Seragam

sebelumnya, gue tidak pernah merasa pekerjaan yang gue lalui ini berat.

meski harus menyerahkan lebih dari 3 tulisan dengan beribu-ribu kata setiap minggu.
dengan gambaran kira-kira…

pengerjaan Senin sampai Rabu.
kumpul Kamis.
istirahat Jumat Sabtu Minggu (kalau beruntung).
(kalau buntung) istirahat Minggu saja.
terus berulang di Senin yang selanjutnya.

tapi, kurang lebih 9 bulan gue bertahan dengan itu.

walau kadang ingin mengeluh, tapi kenikmatan setelah berhasil membabat hari Kamis,
karena bertemu dengan orang-orang hebat,
mendapat cerita-cerita seru,
dan membuka mata dengan pemandangan baru,
selalu berhasil mengikis lelah yang dihadapi.

sampai tiba hari ini.
*
seperti biasa. mendapat tugas membuat profil seseorang.
buat gue, orang ini legend.
karena gue pernah bertemu dia lebih dari 10 tahun lalu (waktu SD atau SMP), dalam salah satu seminar menulis.
saat itu, gue si anak kampung dari Kalimantan begitu terpana karena bisa bertemu penulis kondang.
perasaan itu muncul dengan dahsyatnya waktu gue akan membuat tulisan tentangnya.
hari ini.

kemudian, setelah bercerita pada pacar.
dia pun berpesan,
“jangan kagum. nanti enggak bisa nanya. mending penasaran aja, nggak pake kagum”.

pesan yang gue dapat di malam antusiasme gue, tentu mental begitu saja.
‘masa gue nggak boleh kagum sama yang mau gue wawancara?’ .
aneh.

dan, tibalah hari wawancara.

setelah menempuh perjalanan berjam-jam ke Serang Timur, Banten, gue pun bertemu dengan si tokoh.
perasaan antusias tetap berkecamuk.
tapi gue mulai merasa perlu mengendalikan diri atas si kagum.

dua jam ngobrol berlangsung di antara improvisasi gue karena si tokoh berbicara penuh semangat,
sambil berjalan-jalan mengelilingi tanah seluas 3000 m2.

mendekati pukul 18.00, pembicaraan semakin diburu.
pukul 19.00, si tokoh akan dijemput oleh salah satu stasiun telivisi untuk acara malam.
sementara,
banyak pertanyaan meraung-raung minta ditanya.

untuk alasan ‘tidak enak’, ‘takut tersinggung’, mereka pun tak berhasil terucap.

gue pun pamit.
pulang.
dan.
kecewa.

tapi apa daya.

nasi telah menjadi bubur.
*
gue meniatkan diri untuk melakukan wawancara tambahan dengan beliau.

jangan berpikir kalau narsum akan tersinggung sebelum kamu nanya.” begitu pesan salah satu pimpinan di kantor dalam salah satu rapat.

atas pesan itu, gue siap menghubungi kembali si tokoh besok.

toh gue tidak ingin menyinggung siapa-siapa.

kekaguman ini harus bisa menghasilkan tulisan yang bisa berguna dan menginspirasi.
bukan jadi penghalang. ya kan?
***
dan, ngomong-ngomong.

gue sudah resmi menjadi pegawai di tempat kerja.
apa prosesinya?
2 hari ini gue sudah jadi pegawai berseragam.
tak lagi yang hitam putih seperti anak SMA yang magang di kantin kantor.

seyogiyanya orang berseragam yang ‘naik kelas’,
gue pun begitu.
naik kelas.
pelajaran nambah.
tantangan masih besar.
nilai makin susah.

pasti masih banyak sandungan semacam ini dalam 12 bulan mendatang.

tapi nggak papa deh.

toh kita kan berseragam.

pelajar.

yah memang masih belajar. :D
***

berteman dengan abjad

“kagum hanya cocok untuk idola. bukan untuk wawancara”. #belajar

3 Comments Add yours

  1. siapaaa cik tokohnya? :”)

  2. Davy says:

    just like the way you see the legend, I don’t know who he/ she is..
    that’s the way I see you, Hervinny :)

    keep goin’ and inspire me.
    and be a legend.. ..of condour heroes a.k.a Pendekar Rajawali.
    (apa si daaaavvv)

    1. vinnydubidu says:

      That’s a word, jika pujian legenda itu tulus.
      Legenda condour heroes pun aku terima.
      Eeh tapi legenda itu kan udah tua ya bokkkk? Ah kamu ah. Hahahahaha. Mari bercerita bahagia gundah gulana lagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s