdampak baik. cukup dengan ditabrak motor sekali dan patah tulang sekali, gue sadar harus bisa meredam segala amarah dengan sadar, sebelum ada lagi …. *amit amit jabang bayi ke laut aja jauh-jauh*

setelah obrolan dengan kakak, pacar, dan diri sendiri, pagi tadi gue mendapat pencerahan sedikit.

mendengar. sepele sih kelihatannya. tapi urusan ini kadang juga yang bisa meredam masalah. bokap curhatin nyokap, dengarin aja. nyokap curhatin bokap, dengerin aja. nggak usah sok sok menasehati. dengerinnnn aja. setelah itu, pura-pura deh ngomongin yang lain. percaya nggak percaya, setelah selesai ngomongin unek-uneknya, mereka juga bisa balik nonton TV lagi, seperti tidak terjadi apa-apa. aneh memang.

kedua. biarkan. bukan berarti kalau mereka marah-marah terus gue biarin. menyambung kalimat terakhir yang ada di atas. pertengkaran semacam ini tampaknya menjadi hal yang lumrah bagi mereka berdua. walaupun, bagi kita mungkin sesuatu yang mengganggu atau urgent untuk segera diselesaikan.

bokap nyokap mungkin sadar kalau yang diperdebatkan tak akan ada jalan keluar. tapi, mereka juga nggak bisa meredam nafsu untuk sahut-sahutan satu sama lain. jadi, cukup kesadaran gue saja yang mengingatkan bahwa ini adalah fase tua yang mereka alami. termasuk di antaranya, berantem tadi. karena toh, setelahnya mereka bisa baik-baik aja. “anggap aja warna warni hidup,” begitu kira-kira komentar pacar. hmm baiklah. anggap saja seperti rainbow cake (yang belum pernah gue cicip hingga detik ini).

kalau 2 cara di atas yang baru gue sadari itu betul adanya, bisa jadi sebenarnya menghadapi orang tua bisa itu urusan gampang ya. mungkin loh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s